Aku turun di Madame Tussauds bersama beberapa turis dari Prancis. Madame Tussauds merupakan museum tempat penyimpanan patung-patung lilin dari tokoh-tokoh terkenal di dunia seperti Lady Diana Spencer, Prince William, Shah Rukh Khan, Muhammad Ali, John F. Kennedy, dan lain sebagainya. Aku begitu kagum dengan karya-karya itu. Patung-patung lilin itu benar-benar mirip dengan tokoh aslinya. Aku menyempatkan diri untuk foto bersama patung lilin dari Lady Diana Spencer karena aku sangat mengagumi mantan istri dari Pangeran Charles itu. Sayang, probabilitas untuk bertemu dengannya sudah 0% karena beliau sudah tiada akibat kecelakaan mobil di Prancis pada tahun 1997.
Setelah berkunjung ke Madame Tussauds, aku menyempatkan diri untuk mengunjungi apartemen dari tokoh fiksi kesukaanku, yaitu Sherlock Holmes Museum di Baker Street 221B. Di lantai satu aku sempat mengambil foto ruang kerja Sherlock Holmes, tempat biasa ia dan koleganya, dr. Watson menerima kliennya. Setelah itu, aku beranjak ke lantai dua, yaitu ruang tidur dr. Watson. Di lantai tiga ada patung lilin Sherlock Holmes dan beberapa tokoh fiksi lainnya yang terlibat dalam kasus cerita yang ditulis oleh Sir Arthur Conan Doyle itu.
Kunjungan ke Sherlock Holmes Museum pun berakhir. Hari sudah semakin siang. Aku melanjutkan perjalanan dengan Big Blue Tour kembali untuk beralih ke tujuan-tujuan selanjutnya, yaitu Big Ben, London Eye, Westminster Abbey, Buckingham Palace, dan Menara London. Di tempat-tempat itu aku hanya menghabiskan sedikit waktu untuk berfoto-foto. Sebenarnya aku ingin naik ke London Eye, tetapi aku takut tidak sempat untuk mengunjungi tempat wisata lainnya.
Perjalanan wisata itu pun berakhir. Tepat jam lima sore aku turun di Marble Arch. Rintik-rintik hujan mengiringi langkah kakiku menuju hotel tempat aku menginap. Aku begitu senang hari ini sehingga tak peduli hujan membasahi tubuhku. Lagi pula ini adalah air hujan di Inggris yang sebelumnya belum pernah ku sentuh sama sekali. Perjalanan berkeliling London hari ini tak akan aku lupakan. Aku harus segera istirahat di kamar hotelku dan menyiapkan energi yang penuh karena esok hari aku akan berkunjung ke Anfield, yaitu markas tim sepak bola favoritku, Liverpool FC. Perjalanan dari sini ke Anfield akan menempuh sekitar empat jam perjalanan dengan menggunakan kereta dan bus.
Ketika aku baru saja sampai di mulut hotel, tiba-tiba ada seseorang dari arah yang tidak begitu jauh dari tempat aku berdiri memanggil-manggil namaku. Suara itu tak asing bagiku dan tampak familiar ketika ia semakin menyerukan namaku. Aku memutar badan dan melihat ke sekeliling, tetapi tak menemukan sumber suara. Ini seperti kisah Sherlock Holmes yang mendapatkan ucapan selamat malam dari orang asing yang tak disangka-sangka ternyata adalah Irene Adler, seorang yang menjadi target penyelidikannya saat itu. Aku coba membalas panggilan itu dan beberapa detik kemudian ia bersuara kembali. Entah yang ku dengar benar atau tidak, tapi ia bilang dengan jelas bahwa jemuran bajuku belum diangkat. Sejak saat itu aku baru sadar bahwa aku sedang duduk di depan laptop dan aku baru saja membaca artikel-artikel tempat wisata di Inggris. Ya, yang baru saja aku lakukan adalah berwisata di dalam lamunan panjang. Kalau bukan karena suara Lina, teman satu kosku yang tadi memanggil-manggil namaku, mungkin perjalanan lamunanku sudah sampai di stadion Anfield.
Semua itu ternyata hanya sebuah khayalan belaka. Mungkin saja aku yang terlalu berobsesi untuk pergi ke Inggris dan terpesona dengan objek-objek wisatanya sehingga di dalam otakku akhirnya menampilkan bayangan tempat-tempat di Inggris yang ingin aku kunjungi. Pikiran itu seperti ruang yang di dalamnya ada sebuah proyektor untuk menampilkan sebuah film dokumenter perjalanan seorang wisatawan yang melancong ke beberapa lokasi di negara tempat tinggal Ratu Elizabeth II itu. Aku serasa benar-benar mengalaminya. Sungguh, betapa menyenangkan jika itu semua menjadi nyata.
Siapa yang tak bahagia dapat mengunjungi markas tim sepak bola favoritnya? Siapa yang tak bersuka ria dapat mengunjungi tempat-tempat wisata impiannya? Siapa yang tak senang untuk mengambil foto objek-objek wisata kesukaannya? Atau bahkan bertemu langsung dengan anggota keluarga kerajaan Inggris seperti Pangeran William? Semua itu memang menyenangkan. Namun, the initial reason yang telah memotivasiku dan memunculkan hasratku untuk dapat berada di Inggris adalah karena Bahasa Inggris yang merupakan bahasa paling fundamental di seluruh dunia. Aku sangat menyukai Bahasa Inggris sejak kecil. Aku tak tahu apa alasannya. Kata orang kalau mencintai sesuatu memang tidak butuh alasan. Tiba-tiba saja rasa suka itu muncul dari dalam hati. Pun kegemaranku dalam mempelajari Bahasa Inggris sampai saat ini belum pudar.
Harus ku akui memang bertahun-tahun sudah aku belajar Bahasa Inggris. Aku berusaha memahaminya. Namun, sampai saat ini pun aku belum fasih berbahasa Inggris. Mungkin penyebabnya adalah karena aku tidak sering menggunakan Bahasa Inggris itu sendiri untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang berada di sekitarku. Itulah yang menjadi awal mengapa aku ingin sekali pergi ke Inggris dan dapat mengetahui bagaimana rasanya berkomunikasi dengan banyak native speaker di sana.
Inggris akhirnya menjadi negara kedua yang memesona bagiku setelah Indonesia. Kekagumanku pada Inggris juga dimunculkan oleh kebiasaanku yang senang menonton English Premier League. Walau seorang perempuan, aku cukup fanatik dengan sepak bola. Mungkin ini diturunkan dari ayahku yang seorang penggemar sepak bola. Liverpool adalah klub sepak bola favoritku. To be honest, awal mulanya aku suka Liverpool karena ayahku juga pendukung Liverpool dan dulu ada pemain hebat yang bernama Michael Owen di klub itu. Aku melihat Michael Owen sebagai pemain bola yang lincah dan gesit dalam menguasai bola di lapangan.
Setelah delapan tahun Michael Owen bertahan di Liverpool, ia memutuskan untuk pindah ke Real Madrid pada tahun 2004. Kepindahan Michael Owen itu sempat membuatku sedih. Namun, aku tetap menyukai klub dengan slogan “You’ll Never Walk Alone” itu sampai sekarang. Michael Owen bukan lagi alasan mengapa aku menyukai Liverpool. Lagi-lagi aku tak tahu mengapa aku menyukainya. Ingin rasanya walau hanya sekali dalam seumur hidupku dapat memijakkan kaki di markas Liverpool, yaitu stadion Anfield. Aku ingin duduk bersama ayahku di antara ribuan liverpudlian yang dengan semangatnya mendukung Steven Gerrard dan kawan-kawan itu. Aku ingin melihat secara langsung Suarez berduet dengan Gerrard lalu mencetak gol ke gawang lawan dengan indahnya. Ah.. pasti seru sekali.
Selain gemar menonton sepak bola, aku juga suka membaca buku dan menonton film tentang detektif. Sherlock Holmes adalah detektif fiksi dari Inggris yang sangat aku sukai. Di dalam cerita yang dituliskan oleh Sir Arthur Conan Doyle, Sherlock Holmes tinggal bersama koleganya, yaitu dr. Watson di salah satu apartemen di Baker Street 221B, London, Inggris. Cerita-cerita petualangan Sherlock Holmes yang dikarang oleh Arthur Doyle begitu menarik. Salah satu petualangan yang aku suka adalah “The Adventure of the Dancing Men” dimana dalam cerita itu dikisahkan tentang seorang klien bernama Hilton Cubitt yang menemukan gambar-gambar seperti orang menari dan sangat ditakuti oleh istrinya. Yang paling aku suka dari Sherlock Holmes adalah cara ia dalam menarik suatu kesimpulan. Arthur Doyle benar-benar menggambarkan Sherlock sebagai seorang detektif yang cerdas.
Karena aku menyukai cerita Sherlock Holmes, aku ingin sekali berkunjung langsung ke markasnya di Baker Street 221B. Saat ini, tempat itu terasa begitu nyata dengan sebutan The Sherlock Holmes Museum. Aku ingin melihat secara langsung tempat di mana Sherlock Holmes tinggal dan tempat di mana ia melayani para kliennya untuk memecahkan kasus dengan penuh antusias. Selama ini aku hanya bisa melihat gambar tempat itu di internet saja. Aku ingin mengabadikan hal-hal menarik di tempat itu langsung lewat kameraku sendiri.
Selain The Sherlock Holmes museum, tempat-tempat seperti Buckingham Palace, Sungai Thames, Westminster Abbey, Universitas Oxford, Stonehenge, London Eye, Big Ben, Madame Tussauds, dan Menara London juga merupakan tempat-tempat yang tidak luput dari keinginanku untuk mengunjunginya. Sebagaimana yang telah kita ketahui selama ini bahwa tempat-tempat tersebut merupakan icon dari Inggris. Aku yakin banyak sekali orang yang tahu mengenai beberapa tempat itu dan ingin sekali mengabadikan objek-objek yang menjadi kebanggaan negara Inggris tersebut. Rasanya kurang berkesan jika pergi ke Inggris tetapi tidak mampir ke situ.
Ya begitulah salah satu impian terbesar dalam hidupku. Meskipun probabilitas untuk mengunjungi Inggris adalah 0.01%, namun itu masih dapat terjadi. Tak ada yang tak mungkin jika kita berusaha keras dan berdoa. Aku yakin suatu saat nanti pasti ada jalan untuk ke sana. Never lose hope and goodbye. :D
*Wait. Aaah aku lupa jemuran bajuku...