Senin, 21 Desember 2015, kala itu Ibu memeluk erat saya sambil menangis. Beliau sangat bersyukur karena saya dinyatakan lulus SIMAK UI Pascasarjana di bidang Ilmu Komputer untuk Semester Genap. Sementara, Bapak masih serius membaca pernyataan kelulusan saya di layar HP. Namun, saya tahu beliau hatinya juga sangat bahagia. Ya Allah, betapa senangnya melihat orang tua saya tidak bersedih hati lagi. Saya tahu apa yang mereka rasakan selama beberapa bulan belakangan. Mereka pasti memikirkan saya yang sempat ditolak dua universitas untuk melanjutkan S2. Belum lagi hasil yang sama juga saya alami terkait pengajuan lamaran kerja saya.
Sebelum pengumuman, saya bilang dalam hati kalau nanti saya mau nonton film "Negeri van Oranje" jika saya diterima S2 di UI. Sebelumnya saya memang sudah baca novelnya. Ceritanya tentang kehidupan lima sahabat yang sedang menempuh pendidikan S2 di Belanda. Kalau saya ditolak lagi (Hattrick dong, tiga kali ditolak), ya enggak nonton. Adanya malah bikin baper nanti. Eh, alhamdulillaah Allah mengizinkan saya untuk menonton film itu. Ternyata, ini jawaban dari Allah. Padahal tadinya saya sangat berharap bisa melanjutkan S2 Matematika di dua universitas kece di Indonesia yang saya enroll. Saya sudah berusaha dan berdoa, namun Allah masih menjawab tidak. Saya banting setir melamar kerja dan Allah juga masih bilang tidak. Dan ketika saya memilih untuk mencoba mengikuti tes S2 lagi di UI dengan jurusan ilmu komputer, Allah akhirnya merestuinya.
Saya sebenarnya masih belum begitu mengerti mengapa saya diizinkan melanjutkan studi saya di bidang ilmu komputer. Padahal kalau mau, di pertengahan tahun 2015 kemarin saya bisa mendaftar untuk S2 Matematika UI. Ini soalnya perkara lokasi juga. Semenjak SMA, saya memang tidak ada interest untuk melanjutkan pendidikan ke UI karena letaknya di daerah seputaran Jakarta. Nah, saya merasa kurang percaya diri untuk bertemu dengan orang-orang yang istilahnya gaul banget. Saya takut tidak bisa beradaptasi dengan baik. Pokoknya kendalanya itu ada di diri saya sendiri. Tapi, saya pikir-pikir lagi dan berusaha tetap meyakini bahwa rencana Allah pastilah yang terbaik. Saya berpedoman pada ayat berikut:
و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا
شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ
“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan
bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah
mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al Baqarah: 216)
Saya jadi ingat di tahun 2009 lalu, saat saya masih mengikuti kuliah Bahasa Inggris di Teknokrat, Bandar Lampung. Selesai saya mempresentasikan paper saya di hadapan Mr. Budi, beliau menanyakan perihal cita-cita saya (as far as I remember). Saya jawab, "I want to combine mathematics and computer." Setelah saya diterima S2 Ilmu komputer, saya jadi mikir, apakah ini akibat perkataan saya dulu? Jadi, ternyata benar bahwa kata-kata itu adalah doa. Pantas saja Ibu saya selalu mewanti-wanti anak-anaknya agar tidak sembarangan bicara. Kalau dalam Bahasa Jawa istilahnya "mak clemong." Mudah-mudahan waktu itu saya tidak sedang salah bicara. Jawaban itu memang murni timbul dari hati yang terdalam, bahwa saya mempunyai minat di matematika dan komputer.
Jumat, 29 Januari 2016, saya mengikuti tes ujian mata kuliah matrikulasi di Ruang 2304, Fasilkom, UI. Materi yang diujikan adalah Matematika Diskrit 1 (MD1), Struktur Data dan Algoritma (SDA), Basis Data (BasDat), Sistem Operasi (OS), dan Rekayasa Perangkat Lunak (RPL). Dari kelima materi tersebut, yang pernah aku pelajari hanya MD1 dan SDA. Namun, SDA di Fasilkom ini agak berbeda dengan yang saya pelajari waktu S1 karena di sini menggunakan bahasa Java. Sedangkan, dulu saya menggunakan bahasa Jawa. Loh.. nggak ding, bahasa Pascal maksudnya.
Karena sebelum hari H, saya sudah menyurvei lokasi untuk mengikuti tes tersebut (walaupun cuma sampai lantai 2), saya jadi agak lega saat berangkat ke Fasilkom pada hari Jumat itu. Ujian akan berlangsung selama dua jam, dimulai pukul 08.30 WIB. Saya menuju lantai dua melalui jalan tanjakan berkelok, lalu duduk sebentar di kursi di depan loket sekretariat. Matahari pagi menyengat tubuhku. Saya menantikan kedatangan Mbak Cziym, anak MIK (Magister Ilmu Komputer) pertama yang saya kenal. Kami bertemu saat daftar ulang di gedung PPMT (Pusat Pelayanan Mahasiswa Terpadu) ketika sama-sama sedang menunggu giliran untuk cek berkas ijazah dan lain-lain. Mbak Cziym sangat ramah dan murah senyum. Kami jadi cepat akrab dan sering berkomunikasi via WhatsApp.
Sekitar pukul 08.15 WIB, Mbak Cziym belum juga datang. Saya memutuskan beranjak dari kursi dan langsung menuju ke depan pintu lift. Sebelumnya, saya bertanya kepada mas-mas petugas kebersihan agar saya tidak tersesat di lantai tiga. Eh, beliau malah mengantar saya dengan menggunakan lift. Sebenarnya, kalau saya tahu ada tangga, lebih pilih naik lewat tangga saja. Tapi ya sudah, namanya juga masih "anak baru". Nanti setelah ini ada cerita yang lebih awkward lagi.
Setelah berterima kasih, saya langsung keluar lift dan mencari itu ruangan 2304. Alhamdulillaah tidak susah mencarinya. Posisi ruangan itu ada di pojok kanan dari arah keluar lift. Saya lihat dari balik pintu sudah banyak mahasiswa MIK yang stand by di posisi duduk masing-masing. Setelah masuk, saya duduk di deretan kursi depan. Tak lama kemudian, Mbak Cziym akhirnya datang juga. Ia duduk sebaris dengan saya. Ujian pun berlangsung dengan suasana yang takzim.
Seminggu kemudian, hasil tes ujian mata kuliah matrikulasi diumumkan di Scele oleh PA kami. Saya tidak lulus di materi SDA, OS, dan RPL+BasDat. Sebenarnya nggak kaget sih, soalnya saya sudah prediksi bahwa hasilnya bakal begitu. Dan sepertinya memang ini yang terbaik karena saya harus memahami dasar-dasar materi kuliah di jurusan ilmu komputer terlebih dahulu. Mata kuliah matrikulasi dikenakan 0 SKS dan harus diselesaikan di dua semester pertama perkuliahan.
Jadwal kuliah perdana di kalender akademik dimulai pada Selasa, 9 Februari 2016 karena Senin adalah hari libur nasional, yaitu Tahun Baru Imlek. Sebelumnya saya sempGICat bingung bagaimana mengatur strategi untuk perkuliahan di semester 1 mengingat ada tiga mata kuliah matrikulasi yang juga harus saya selesaikan. Walaupun, memang nggak harus selesai semua di semester 1 sih. Belum lagi ada lima peminatan dimana mahasiswa S2 harus bisa fokus di salah satunya. Saya banyak berdiskusi dengan Mbak Cziym di WhatsApp tentang mata kuliah apa saja yang akan diambil dan mau ikut peminatan yang mana. Kami berdua pun masih belum bisa menentukan. Yang jelas, saya dan Mbak Cziym sama-sama akan mengikuti matrikulasi SDA dan RPL. Kami berharap bisa satu kelas nantinya.
Mata kuliah yang paling saya ingin ikuti adalah Kriptografi dan Keamanan Informasi karena saya memang punya minat yang cukup besar di bidang Kriptografi. Mata kuliah ini juga yang menjadi salah satu alasan kenapa saya berani mengambil S2 Ilmu Komputer. Namun, sayangnya waktu itu kuota kelas sudah penuh, jadi untuk sementara saya ambil mata kuliah SDA, OS, RPL, Persamaan Diferensial (PerDif), dan Metodologi Penelitian (MetPen). Saya akhirnya memilih PerDif karena itu mata kuliah matematika. Saya belum bisa mengambil risiko untuk memilih mata kuliah yang ilmu komputer banget. Kalau MetPen memang disarankan diambil di semester pertama, jadi saya masukkan ke IRS (Isian Rencana Studi). Saya tidak jadi sekelas dengan Mbak Cziym di mata kuliah SDA karena jika saya memilih kelas yang sama dengannya, yaitu SDA-D, jadwal PerDif akan "bentrok" dengan kelas SDA-D tersebut. Akhirnya saya pilih kelas SDA-A. Agak sedih juga sih, soalnya di Fasilkom belum punya kenalan selain Mbak Cziym. Tapi, alhamdulillaah yang RPL kami bisa sekelas.
Bismillaahirrahmaanirrahiim. Selasa, 9 Februari 2016, sekitar pukul 07.00 WIB saya akhirnya melangkahkan kaki menuju Fasilkom untuk mengikuti kuliah perdana saya, yaitu SDA yang akan dimulai pukul 08.00 WIB. Waktu itu saya mengenakan pakaian serba coklat dan membawa tas punggung Liverpool berwarna hitam. Saya berangkat pagi-pagi untuk mencari ruangan kelas SDA dengan kode 2.2701 yang tertera di secarik kertas jadwal kuliah yang saya bawa. Perasaan saya agak gugup dan kurang punya bayangan bagaimana rasanya kuliah di UI.
Saya mencoba beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Keluar-masuk kos harus mengunci gerbang, berjalan melewati gang kecil di balik rel, menunggu commuter line lewat yang durasinya kurang lebih tiga belas detik (belum lagi harus bersaing dengan para pengendara motor yang semrawut untuk memasuki wilayah UI), menyebrang jalan di depan halte bikun (bis kuning) Pondok Cina, menyusuri jalur sepeda yang mengarah ke Balairung kemudian tembus di Science Park sambil menikmati panorama Danau Kenanga yang menawan, belum lagi melewati Crystal of Knowledge yang merupakan gudang ilmu pengetahuannya UI, dan akhirnya tiba di fakultas tercinta. Nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?
Sesampainya di Fasilkom, saya berjalan ke depan Gedung C. Sejujurnya saya bingung harus masuk lewat mana untuk mencari ruang 2.2701. Ketika ada mahasiswa yang baru saja datang dan mau masuk lewat pintu depan Gedung C, saya pun mencegatnya (berasa mau malak :v). Memang sudah niat mau tanya saja sih, biar cepet dan langsung pergi ke "TKP." Kalau mahasiswa Fasilkom pasti tahu lah di mana saja ruangan kuliah berada, pikirku. Namun, yang saya lihat dari ekspresinya ketika saya tanya di mana letak ruangan 2.2701, dia malah juga tampak kebingungan. Duh, ternyata dia nggak tahu. Ya sudah, akhirnya dia masuk ke Gedung C. Saya pun ikutan masuk lewat situ.
Saya coba mencari orang lain yang kira-kira tahu di mana saya harus mengikuti kuliah SDA. Setelah masuk ke Gedung C, saya keluar lewat pintu lain yang ada di dalam gedung tersebut. Saya melihat meja-meja dan bangku-bangku panjang di sana. Ada seorang mahasiswi yang mengenakan hijab sedang duduk di salah satu bangku itu. Saya coba menghampiri dia dan bertanya tentang ruangan itu lagi. Nama mahasiswi itu adalah Peuy. Nah, ternyata Peuy juga kebingungan. Dia memberi tahu saya kalau digit pertama dari kode ruangan adalah kode gedung. 1 untuk gedung A, 2 untuk gedung B, dan 3 untuk gedung C. Digit kedua dari kode ruangan adalah kode lantai. 1 untuk lantai 1, 2 untuk lantai 2 dan seterusnya.
Kode yang tertera di jadwal kuliah saya sepertinya memang aneh. Kode yang semesetinya harusnya terdiri dari empat digit angka yang memang mewakili letak ruangan tersebut di gedung Fasilkom. Kalau pun kode kelas SDA yang ada di SIAKNG saya itu benar, bagaimana bisa ada ruangan di lantai 7 sedangkan Gedung B hanya terdiri dari 6 lantai? Yang bener aja, masa saya kuliah di atas atap. Outdoor class sebenernya boleh juga tuh. Well, nggak mungkin lah ya, secara ini kegiatan belajar dan mengajar yang formal. Balik lagi ke pemikiran yang logis. Peuy akhirnya menolong saya untuk mencari ruang kelas tersebut. Dia ternyata juga masih mahasiswa S1 yang baru, jadi belum terlalu hafal dengan letak-letak ruang kelas di Fasilkom.
Saya dan Peuy sempat naik turun lift, mengira-ngira di mana sebenarnya ruang 2.2701 itu. Dia sempat bertanya kepada kawan-kawannya dan mereka pun juga keheranan. Salah satu temannya yang laki-laki akhirnya menanyakan tentang kode ruangan itu ke seorang Bapak pegawai Fasilkom. Saya lupa, tapi sepertinya beliau mengira itu adalah ruangan yang ada di lantai 3 Gedung B karena setelah itu saya dan Peuy naik lift lagi menuju lantai 3. Yak, jadi ceritanya pagi itu saya benar-benar telah sukses membuat geger beberapa warga Fasilkom.
Pas sudah sampai di lantai 3, saya dan Peuy masih juga kebingungan. Akhirnya saya mencoba membuka laptop dan mengakses situs SIAKNG lagi untuk melihat kembali IRS saya. Waktu itu pertama kalinya saya menggunakan fasilitas hotspot UI dengan cara memasukkan username dan password SSO saya. Jarum jam terus berjalan dan makin mendekati pukul 08.00 WIB. Saya pun semakin panik dan takut jika nanti tidak menemukan kelasnya. Peuy melihat nama dosen SDA saya. Dia terlihat berpikir sejenak, mungkin mengingat-ingat apakah ia pernah tahu tentang beliau. Namun, sepertinya saat itu ekspresi Peuy tampak kurang yakin.
Setelah membuka kembali IRS saya di SIAKNG, ternyata ada keterangan bahwa kelas SDA-A ada di ruangan 2404. Alhamdulillaah akhirnya segala ke-awkward-an ini berakhir juga. 😅 Saya tidak panik lagi dan mengucapkan terima kasih sekali kepada Peuy yang sudah berbaik hati membantu saya. Ternyata Peuy juga akan mengikuti kelas SDA pagi itu, hanya saja kami berbeda kelas. Kelas SDA Peuy ada di lantai 3, jadi dia langsung beranjak menuju kelasnya sementara saya langsung bergegas naik lift ke lantai 4 dan menuju ruang 2404.
Ruang 2404 posisinya persis dengan ruang 2304, tempat saya mengikuti ujian mata kuliah matrikulasi. Hanya berbeda lantai saja. Waktu saya masuk ke ruang itu, dosennya belum datang. Masih sepi sekali. Awalnya saya duduk di barisan bangku belakang, tapi kemudian saya pindah ke deretan kursi agak depan, di samping mbak-mbak yang duduk paling ujung, dekat dinding. Selain pengen punya kenalan baru, saya juga lebih enak kalau dapet posisi yang nggak terlalu jauh dari papan tulis. Saya tadinya berharap bisa ngobrol dengan si mbak itu, tapi dia terlihat murung. Nggak tau deh kenapa. Ya sudah, kami diem-dieman akhirnya.
Selang waktu beberapa menit kemudian, ruang kelas mendadak ramai. Para mahasiswa berbondong-bondong datang ketika waktu beberapa menit lagi menunjukkan pukul 08.00 WIB. Saya sempat kaget. Ini bener kelas SDA kan? Saya nggak salah masuk kelas kan? Waduh, saya jadi canggung sekali. Memang sih, saya pernah baca di blog orang kalau perkuliahan mahasiswa MIK ada yang bareng dengan mahasiswa S1. Saya telat nyadar kalau saya bakal ngikut kelas SDA bareng mereka. Tiba-tiba, temannya si mbak yang tadi duduk dekat dinding datang. Dia mulai bisa terlihat semringah. Sepertinya temannya itu ingin duduk di sebelah dia, jadi saya tanya. Ternyata benar, mereka berdua ingin duduk sebelahan sehingga saya geser posisi duduk saya ke kiri jadi di sebelah tempat duduk saya yang tadi.
Jadilah saya diapit para mahasiswa S1. Dalam hati saya gelisah banget. Saya berharap menemukan teman mahasiswa MIK di kelas ini, tapi mereka pasti duduk di belakang, pikir saya. Saya agak menyesal juga sih kenapa tadi malah pindah ke depan. Saya benar-benar merasa kayak orang hilang 😟. Ya sudahlah, tak apa, seenggaknya kalau duduk di sini saya nggak terlalu kesulitan untuk membaca tulisan Pak dosen di whiteboard nanti. Pandangan mata saya lalu ke depan. Pak dosen ternyata sudah datang. Di layar juga menampilkan tulisan kuliah "Struktur Data dan Algoritma" dengan detik waktu yang terus berjalan menuju pukul 08.00 WIB. Alhamdulillaah. At least, saya nggak salah masuk kelas.
Saya agak heran dengan para mahasiswa S1 di kelas ini. Dosen sudah duduk di depan, tapi mereka masih saja ribut sekali. Malah tambah ramai. Saya lihat ke arah Pak dosen SDA, yaitu Pak Yshwp. Beliau duduk di kursinya dengan raut wajah yang muram. Pak Yshwp menyapu pandangannya ke seluruh mahasiswa yang sudah hadir di kelas itu. Ditatapnya kami satu per satu. Wah, sepertinya kuliah pagi ini bakal kacau, pikir saya. Saya tahu itu ekspresi kecewa karena saya juga merasa kurang nyaman dengan keadaan yang ribut seperti ini. Kalau dosen sudah masuk kelas, mahasiswa semestinya kan diam. Ya kalaupun memang masih mau bicara, mestinya disampaikan dengan suara yang pelan. Mungkin pikir mereka kelas belum dimulai dan suasananya juga masih awal kuliah di semester baru. Jadi, mereka yang sudah lama tidak bertemu saling bertukar cerita satu sama lain.
Waktu akhirnya tepat menunjukkan pukul 08.00 WIB. Para mahasiswa di kelas itu mulai membisu. Pak Yshwp beranjak dari tempat duduknya dan bergerak mendekati whiteboard. Beliau menulis kata "Sikap" di pojok kiri atas. Benar saja, sepertinya keributan di kelas tadi telah membuat beliau harus menyampaikan beberapa hal mengenai pentingnya memiliki sikap yang baik. "Pinter aja nggak cukup!" Katanya dengan raut wajah serius. Saya menangkap intinya bahwa sepintar apapun kita, kalau sikap kita buruk terhadap orang lain, maka kepintaran itu hanya akan menjadi sia-sia. Beliau memberikan beberapa contoh kejadian yang merupakan akibat dari seseorang yang berperilaku buruk, salah satunya mengenai kasus kopi bersianida.
Setelah berbicara mengenai sikap, Pak dosen yang memakai kemeja warna biru (sepertinya cobalt blue) itu sempat menanyakan apa sebenarnya motivasi para mahasiswa untuk mengikuti kuliah SDA. Apakah itu karena orang tua atau hal lainnya. Saya tidak terlalu ingat, tapi intinya memiliki motivasi untuk melakukan sesuatu itu adalah hal yang penting. Bahasan selanjutnya adalah mengenai pengantar kuliah SDA dan BRP (Buku Rancangan Pengajaran). BRP itu kalau di tempat saya S1 dulu istilahnya ngomongin kontrak kuliah. Hal-hal yang dibicarakan di antaranya tentang persentase nilai (tugas, ujian, praktikum, dan lain-lain), keterlambatan, sanksi, serta data-data asisten untuk mata kuliah ini.
Pak Yshwp tidak menyukai keterlambatan. Namun, beliau tetap memberikan toleransi waktu sebanyak 10 menit setelah jam 08.00 WIB untuk kedatangan mahasiswa di kelasnya. Datang di atas jam 08.10 WIB, mahasiswa dianggap terlambat. Katanya, beliau akan menghafal wajah-wajah yang suka terlambat dan tidak akan respect lagi dengan mereka. Pak Yshwp juga sempat bercerita bahwa ada temannya yang pernah diteriaki oleh seorang pengajar di Jepang dengan teriakan "Bukan manusia! (dalam bahasa Jepang)" karena terlambat. Hal ini tentu saja untuk mengingatkan para mahasiswanya untuk menghargai waktu dan pastinya... jangan membiasakan datang ter-lam-bat.
Di sela-sela perkuliahan, Pak Yshwp tiba-tiba bertanya, "Di sini ada mahasiswa matrikulasi?" Itu pertanyaan yang super bikin deg-degan. Saya gugup karena posisi duduk saya yang terlihat konyol. Tapi ya akhirnya angkat tangan juga. Saya nengok ke belakang dan ternyata benar, teman-teman seperjuangan saya pada ngumpul di situ. Untungnya Pak Yshwp waktu itu ternyata cuma mau ngasih buku absen. Karena saya yang paling depan (dan mungkin paling aneh 😑) di antara mahasiswa matrikulasi, makanya saya yang dapet buku absen duluan.
Sebelum kelas berakhir, Pak Yshwp berpesan pada mahasiswa matrikulasi untuk tidak meninggalkan ruangan terlebih dahulu selesai pertemuan pertama ini. Waktu itu kami berkumpul, duduk di hadapan beliau dan mendengarkan apa yang beliau sampaikan. Namun, ketika beliau menduga kelas 2404 itu akan dipakai dan suasana sekitar juga kembali terdengar berisik, beliau mengajak kami untuk bicara di luar kelas. Kami berkumpul di dekat tangga dan kembali mendengarkan beliau. Saya menangkap intinya adalah beliau akan menggunakan cara mengajar untuk mahasiswa S1, jadi kami harus menyesuaikan. Beliau juga menyampaikan bahwa bahasa pemrograman (Java) itu hanya untuk digunakan sebagai alat (tool) untuk mempelajari SDA. Jadi, nggak ada yang namanya kuliah khusus pemrograman Java dan sebagainya. Dari situ, saya langsung bertekad harus mempelajari Java secara otodidak, meskipun hasilnya memang bakal kurang maksimal.
Setelah Pak Yshwp berlalu dengan menuruni tangga, saya memperhatikan dua mahasiswa MIK yang tadi ikut kelas SDA. Yang satu perempuan berjilbab dan yang satu lagi laki-laki berkacamata. Mereka tampak sedang membicarakan sesuatu hal dengan serius. Saya nggak terlalu ngerti sih apa intinya, soalnya pikiran saya juga melayang ke kelas OS yang akan saya ikuti sebentar lagi. Yang saya inget si Mas bilang bahwa mau dapetin nilai C itu susah. Saya belum sempat kenalan sih waktu itu dengan teman-teman MIK di kelas SDA karena moment-nya memang kurang pas. Tapi, saya sempat minta nomor HP si Mbak yang lagi ngobrol sama si Mas berkacamata tadi. Waktu saya mau save nomor dia, saya tanya siapa namanya. Dan akhirnya saya tahu namanya adalah Xebw.
Berhubung waktu sebentar lagi akan mencapai pukul 10.00 WIB, saya mohon diri dari hadapan para mahasiswa MIK itu dan kembali memasuki ruangan 2404. Saya ternyata belum kapok duduk di bangku yang masih tergolong berada di barisan depan. Waktu itu kalau tidak salah, saya duduk di baris kedua. Baris pertama padahal belum terisi penuh. Saya nggak mau duduk paling depan kalau belum mengetahui bagaimana cara dosen menciptakan suasana mengajar di dalam kelas. Alhasil, saya kembali nyelip di antara banyaknya mahasiswa S1, tapi kali ini saya duduk di ujung dekat dinding.
Kelas OS ini mengejutkan banget. Saat Pak dosen baru saja masuk, beliau langsung membagi-bagikan kertas kecil yang berisi beberapa buah pertanyaan mengenai konversi bilangan dan sistem operasi. Saya panik dong. Luar biasa, ini baru masuk langsung main quiz aja. Kami disuruh cepat-cepat menjawab semua pertanyaan itu. Kami juga diperbolehkan menggunakan Google untuk mencari jawabannya. Ya walaupun begitu, Pak dosen pengennya kami menjawab secepat kilat. Saking paniknya, saya bahkan gagal paham maksud instruksi "Tuliskan NPM (Nomor Pokok Mahasiswa) terkanan Anda." Saya stuck di kata "terkanan". Mikir dulu sampai berdetik-detik. Yang saya permasalahkan waktu itu adalah saya membaca kata "terkanan" dengan kata dasar "terka". Lah, NPM diterka gimana? Absurd banget lah pokoknya pikiranku. Nggak mau membuang waktu, dengan polosnya saya tanya ke mahasiswa di samping saya, "Maksudnya "terkanan" itu apa ya?" Lalu dia langsung menunjuk ke angka paling kanan dari NPM saya. Parah banget deh memang.😓
Selesai mengumpulkan kertas yang sudah diisi jawaban itu, Pak dosen yang sering disapa Pak Gici itu langsung memulai materi kuliah (Beliau sebenarnya tidak suka disapa dengan "Pak Gici", jadi untuk seterusnya saya akan menulis "Pak Phjica"). Cowok-cowok yang duduk di belakang beberapa pindah duduk ke barisan paling depan. Ternyata ada mahasiswa matrikulasi yang duduk di barisan itu. Saya mengetahuinya ketika salah satu dari mereka menyerahkan buku absen kembali ke Pak Phjica. Padahal waktu itu saya belum sempat absen karena saya telat mengetahuinya bahwa buku absen itu sudah berada di tangan dia. Jadinya saya memutuskan untuk absen setelah kelas berakhir saja.
Saat memulai materi kuliah, Pak Phjica meminta seorang mahasiswa untuk menjelaskan apa hubungan antara sistem operasi dan perangkat komputer lainnya. Beliau juga sempat membuka situs Youtube dan memutar video materi kuliah sistem operasi dari Berkeley University. Beliau menghimbau kami agar menonton video tersebut sebelum mengikuti kuliah. Oh ya, ada hal penting yang harus saya ingat ketika kuliah sedang berlangsung. Beliau tidak suka jika ada mahasiswa yang nguap! Saat itu ada seorang mahasiswa yang ketahuan nguap dan beliau langsung menirukannya sambil bersuara "Hoaaam..." Beliau pernah berkata bahwa jika saja ada sepuluh mahasiswa yang menguap, beliau bisa tertidur. 😆
Ada sesi di mana waktu itu Pak Phjica menampilkan file yang berisi beberapa potret di lingkungan kampus. Foto-foto itu menggambarkan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan oleh mahasiswa. Misalnya, mahasiswa duduk-duduk sembarangan di lantai, masuk elevator dengan membawa tas ransel besar yang banyak isinya, meninggalkan botol-botol minuman di dalam kelas, dan ada juga yang membuang bungkus makanan/minuman di bak sampah, tapi bungkus tersebut masih terjepit oleh tutup bak sampahnya.
Ketika jam kuliah OS telah habis dan mahasiswa satu per satu telah meninggalkan kelas, saya coba minta buku absen ke Pak Phjica. Saya bilang kalau saya belum absen. Karena ini baru pertama kalinya saya berhadapan dengan beliau, saya cukup terkejut ketika beliau memberikan buku absen tersebut. Beliau menyuruh saya untuk menaruh buku absen itu di dekat pintu. Dan nggak tahu kenapa waktu itu beliau tampak kecewa. Saya jadi merasa bersalah sendiri. 😟 Dari situ saya mulai paham dan mencatat baik-baik dalam ingatan saya bahwa beliau tidak suka kalau buku absen yang sudah beredar ke mahasiswa ditaruh kembali di meja beliau. Dengan kata lain, setelah semua mahasiswa selesai tanda tangan, salah satu harus meletakkan buku itu di dekat pintu.
Setelah keluar dari kelas OS, saya bingung mau ke mana. Waktu itu saya sedang tidak sholat, jadi nggak nyari mushola dulu. Mau ke kantin kok males. Untuk sementara saya duduk di bangku panjang yang ada di lantai 4. Saya coba SMS Mbak Xebw, siapa tahu dia masih di kampus. Ternyata dia lagi di luar kampus. Katanya jam 4 mau balik lagi. Gagal deh punya temen ngobrol. Saya bener-bener mati gaya. Laper sih sebenernya. Akhirnya, saya coba turun ke kantin sendirian. Di sana rame banget orang pada makan siang. Saya memutuskan nggak jadi aja makannya. Jujur... ini memang terlihat paradoks sih, tapi saya memang nggak biasa berada di tempat ramai sendirian. Apalagi kalau tempat itu masih asing bagi saya.
Kelas selanjutnya adalah PerDif. Mendekati jam 13.00 WIB, saya meluncur ke lantai 6, lantai paling atas Gedung B. Kelas PerDif ada di ruang 2.2604. Pengajarnya adalah Pak Lbinqoi. Sebelum Pak Lbinqoi datang, saya sempat tanya-tanya tentang beberapa hal mengenai perkuliahan kepada salah satu mahasiswa yang juga mengambil mata kuliah itu. Dia juga mahasiswa MIK, tapi bukan masuk di periode yang sama dengan saya. Di sebelah saya juga duduk seorang mahasiswa S2 dan ternyata dia juga baru masuk di periode Februari 2016 ini. Namanya Mbak Lawg. Ketika saya mengetahui sedikit tentang dia mengenai asal sekolahnya, apa yang dia lakukan setelah lulus, dan cara dia beraktivitas di kelas, saya kagum sekali dengan dia. Saya baru sekali bertemu dengan Mbak Lawg, tetapi dia sudah memberikan inspirasi yang cukup berarti bagi saya.
Ketika kelas berlangsung, Pak dosen banyak berinteraksi dengan mahasiswa sambil memberikan pengantar mengenai persamaan diferensial. Salah satu pertanyaan beliau yang saya ingat adalah apa definisi dari "phi". Setelah para mahasiswa memberikan pendapatnya, beliau membuka isi slide satu persatu yang berisi definisi "phi" menurut beberapa tipe ilmuwan. Setelah melihat beberapa gambaran mengenai mata kuliah ini, pikiran saya langsung melayang ke pemodelan matematika. Tunggu aja, bentar lagi pasti ketemu lagi sama Lotka-Volterra. Yeah, looks like it's gonna be a nostalgic moment.
Oh ya, saya baru tahu dari Pak Lbinqoi bahwa keenam danau di UI itu jika huruf pertama dari nama-namanya digabungkan akan membentuk akronim KAMPUS. Keenam danau tersebut adalah Kenanga, Aghatis, Mahoni, Puspa, Ulin, dan Salam. Penjelasan mengenai danau-danau itu ada di website penerimaan UI, tapi saya sebelumnya belum sempat membacanya.
Keluar dari kelas PerDif, saya beranjak ke kelas terakhir, yaitu RPL. Letaknya di ruang 2.2306. Kali ini saya cukup lega karena di kelas ini saya bakal sekelas dengan Mbak Cziym. Saya tidak punya banyak cerita mengenai kelas RPL pertama saya. Intinya Pak dosen hanya menyampaikan hal-hal mengenai BRP dari mata kuliah ini. Kelas berlangsung cukup cepat karena hari ini hanya 1 SKS saja. Sebelum keluar kelas, saya dan Mbak Cziym tanda tangan terlebih dahulu sebagai tanda kehadiran di kelas.
Sore itu, usai mengikuti rangkaian perkuliahan perdana sebagai mahasiswa Fasilkom, saya dan Mbak Cziym langsung disambut dengan derai hujan. Sialnya, saya lupa bawa payung. Atau mungkin lebih tepatnya nggak kepikiran. Mana saya pengennya cepat-cepat pulang. Mood saya sudah jelek banget pokoknya. Mbak Cziym menawarkan payungnya untuk saya pakai. Tadinya saya menolak karena saya dan Mbak Cziym akan jarang bertemu. Saya takut bakal kelamaan membawa barang milik orang lain dan bahkan malah ada kemungkinan lupa untuk mengembalikannya. Namun, Mbak Cziym memaksa saya untuk membawa payungnya yang berwarna coklat muda itu. Finally, saya pun menerima kebaikannya.
Pikiran saya kacau. Saya tidak bisa bilang kalau saya baik-baik saja. Keluar dari Fasilkom rasanya mau menyerah. Saya merasa tidak mampu untuk bertahan. Hal yang paling menguatkan prasangka itu adalah kenyataan bahwa saya belum bisa ngoding. Pengetahuan saya di bidang komputer juga masih minim. Then, why on earth did I choose computer science to continue my study? Astaghfirullaah... saya mungkin benar-benar berdosa saat itu. Mengapa saya harus complain terhadap apa yang telah Allah pilihkan untuk saya? Sedangkan... saya tidak tahu apa-apa. Saya tahu mental seperti ini memang mental tempe. Nggak pantes dipelihara. Harusnya saya bisa berpikir jernih bahwa ini hanya masalah adaptasi saja.
Sesampainya di kamar kos, mood saya masih belum berubah. Saya malah ada pikiran nggak mau nerusin kuliah lagi. Bisa dibilang sudah nyaris depresi lah. Orang kenal saya sebagai orang yang pendiam (bisa dicek di buku alumni SMA saya). Ya oke, benar. Orang pendiam sebenarnya menyimpan sejuta kata yang tergembok dalam hatinya. Dan ketika sedang emosi, isi hati itu bisa jadi seperti bom waktu. Meledak begitu saja. Tumpah semua apa-apa yang sebenarnya ingin dikatakan. Tapi itu masih tetap tertahan ketika orang tua saya menelepon. Saya nggak tega bilang kalau saya nggak mampu kuliah lagi. Waktu ibu saya tanya kenapa, saya cuma bisa diam saja. Kisah hari pertama saya kuliah di Fasilkom ini mirip dengan kisahnya Judy Hopps ketika ditugaskan di kantor polisi pusat Zootopia pertama kali. Bedanya, si Judy ketika dihubungi oleh orang tuanya dan ditanya gimana hari pertamanya, dia lebih memilih berbohong untuk menutupi kesedihannya. Makanya waktu saya pertama kali nonton Zootopia, eh kok ini film nggak jauh beda sih sama yang saya alami.
Esok harinya, guess what? Saya tetap berangkat kuliah! Saya memutuskan untuk membuka lembaran baru lagi di Fasilkom. Kasihan orang tua saya kalau sampai saya beneran nekat balik ke rumah dan give up dengan apa yang harus saya perjuangkan. Lagi pula, ini saatnya saya harus kembali belajar tanggung jawab. Oke, kuliah pertama di hari kedua adalah MetPen. Kuliah akan dimulai pukul 10.00 WIB di ruang 1.1221 dengan pengajar Bapak Rvgiku. Agenda saya setelahnya adalah mengikuti acara Sarasehan untuk mahasiswa baru S2 dan S3. Baiklah, saya coba jalani.
Sebelum kelas MetPen dimulai, saya sempat berkenalan dengan mahasiswi S2 yang lain, namanya Ckj. Yang membuat saya surprised, ternyata Ckj asalnya dari Lampung juga. Dia adalah adik tingkat dari teman SMA saya di tempat S1-nya. Saya merasa Allah telah mengirimkan obat pelipur lara buat saya. Semacam nemu mata air di tengah gurun gitu deh. Waktu itu saya dan Ckj langsung bertukar nomor HP. Punya kenalan baru saja rasanya udah seneng, apalagi kalau ternyata sama-sama dari satu daerah. Saya juga sempat memperhatikan beberapa peserta kuliah yang lain, tapi saya masih belum bisa mengetahui apakah mereka mahasiswa S2 atau S3.
Waktu kelas MetPen berlangsung, Pak Rvgiku ingin kami memperkenalkan diri satu per satu. Kami menyebutkan nama dan asal kuliah S1 kami. Setelah giliran saya memperkenalkan diri, beliau tanya kenapa saya nggak lanjut di UGM aja yang deket (maksudnya deket sama UNS). Hehe, saya cuma bisa senyum. Padahal yang sebenarnya udah pernah ditolak. Ya meskipun enroll-nya bukan di jurusan ilmu komputer sih.
Lepas dari kelas MetPen, saya lihat ada pesan masuk di WA saya. Itu adalah pesan dari Mbak Xebw. Dia bertanya apakah saya sudah lihat tugas SDA atau belum. Saya jawab belum. Waktu itu saya juga belum enroll ke Scele-nya SDA karena kesulitan untuk menemukannya. Tapi akhirnya sekitar pukul empat sore saya bisa enroll juga dan berhasil men-download berkas tugas Lab 0. Tugas itu terdiri dari tiga deskripsi soal. Maksud dari soal-soal itu nantinya akan diterjemahkan ke bahasa pemrograman Java. Di dalam soal Lab 0 ini, mahasiswa belum disuruh untuk memakai struktur data tertentu. Jadi, tugas ini masih semacam me-review kuliah dasar-dasar pemrograman yang merupakan prasyarat dari mata kuliah SDA.
Sebelum masuk ke acara Sarasehan Mahasiswa Baru S2 dan S3, saya kenalan dengan temannya Ckj yang satu angkatan dan periode juga dengan saya, yaitu Unrqf. Sekarang saya lebih sering manggil dia Laayx karena nama Unrqf sudah terlalu mainstream. 😁 Saya sursprised untuk yang kedua kalinya habis kenalan sama dia. Ternyata oh ternyata, Laayx berasal dari S1 Matematika dan dia angkatan 2010 juga. Alhamdulillaah akhirnya ketemu anak matematika lain yang S2 di sini. Tapi dia keren, soalnya ujian matrikulasinya lulus semua. Setelah kenal Ckj dan Laayx, saya jadi sering-sering bareng mereka. Kami juga jadi cepat akrab akhirnya.
Saya datang ke sarasehan bersama Ckj dan Laayx. Kami duduk sejajar di sekitar baris ketiga dari depan. Mbak Lawg duduk di depan kami bertiga. Mbak Cziym tidak bisa hadir di acara itu karena ada agenda keluarga. Di acara sarasehan, bapak PA kami menjelaskan tentang program MIK dan DIK (Doktor Ilmu Komputer) secara berurutan. Kemudian ada sesi tanya jawab juga. Saya berkenalan dengan mahasiswi S2 lagi saat acara sudah selesai. Namanya Xijf. Minggu ini dia belum bisa ikut kuliah karena dia sedang mengurus resign di tempat kerjanya. Saat pengumuman hasil ujian matrikulasi, ada satu mahasiswa yang hanya mendapatkan matrikulasi OS. Mahasiswa itu adalah Xijf. Dia juga ambil kelas yang sama dengan saya. Saya berharap kami nanti bisa berusaha keras untuk menjalani kuliah OS dengan baik.
Sekitar pukul 14.54 WIB, tiba-tiba ada pesan masuk di WA. Ternyata itu adalah pesan dari grup baru di WA saya, yaitu MIK 2015/2016 GENAP. Grup ini dibuat oleh Xymu, mahasiswa S2 yang ikut kelas SDA-nya Pak Yshwp juga. Waktu itu dia ikut ngumpul di dekat tangga, tapi saya belum sempat kenal. Yang masukin saya di grup adalah Mbak Lawg. Kami sempat tukeran nomor HP di kelas PerDif. Setelah dimasukin ke grup, yaudah saya memperkenalkan diri deh. Satu per satu akhirnya saya mengetahui juga siapa teman-teman S2 saya yang masuk di periode yang sama. Lewat peristiwa hari ini, saya kembali termotivasi untuk bertahan di Fasilkom. Mudah-mudahan saya bisa dapat ilmu yang banyak nantinya.
Hari ketiga kuliah di Fasilkom, saya berkenalan dengan Mbak Huwgp dan Mbak Zaaym di kelas OS. Mereka juga angkatan 2015. Tetapi, ini sudah semester kedua mereka, sama seperti Mbak Xebw dan temannya yang berkacamata di kelas SDA itu. Saya ingat betul waktu itu kami duduk di barisan paling depan. Waktu saya pertama kenal Mbak Huwgp sebelum kuliah OS dimulai, saya langsung ngasih kabar yang cukup mengejutkan. Jadi, saya tadinya sempat buka jadwal kuliah lagi di SIAKNG. Tiba-tiba, jadwal lab OS, yang tadinya hari Kamis jam empat sore, dipindah ke hari Rabu jam empat sore. Sebelumnya saya sendiri yang panik, jangan-jangan ini saya sendiri yang baru tahu kalau kemarin anak-anak OS udah nge-lab. Untuk memastikan, sebelum masuk ke kelas, saya juga sempat tanya ke mahasiswi S1 yang sekelas dengan saya. Dia lalu membuka akun SIAKNG-nya dan ternyata ada keanehan bahwa jadwal lab di SIAKNG saya dan di tempat dia berbeda. Di tempat saya tertulis hari Rabu, sedangkan di tempat dia tetap tertulis hari Kamis.
Saya dan Mbak Huwgp sama-sama bingung. Kemudian, Mbak Zaaym datang. Saya sekalian kenalan dan minta nomor HP dia. Mbak Zaaym juga sebelumnya tidak tahu kalau jadwal lab-nya diganti. Ya akhirnya segala ketidakpastian itu kami tunda dulu untuk dipikirkan karena Pak Phjica sudah datang. Beliau lagi-lagi mengadakan kuis dadakan sebelum kuliah dimulai. Soal konversi bilangan masih dipertahankan, tapi soal berikutnya sama sekali tidak menyangkut tentang sistem operasi. Kami disuruh mengurutkan lima negara yang paling padat penduduknya. Nah, kalau ini sudah pengetahuan umum. Saya langsung keinget lagi sama serial kartun Carmen Sandiego. Si Chief pernah bilang kalau penduduk di negara India itu jumlahnya tiga kali dari penduduk Amerika Serikat (di tahun 90an lho). Tapi akhirnya ya saya jadikan pedoman aja. Hahaha. 😆 Nomor satu sudah pasti RRC. Kemudian saya isi sisanya India, Amerika Serikat, Indonesia, dan Pakistan. Ternyata saya salah di urutan kelima. Yang benar adalah Brazil, bukan Pakistan. Kalau saya search di Google nyerempet dikit lah, Brazil di nomor lima dan Pakistan di nomor enam.
Ketika kelas OS berakhir, ada seorang mahasiswa MIK yang bernama Mas Cewf datang menghadap Pak Phjica untuk menanyakan perihal perubahan jadwal lab OS. Karena penasaran dengan jawaban beliau, saya ikutan mendekat ke meja Pak Phjica. Beliau menjawab dengan ramah bahwa beliau juga kurang tahu mengapa jadwalnya bisa berganti. Entah mengapa setelah saya melihat ekspresi beliau saat itu, kesan saya terhadap beliau jadi berubah. Mungkin saya yang terlalu penakut waktu meminta buku absen di hari pertama kuliah sehingga menganggap beliau agak galak. Tapi ada sesuatu hal, entah apa itu, yang membuat saya yakin bahwa beliau adalah dosen yang menyenangkan. 😊 Anyway, kami mahasiswa matrikulasi akhirnya untuk sementara tetap mengikuti dulu kegiatan lab yang dijadwalkan pada Kamis sore. Rencananya nanti mau ditanyakan saja ke asisten.
Selanjutnya, saya makan siang bersama Mbak Huwgp di kantin Fasilkom. Itu pertama kalinya saya makan di sana. Saya ingat betul waktu itu kami memesan nasi + sayur asem + ati goreng. Cukup enak sih. Hampir sama dengan masakan ibu di rumah. Harganya juga standar mahasiswa. Begitu juga dengan harga makanan-makanan yang lain. Beberapa menu yang tersedia di kantin Fasilkom antara lain nasi goreng, nasi+sayur, soto betawi, soto daging (sapi/ayam), gado-gado, sate ayam, somay, bakso, mie ayam, dan gorengan. Kalau mau fast food, ada kedai Yoshinoya juga di sana. Di kantin Fasilkom ada himbauan bahwa setelah makan, piring-piring harap ditaruh di atas meja berwarna biru.
Saya dan Mbak Huwgp sempat ke perpus Fasilkom siang itu. Kami naik ke lantai dua, di bagian bilik. Di sana Mbak Huwgp bertemu dengan temannya yang sudah ia kenal lama di Fasilkom. Saya akhirnya kenalan dengan beliau. Ternyata beliau mengenal kakak tingkat saya di UNS dulu, yaitu Mbak Xewgx yang juga pernah menjadi mahasiswi S2 di sini. Saya tidak lama berada di perpus karena saya mau ikut Mbak Cziym ke ruang Pak Ykg, PA kami, untuk berkonsultasi. Mbak Cziym menunggu saya di depan pintu masuk Gedung C yang menghadap ke dalam. Setelah pamit ke Mbak Huwgp, saya langsung capcus turun keluar perpus, berjalan cepat menemui Mbak Cziym.
Saat sudah di depan ruang Pak Ykg, kami tidak langsung masuk karena masih ada mahasiswa yang berkonsultasi dengan beliau. Saya dan Mbak Cziym akhirnya menunggu beberapa menit. Saat sedang menunggu, ada dua senior yang datang dan ingin menemui Pak Ykg juga. Mbak Cziym kenal salah satu dari mereka. Dia memperkenalkan saya dengan si kakak itu. Saya juga sempat melemparkan senyum sapa dengan temannya. Mereka berdua hanya bermaksud untuk meminta tanda tangan Pak Ykg. Jadi, Mbak Cziym dan saya membiarkan mereka masuk duluan karena keperluannya cuma sebentar.
Di ruang Pak Ykg, Mbak Cziym curhat mengenai kemungkinan peminatan yang akan ia ambil. Ia masih bingung antara Enterprise atau Computational Intelligence. Akhirnya, Pak Ykg menjelaskan kepada kami lebih detail tentang kedua peminatan itu untuk memberikan gambaran yang lebih jelas. Kalau saya ingin lebih tahu juga tentang ketiga peminatan lainnya, jadi saya minta beliau untuk menjelaskannya juga. Saya sempat tanya sih kalau yang persoalan lampu lalu lintas itu masuknya ke peminatan yang mana. Ternyata jika ingin mengkaji topik tertentu, semuanya tergantung dengan kriteria dari peminatan itu masing-masing.
Saya juga sempat tanya ke Pak Ykg, apakah tidak bisa jika tetap memilih mata kuliah yang kuotanya sudah penuh. Saya curhat ke beliau kalau saya sebenarnya ingin ikut mata kuliah Cryptography and Information Security (CIS), tetapi sudah tidak bisa lagi karena keterbatasan kuota. Beliau sempat terkejut karena pikir beliau kuota untuk CIS masih banyak. Waktu beliau meninjau kembali, ternyata memang penuh saat itu. Alhasil, atas izin Allah dan kebijaksanaan Pak Ykg, saya bisa memasukkan mata kuliah CIS ke IRS saya. Beliau menambahkan kuota lagi di kelasnya Pak Ytten. Alhamdulillaah, saya bersyukur sekali karena Allah telah mengabulkan doa saya. Saya juga bersyukur karena jadwal lab OS pindah ke hari Rabu. Kalau lab OS tetap di Kamis sore, saya nggak bisa ikut kelas CIS walaupun kuotanya sudah ditambah. Ini karena jadwal kedua mata kuliah itu "bertabrakan". Untuk Kamis minggu ini, saya masuk ke lab OS saja dulu. Kamis minggu depan baru saya bisa ikut kelas CIS.
Berhubung ini sedang masa add-drop di mana mahasiswa bisa membatalkan untuk memilih mata kuliah yang sudah dimasukkan ke IRS, saya akhirnya meng-cancel mata kuliah PerDif dan RPL. Jadi, ada empat mata kuliah di IRS saya sekarang, yaitu SDA, OS, MetPen, dan CIS. Ini sudah saya pertimbangkan matang-matang. Tadinya saya ingin menghabiskan semua mata kuliah matrikulasi di semester awal saja. Tetapi, saya pikir-pikir lagi lebih baik jika dicicil terlebih dahulu. Oleh karena itu, RPL akan saya ambil di semester berikutnya. Nah, kenapa saya men-drop PerDif? Hehe... kalau itu rahasia. Empat matkul saja sudah cukup lah di permulaan semester ini.
Habis ashar, saya, Mbak Huwgp, dan Mas Cewf ke lab komputer di gedung A lantai 1. Sudah ramai anak S1 dan para asisten di sana yang terlihat gupek mengurusi persiapan kegiatan praktikum. Belum lagi menanggapi panggilan "Kak" di sana-sini. Maklum, para mahasiswa OS kelas A hari ini harus menyelesaikan tugas lab 0 yang kendalanya memang tidak sedikit. Sore itu saya tidak melihat Mbak Zaaym ada di lab yang sama dengan kami bertiga. Entah di mana dia. Xijf juga belum bisa hadir, padahal mahasiswa harus membentuk kelompok untuk menjalankan tugas lab. Satu kelompok terdiri dari lima orang. Akhirnya, kami berkelompok dengan tiga orang dulu saja.
Tugas lab OS ini menggunakan Linux Terminal Server Project (LTSP). Para mahasiswa harus login menggunakan SSO masing-masing. Anehnya, punya saya nggak bisa sendiri. Ketika saya coba login di Windows, ternyata bisa. Giliran buka Ubuntu, mau login gagal terus. Bingung jadinya gimana mau ngerjain tugas. Asisten juga ikut bingung. Saya agak lupa tapi sepertinya saya disarankan oleh asisten agar ke lantai 5 Gedung B untuk mengurus hal ini. Kayaknya akun saya memang belum terdaftar di server kawungnya atau apanya gitu. Tapi, waktu itu saya belum sempat langsung pergi ke lantai 5. Untuk sementara saya login dengan memakai SSO-nya Mas Cewf.
Hari pertama nge-lab untuk mata kuliah OS memang cukup menegangkan sih buatku. Gimana nggak, saya belum terbiasa mengerjakan tugas yang seperti ini. Karena benar-benar masih awam dengan Linux, saya bentar-bentar tanya deh ke Mas Cewf dan Mbak Huwgp. Pengalaman saya yang berhubungan dengan Linux sih nggak banyak. Yang saya inget dulu SMA pernah bantuin guru nginstal Ubuntu di beberapa komputer sekolah. Kalau pengalaman buat direktori dan lain-lain dari terminal belum pernah. Tapi seinget saya, kalau nggak salah, dulu pernah belajar semacam itu di SMP pakai MS-DOS. Dulu waktu SMP kan belum kenalan sama Linux. Hehe.
Langit sudah gelap saat kami selesai dengan tugas lab pertama. Saya finish paling akhir. Sempat terkendala mengenai scp, tapi alhamdulillaah dibantuin sama asisten yang pakai kacamata, yang udah mau pulang tapi masih saya repotin. 😢 Bersyukur deh, asisten OS di kelas ini pada sabar-sabar. Kalau dimintai bantuan juga menolong dengan ramah. Lepas dari menyelesaikan tugas lab pertama OS, saya meminta bantuan Mbak Huwgp. Karena sinar matahari sudah sirna dan saya nggak berani jalan sendirian dari Fasilkom dengan rute yang biasa saya tempuh, akhirnya saya nebeng naik motornya Mbak Huwgp sampai perempatan halte bikun Pondok Cina. Waktu itu saya belum tahu rute pedestrian yang lain dari Fasilkom untuk sampai ke perempatan halte tersebut (rute yang melewati Masjid Ukhuwah Islamiyah). Jadinya, saya ikut naik motornya Mbak Huwgp saja. Saya nggak akan melupakan kebaikan beliau hari itu yang telah banyak menolong saya. Mudah-mudahan Mbak Huwgp selalu dalam lindungan Allah.
Besoknya saya ikut kelas SDA lagi. Masuk pagi lagi, tapi kali ini duduk di belakang bareng anak-anak MIK lainnya. Saya sudah mulai kenal mahasiswa yang kemarin pakai kacamata. Namanya adalah Zynuv. Tadinya dia duduk di barisan agak tengah, tapi kemudian pindah duduk di sebelah kiri saya. Karena saya bukan tipe orang yang supel, apalagi sama teman laki-laki, maka waktu saya datang, saya nggak milih duduk di barisan yang sama dengan Zynuv. Padahal ya pengen kenal dia juga. Saya sering berpikir, takutnya orang salah sangka sama saya. Takutnya orang berpikir saya sombong atau apa. Padahal saya itu orangnya pemalu. Kurang pandai bersosialisasi lah kasarnya. Tapi, deep in my heart, saya itu bener-bener pengen bisa mengenal banyak orang. Apalagi kalau mereka itu adalah orang yang baik dan rendah hati. Sebenernya setelah mengenal seseorang yang seperti itu memang jadi lebih enak akhirnya, hanya memulainya saja yang lumayan susah.
Beberapa waktu kemudian, datanglah Xymu dan dia duduk di samping kanan saya. Di kelas dia buka laptop. Mungkin karena kelas ini memang bahasannya soal coding, jadinya lebih afdol kalau langsung terjun ke praktiknya. Saat itu dia belum tahu kalau saya yang namanya Anna. Hahaha. Kemudian setelah Xymu, Mbak Xebw datang. Dia duduk di sebelah Xymu. Jadilah satu deret bangku itu isinya empat mahasiswa matrikulasi. Kalau membaur seperti ini kan saya jadi nggak terasing lagi semacam isolated vertex dalam teori graf. Nggak lama kemudian akhirnya saya juga tahu kalau ternyata Mbak Xebw itu dulu S1-nya angkatan 2011. Setelah mengetahuinya saya jadi nggak manggil dia pake "Mbak" lagi. Jadi, malah dia sekarang yang manggil saya "Kak Anna."
Minggu ini ditutup dengan kegalauan maksimal ngerjain tugas lab 0 SDA. Saya nggak tahu harus mulai dari mana menuliskan kode Java untuk memecahkan ketiga persoalan itu. Ini masa di mana saya belum paham kalau penilaian tugas lab tidak mutlak berdasarkan nilai yang ditunjukkan oleh grader. Sebenarnya saat weekend, saya ingin sekali ngerjain bareng dengan Xebw, sekalian minta diajari. Sayangnya dia tiap weekend selalu pulang ke rumahnya di Bekasi. Akhirnya saya hanya bisa tanya-tanya via WA dengan dia dan Xymu juga. Saya sampai nangis di kamar mikirin tugas pertama SDA itu. Kalau sekarang ngingetnya jadi aneh campur malu gimana gitu. Kok dangkal banget pikiran saya ya. Padahal di pertemuan pertama, Pak Yshwp pernah bilang, beliau mengutip kata-kata seseorang yang kurang lebih intinya bahwa belajar pemrograman itu adalah perjalanan yang panjang. Jadi, nggak bisa mahir dalam waktu yang singkat.
And finally, hari Senin saat di lab komputer yang letaknya sama dengan lab OS hari Kamis kemarin, penyelesaian program saya dibantuin sama Kak Ploia, asisten SDA yang pinteeeer banget. Setelah saya kasih tahu kalau saya belum pernah sama sekali belajar Java, beliau menuntun saya sedikit-sedikit untuk bisa mengerjakannya. Beliau sempat menjelaskan bagaimana logika untuk menulis kodingan seperti itu sehingga bisa didapatkan output yang sesuai. Sekali lagi, alhamdulillaah. Selesai dengan urusan tugas, saya mendengarkan ketika Pak Yshwp sedang berbicara dengan Xebw. Katanya beliau sudah melihat kodingan milik Xebw. Beliau juga bilang sih kalau kami ada kesulitan, kami kirim email ke beliau saja untuk bertanya. Tapi akhirnya, sampai selesai perkuliahan, saya tidak pernah bertanya kepada beliau lewat email. Salah satu alasannya karena jika menemukan masalah dalam belajar SDA, saya biasanya akan bertanya duluan sama Google. Biar nggak ngerepotin beliau juga. Hehe.
Nah, sekarang lanjut ke kuliah CIS di hari Selasa sore. Di kelas ini ada beberapa teman yang sudah saya kenal, di antaranya Ckj, Laayx, Xebw, Xymu, Mbak Huwgp, dan kenalan baru saya yang masuk satu periode dengan Xymu dan Mbak Huwgp, yaitu Uqw. Sebelumnya saya nggak masuk selama dua pertemuan karena memang baru add mata kuliah ini hari Kamis. Tapi untungnya minggu lalu saya sempat tanya kepada Ckj mengenai kuliah kripto yang sudah dijalani. Ternyata Pak dosen sudah memberikan tugas untuk mendekripsi pesan yang dikodekan dengan Vigenere cipher dan Caesar cipher. Saya akhirnya mengerjakannya di kertas folio bergaris. Ketika ditagih di kelas, saya dan teman-teman yang lain tinggal mengumpulkan. Kemudian agenda kuliah pun dilanjutkan dengan bahasan materi selanjutnya. I'm so thankful because I was there, learnt something interesting and met a great lecturer with all of his friendliness.
Hari-hari saya kuliah di Fasilkom kemudian terus berlanjut, meninggalkan sejumlah kesan yang menyenangkan. Minggu demi minggu berlalu dan akhirnya mulai terbiasa. Tiap Senin, Selasa, dan Jumat berangkat di atas jam 7 dan sebelum jam 8. Hari Rabu dan Kamis yang agak berbeda. Di kedua hari itu saya berangkat agak siang karena masuk kuliah jam 10. Saya juga sudah tahu banyak siapa saja mahasiswa MIK, meskipun belum bisa kenal dekat dengan mereka. Mungkin karena jarang main ke Lab S2 juga sih. Saya lebih suka "nongkrong" di perpus bareng Ckj dan Laayx. Tapi nggak tentu juga selalu sama mereka. Kadang sama Xebw, kadang sama Mbak Huwgp, kadang sama Xijf, kadang juga sendirian.
Saya sering pulang bareng dengan Xebw karena dia juga pulangnya ke arah stasiun Pondok Cina dan sering selesai kuliah bareng juga. Biasanya kami pulang setelah shalat magrib karena sekalian makan malam dulu. Hari Jum'at, kalau mau pulang bareng, saya harus nungguin dia selesai kuliah sebelum waktunya para ikhwan shalat Jum'at. Saya dan Xebw juga sering kemana-mana, terutama tujuannya buat kulineran. Kami pernah makan bakso Malang di dekat Masjid Ukhuwah Islamiyah, ngelahap mi goreng super pedes di warung makan Aceh, makan Takoyaki pas di Festival Kebudayaan Korea, makan mi ayam di kantin FIB, sampai minum es duren yang seger banget di Margonda. Kami jadi banyak bertukar cerita. Sekarang sampai nanti, saya pasti bakal kangen ngobrol sama Xebw karena kami kemungkinan akan jarang bertemu di semester ganjil besok. Dia sudah mulai ambil proposal dan dia memutuskan untuk tidak ngekos lagi. Xebw itu orang yang baik, punya banyak quality story to be told, dan juga supel. Nggak heran kalau banyak orang yang senang berteman dengan dia. Hehe.
Selain Xebw, saya juga cukup dekat dengan beberapa mahasiswi MIK lainnya. Mbak Zaaym yang saya kenal di kelas OS, ternyata dia lahir di tahun yang sama dengan saya. Jadi saya sudah nggak manggil dia pakai panggilan "Mbak" lagi. Xijf yang selisih hampir satu tahun tiga bulan di atas saya malah nggak mau dipanggil "Mbak". Yaudah, saya mah ngikut aja. Zaaym dan Xijf telah mengajarkan saya banyak hal di semester satu ini. Kalau soal mandiri, mereka sudah nggak diragukan lagi karena mereka juga sudah punya pengalaman bekerja juga. Saya sering main ke kos Zaaym, tapi belum sempat sama sekali berkunjung ke kos Xijf. Mungkin karena letak kos Zaaym yang lebih dekat dengan kos saya. Waktu ada acara Thomas Cup di TV kemarin saya juga sempat nonton finalnya di kos Zaaym karena bete kalau nonton di kamar sendirian.
Mereka berdua pernah nemenin saya keliling UI. Masing-masing di dua waktu yang berbeda. Kalau sama Xijf, waktu itu di hari Jum'at, 22 April 2016. Sebelumnya kami tidak merencanakannya sama sekali. Hal itu terpikirkan setelah kami selesai menonton pertunjukan drama musikal "Malin Kundang" dalam rangka memperingati Hari Kartini di auditorium Fasilkom. Kami bersepeda dari pos spekun (sepeda kuning) yang dekat FIB, terus menyusuri jalur sepeda yang masuk ke hutan, lalu gowes lagi melewati Fasilkom, Fisip, FH, Masjid Ukhuwah Islamiyah, terus lurus mengikuti jalur, lalu belok kanan mentok di pertigaan jalan dekat Balairung. Sampai di situ saya dan Xijf belum mau balik ke Fasilkom. Kami akhirnya melanjutkan perjalanan. Kami putar arah ke perempatan halte bikun Pondok Cina lalu belok kanan. Lurus terus sampai melewati FIK, FMIPA, lalu ada jalan tanjakan yang tembus ke menara air. Kami menggowes sepeda lagi melewati bundaran di dekat rektorat, lalu masuk ke jalur sepeda yang melewati Balairung, Danau Kenanga, Science Park, hingga akhirnya finish di pos spekun Perpus UI. That was very fun! Itu adalah pengalaman pertama saya nyobain spekunnya UI dan cukup untuk melepas penat sejenak dari pikiran mengenai tugas.
Zaaym nemenin saya muterin UI waktu hari Minggu, 15 Mei 2016. Saat itu bertepatan ada tim dari NET. TV yang lagi shooting Indonesia Morning Show secara live di pelataran Perpus UI. Seneng juga sih bisa lihat langsung Kak Marissa, Kak Adrian, dan Kak Shahnaz dari dekat. Ada Teza Sumendra juga. Hehehe. Habis dari Perpus UI, kami lanjut jalan melewati FH, Fisip, terus jalan sampai singgah di FE. Saya penasaran pengen lihat langsung gedung dan taman kampusnya temen saya SMA dulu yang juga merupakan salah satu lokasi shooting-nya film 5cm. Di sana kami duduk-duduk sebentar, ambil beberapa foto, lalu lanjut jalan lagi. Setelah dari FE, kami berjalan melewati Politeknik Negeri Jakarta, danau Mahoni, dan juga stadion UI. Tidak terasa akhirnya sampai di menara air. Dari situ kami terus berjalan lewat rektorat dan balairung untuk kembali pulang.
Selain kos Zaaym, saya juga sering main ke kos Ckj dan Uqw. Lokasi kos mereka lumayan jauh dari kos saya. Lebih jauh kos Uqw dibandingkan dengan kos Ckj. Saya harus naik angkot jika ingin ke ke kos Uqw. Beberapa kali saya pernah menginap di sana. Kami sering hotspotan dan diskusi tentang tugas. Meskipun banyak sesi curhatnya juga sih. Wkwkwk. 😂 Kalau di kos Ckj saya dulu dipinjami buku tentang ilmu komputer miliknya. Sekarang yang saya bawa adalah buku tentang pemrograman Java dan Artificial Intelligence. Saya jadi ingat, waktu saya dan Ckj mau pulang bareng ke Lampung, saya menghampiri dia di kosnya. Habis isya, kami langsung berangkat ke Gambir naik KRL tujuan Juanda. Saya sengaja nggak beli tiket di pool Damri Margonda karena memang pengen pulang bareng Ckj. Hehe. Tapi.. ketika itu ada peristiwa yang cukup menyayat hati dan Ckj banyak membantu saya. Getirnya malam akhirnya menemani perjalanan pulang saya.
Makin lama kenal, makin tahu kebiasaan-kebiasaan mereka. Juga tentang apa yang mereka sukai dan apa yang tidak mereka sukai. Ada yang bahasanya pakai "gue-elo", ada juga yang bahasanya pakai "aku-kamu". Di situ kadang saya merasa bingung. Apalagi kalau lagi chatting di WA. Kadang yang sering ngomongnya "gue-elo", malah saya tanggepin pake "aku-kamu" karena lupa. Akhirnya, jadi nggak enak sendiri. Maklum, saya masih dalam masa peralihan dari kota yang berbahasa "aku-kamu", bahkan "kulo-jenengan", ke kota yang mayoritas orangnya pakai bahasa "gue-elo". Hehe.
Tanggapan anak-anak MIK terhadap saya juga bermacam-macam. Ada yang frontal bilang kalau saya orangnya "kaku", ada juga yang langsung nyeletuk bilang kalau saya orang yang introvert. Ya emang sih nggak salah. Kalau saya sendiri ngerasanya juga gitu. Hanya waktu itu saya kurang suka aja kalau di-judge di depan banyak orang. Tapi yaudah lah, ini kan negara demokrasi. Tiap-tiap orang bebas mengeluarkan pendapat. Hehe. Ada sebagian dari mereka yang nganggep saya polos juga. Ini kalau diinget sendiri agak kocak memang. Coba deh bayangin, bagaimana bisa orang sepolos saya dikasih julukan "Ketua Geng" sama cewek-cewek MIK itu. Ya kali karena saya galak, soalnya ada juga yang mengomentari saya begitu. Tapi saya senang ketika bisa membuat mereka tertawa, entah itu karena kepolosan saya atau memang lelucon saya yang benar-benar "kompor gas" kalau kata Pak Indro "Warkop". Wallahu A'lam Bishawab.
Tugas Lab SDA dan OS diberikan tiap minggu, kecuali jika di minggu tertentu ada hari libur nasionalnya. Di situlah letak gregetnya kuliah di Fasilkom. Deadline sejumlah tugas seakan nggak pernah habis. Kalender Scele udah kayak kena demam berdarah, penuh bercak merah yang terus berpindah dari satu tanggal ke tanggal yang lain. Minggu ini selesai, minggu depan ada lagi. Tentu saja dengan tingkat kesukaran soal yang makin tinggi. Saya yang sebelumnya hampir stres ngerjain tugas lab itu di minggu-minggu awal kuliah, lama-lama jadi biasa aja. Pasrah, tapi tetap berusaha ngerjain sebisanya. Antar-mahasiswa matrikulasi juga saling ngasih semangat. Apalagi di kelas OS. Itu kami berlima kerjasamanya bisa dibilang kompak banget lah. Kalau sudah mendekati hari Rabu, tugas lab pasti sudah rilis dan kami pasti mikirin apa jawaban soal yang di pdf karena itu memang bisa dikerjakan secara berkelompok. Kalau ada waktu, kita nyicil nyobain perintah-perintah tugas yang harus dikerjakan, biar hari Rabu sorenya bisa pulang cepet. Walaupun pada akhirnya sering pulang malem sih, pas mendekati deadline, karena mentok di perintah soal tertentu. Heuuu.. sedih memang. Namun, semua berubah setelah
Kalau SDA gupek soal tugas lab-nya tiap weekend. Kedua mata tertuju pada Netbeans, tapi tangan belum dapat instruksi dari otak mau ngetik apa. Temen-teman matrikulasi pada diskusi di grup WA, tapi tetap aja bingung apa yang mereka bicarakan. Alhasil saya ngoding dengan kemampuan seadanya. Modal buku karangan Mark Allen Weiss sama situs www[dot]Google[dot]com. Kalau boleh jujur, saya memang ingin bisa ngoding, memahami materi SDA, dan juga lulus. Tapi semua itu nggak bisa dipaksakan, apalagi saya adalah tipe orang yang nggak bisa cepat untuk belajar sesuatu yang baru. Sebenarnya ada asistensi bersama Kak Ploia, tapi kegiatan itu tidak berjalan secara rutin tiap minggunya. Pak Yshwp saja sampai turun tangan. Beliau menawarkan kelas review untuk para mahasiswa matrikulasi karena agak khawatir dengan hasil UTS kami nantinya setelah melihat pekerjaan tugas lab kami. Pokoknya Pak Yshwp dan Kak Ploia itu sudah banyak membantu kami. Kalau saya pribadi sampai nggak enak hati sendiri karena belum bisa menunjukkan tanda-tanda peningkatan kemampuan ngoding saya. Setelah berminggu-minggu berkutat dengan hasil yang sama, akhirnya saya menyerahkan keputusan sepenuhnya pada Yang Maha Kuasa. Kalaupun nggak lulus, saya ikhlas. Masih ada kesempatan satu kali lagi semeseter depan. Lagipula kalau terus dikeluhkan juga nggak akan mengubah apa-apa.
Dari mulai minggu kedua kuliah di Fasilkom sampai akhir, saya mencoba terus beradaptasi. Lama-lama akhirnya terbiasa dan tahu rute jalan dari satu tempat ke tempat lainnya. Berkomunikasi dengan beberapa teman dari yang tadinya terasa canggung, sekarang jadi bisa santai. Pulang di atas jam tujuh malam sudah jadi hal yang biasa. Sudah mulai tahu juga siapa-siapa pengajar hebat yang ada di Fasilkom. Di kelas OS, persepsi saya terhadap Pak Phjica ternyata memang benar-benar berubah. Beliau ternyata memang benar-benar dosen yang menyenangkan. Menurut saya, beliau itu orang yang disiplin, banyak pengetahuannya, dan sangat expert di bidang sistem operasi. Di samping itu, beliau juga sering menyelipkan suatu hal yang mengundang tawa para mahasiswa di sela-sela kuliah. Meskipun sering deg-degan juga sih kalau beliau sudah buka file pdf yang berisi kumpulan soal ujian sistem operasi tahun lalu. Kenapa? Itu tanda-tanda mahasiswa kudu berpartisipasi untuk mengerjakan soal-soal tersebut di papan tulis! Padahal lumayan loh kalau berani maju setidaknya mahasiswa yang tadinya belum paham jadi cepat mengerti karena Pak Phjica biasanya langsung mengajari cara mengerjakannya. Selain itu, dapet perhatian khusus juga bagi yang sering-sering maju. Wah.. wah.. Itulah yang membuat kuliah OS ini menjadi seru. Banyak sensasinya. Hahaha. 😆
Pak Phjica itu disiplin banget. Setahu saya datang ke kelas nggak pernah telat. Kalaupun pernah, itu paling cuma semenit dua menitan. Kalau sudah berada di kelas dan jam menunjukkan pukul 10.00 WIB, alarm di ponselnya pasti berbunyi. Semacam bunyi bel masuk sekolah pada umumnya gitu deh. "Tolong pintunya ditutup." Yak, seperti KRL yang hendak berangkat, pintu kelas mesti ditutup selama rangkaian perkuliahan berlangsung. Mahasiswa yang datang di atas jam 10.00 dilarang masuk sampai alarm itu berbunyi lagi pada pukul 10.15 WIB. Para mahasiswa yang terlambat itu akan masuk satu persatu, lalu berdiri sejajar sebentar di belakang untuk ditanya namanya, baru dipersilakan duduk. OK, mari balik lagi ke state sebelum kuliah. Untuk komputer dosen yang sedang dalam keadaan stand by, saya waktu itu pernah melihat beliau men-shut-down-nya terlebih dahulu, setelah itu baru dihidupkan kembali. Buku absen yang akan diedarkan ke mahasiswa pasti dicap tanggal kuliah hari itu. Setelah semua itu dilakukan, barulah kuliah benar-benar dimulai.
Kadang-kadang di awal kuliah beliau bertanya, “Apa acara kita hari ini?” Maksudnya materi apa yang akan dibahas pada pertemuan hari ini. Setelah itu, beliau membuka slide kuliah dan menjelaskannya. Ketika menjelaskan isi slide, beliau sering bertanya ke para peserta kuliah tentang topik terkait. Kalau menurutku sih itu untuk menguji seberapa paham materi yang sedang dibahas dan pastinya untuk ngecek apakah kami sudah aktif membaca materi tersebut atau belum di rujukan pustaka utama, yaitu buku karangan Silberschatz et al. Hal ini sepertinya agak mengecewakan beliau sih, soalnya yang aktif menjawab hanya mahasiswa yang itu-itu saja. Beliau sampai menjulukinya 4L (Lo lagi, lo lagi).
Untuk para mahasiswi, puncak ketegangan terjadi di bulan April. Mengapa? Karena di bulan ini ada Hari Kartini. Dalam menyambut Hari Kartini, Pak Phjica jadi sering mempersilakan para mahasiswi untuk berpartisipasi mengerjakan soal di papan tulis. Sebenarnya ini juga karena para mahasiswi jarang ada yang mau maju, makanya momen ini berasa pas banget. “Ayo, Ibu-ibu.” Kami para mahasiswi yang disapa “Ibu-ibu”, hanya bisa diam. Seringnya nggak ada yang berani langsung maju tanpa disuruh. Padahal ya nggak kenapa-napa. Mungkin pada takut nggak bisa ngerjain. Setelah beberapa detik kemudian nggak ada yang mau maju, Pak Phjica akhirnya menunjuk salah seorang mahasiswi, baik berdasarkan siapa yang ia amati secara langsung maupun berdasarkan ingatannya. “Ibu yang pura-pura nulis.”; “Ibu yang di baris paling belakang.”; “Libajm, mana Libajm?” Demikian segelintir contoh saat beliau meminta para mahasiswinya maju.
Saya sering senyum-senyum sendiri di kelas OS ini dan nggak jarang juga para mahasiswa tertawa riuh di sela-sela kuliah karena Pak Phjica punya kepribadian yang menyenangkan. Beliau sering melemparkan pergurauan yang istilahnya “pecah” banget lah. “Siapa pasangan dari RA Kartini?” Waktu itu padahal saya sudah berpikir keras hingga beliau memberikan jawabannya. Dan ternyata jawaban beliau adalah T.B. Simatupang. Kedua nama tersebut tak lain adalah pasangan nama jalan raya di Jakarta. Kalau ada mahasiswa/i yang menghapus tulisannya di whiteboard dengan tangannya sendiri, beliau akan bilang “(nama mahasiswa) kenalan.. Ini penghapus.” sambil mengarahkan laser presenter-nya ke benda yang dikenal dengan nama penghapus whiteboard. Menjelang UTS, beliau membuka Youtube dan memutar video tiga orang cowok menyanyikan lagu “Tinggalkan Saja” dari band Kotak di dalam mobil. Beliau pernah juga memberikan pertanyaan terkait perbandingan antara Iko Uwais di film Star Wars dan Rio Haryanto yang berhasil menembus F1. Kalau jam kuliah telah usai, beliau biasanya bakal berujar, “Tibalah kita pada saat yang berbahagia.” 😁
Berbeda dengan kelas OS, di kelas SDA suasananya lebih serius. Kami tidak boleh ribut karena Pak Yshwp tidak menyukainya. Beliau bahkan lebih mengizinkan mahasiswa tidur di kelasnya dari pada ribut. Sepertinya suasana gaduh benar-benar akan mengganggu konsentrasinya dalam mengajar dan juga takut mengganggu kenyamanan kelas sebelah. Di pertemuan terakhir, saat kelas review, beliau bahkan bertanya apakah kami pernah menghitung utilitas chatting kami.
Di cerita awal perkuliahan SDA, saya sudah menyinggung bahwa Pak Yshwp tidak suka keterlambatan. Ya, itu benar. Beliau tidak pernah terlambat dan bahkan tidak pernah tepat waktu. Jadi apa dong? Beliau selalu datang beberapa menit menjelang jam kuliah dimulai. Biasanya antara 07.45 – 07.55 WIB. Datang sebelum 07.45 WIB saja pernah. Tampaknya beliau memang orang yang sangat bersemangat dan menghargai waktu. Beliau pernah berpesan bahwa kita harus menggunakan waktu untuk hal-hal yang bermanfaat.
Kelas SDA biasanya dibuka dengan kalimat “Selamat pagi semuanya.”; “Oke, kita lanjutkan lagi ya materinya. Kemarin sudah dibahas….” dan diakhiri dengan “Dah, kuliahnya sampai di sini dulu.” Sepanjang kuliah, beliau menerangkan tentang materi kuliah di slide yang sedang dibahas, kadang juga membagi-bagikan lembaran kertas yang berisi soal latihan. Penjelasan beliau cukup detail dan mudah dimengerti, tapi temponya lumayan cepat. Saya pernah memberi saran mengenai cara mengajar beliau lewat kertas yang waktu itu sempat dibagikan menjelang UTS dan entah gimana ceritanya kertas saya terpilih untuk dibacakan dan dikomentari oleh beliau. Ini kedua kalinya pendapat saya dibacakan dan dikomentari oleh dosen setelah dulu saya pernah mengalaminya di S1. Sebenarnya, saya agak trauma karena dulu di S1 pendapat saya mendapat respon yang kurang menyenangkan.
Saya dan Xebw biasa duduk di baris kedua di sisi selatan kelas 2404 biar lebih jelas memperhatikan materi yang dijelaskan oleh Pak Yshwp. Saat perkuliahan berlangsung, beliau tidak jarang menyampaikan kata-kata yang mampu menginspirasi mahasiswanya. Salah satunya mengenai waktu (sudah saya tulis sebelumnya). Selain itu, saat beliau menyinggung tentang deadline tugas besar 2 yang tidak dimundurkan, beliau juga menyampaikan bahwa ada deadline lain yang tidak bisa dimajukan ataupun dimundurkan, yaitu mati. Hal ini sempat mengetuk kesadaran saya. Sebaiknya kita memang harus sering mengingat hal yang lebih substansial. Beliau juga mengharapkan para mahasiswanya untuk juga belajar memahami manfaat dari belajar struktur data dan algoritma, bukan hanya sekedar lulus ujian dan dapat nilai 100 saja. Kami pernah dihimbau untuk membaca buku teks disamping mempelajari isi slide. Oh ya, beliau juga menyarankan pada kami agar membaca buku-buku tentang manajemen waktu dan stress management. Selain itu, ada nasihat juga untuk banyak meminum air putih. Sebelum meninggalkan kelas, beliau selalu menghapus sendiri tulisan-tulisannya di papan tulis.
Sepertinya dua kelas itu saja yang bisa saya ceritakan agak detail karena memang dua kelas matrikulasi itu cukup berkesan. Selebihnya saya juga nyaman menjalani kuliah lainnya di Fasilkom UI. Teman-teman di sini sangat baik mengajarkan kepada saya ketika saya tidak tahu. Suasana kelas juga kondusif, bahkan waktu sedang tidak dipakai untuk kuliah, saya dan teman-teman sempat nonton bareng semifinal Thomas Cup sampai ada bapak petugas Fasilkom yang ikut nonton. Hehehe. Ya itulah jejak petualangan saya yang lain. Kalau ada yang sempat baca, semoga bisa diambil hikmahnya. Maaf juga kalau banyak salah-salah kata. Terima kasih.😊
CATATAN:
- Post ini ditulis sesuai dengan apa yang pernah saya jalani dan apa yang saya ingat selama menjadi mahasiswi MIK semester satu di Fasilkom UI.
- Nama-nama warga Fasilkom yang ada di dalam postingan ini disamarkan melalui proses enkripsi dengan menggunakan encryption algorithm yang dirahasiakan oleh penulis.

























