Selasa, 26 Juli 2016

Selasa yang Tertinggal

Tak ada yang bisa menyuap waktu untuk mengembalikan gulirannya.

Termasuk Selasa yang telah terlewati.

Ketika hariku sampai di Rabu, aku harus menanti enam hari lagi.

Namun, mungkin akan berbeda ceritanya.

Karena Selasa yang kemarin bukanlah Selasa yang seperti biasanya.

Kisah di hari itu biarlah jadi ukiran dalam sanubari.

Dan ketika aku merindukannya, biarlah aku menatap dengan mata hati.

Engkau bukan siapa-siapa.

Aku juga bukan siapa-siapa.

Siapa engkau dan siapa aku, biarlah detik waktu yang akan mengungkap.

Dan kita akan melihat,

apakah Selasa yang tertinggal kala itu adalah milik kita.



Jumat, 24 Juni 2016

Back to School!

Malam ini iseng mau membongkar memori tentang masa-masa sekolah dalam otak saya. Lebih spesifik lagi, saya mau membahas tentang beberapa hal yang telah terlewati saat saya berada di kelas 6 SD, 9 SMP, dan 12 SMA. Ketiganya menyimpan kenangan tersendiri. Banyak hal menarik yang sudah saya lalui bersama teman-teman saya. Mungkin mereka ada yang masih ingat, ada juga yang sudah lupa. Ya... nggak penting lah. Ini postingan cuma buat menghibur hati saya sendiri karena saya orangnya memang suka terjebak sama nostalgia. Halah. Ya udah, check this out!

1. Kelas 6A, SD Negeri 2 Sumberejo, Tahun Ajaran 2003/2004


Struktur kelas 6A, SDN 2 Sumberejo

Keterangan Gambar:
Trapesium kuning di pojok kanan atas: pintu kelas 6A
Persegi panjang warna hitam: papan tulis (blackboard). Dulu waktu SD masih pakai kapur.
Rounded rectangle warna hijau: tempat duduk guru.
Segiempat-segiempat yang dilabeli nomor 1-41:
tempat duduk milik (urutan berdasarkan ingatan Anna)

1. Indri Septiani                                22. Tri Ayu Puspawati
2. Siti Julaiha                                    23. Hasanah
3. Antony                                          24. M. Galih Adi Samudera
4. Adi Surya Wijaya                         25. Dino Prastio
5. Lima Putri A.                                26. Cik Oki
6. Nova Cindy Destha                      27. Agus R.
7. Kurniati                                         28. Hengki Firmansyah
8. E. A. Rian Saputra                       29. Bambang Priyono
9. Osa Saputra Pratama                  30. Imam Soleh
10. Dian Febra                                  31. Imam Bagus Sampoerna
11. KGS Abdullah Andri Nove          32. Wenny Nopriani
12. Noviliza Dwi Cahya Nandani    33. Putri Dewi Susanti
13. Vica Echi Purnamasari               34. Winda Ekawati
14. Denny Sanjaya                           35. Nurlinda
15. Apriansyah                                  36. Paramitha Darmayanti E. P.
16. Ade Pratiwi                                 37. Anna Amandha
17. Eka Purwaningrum                     38. Meylinda Silviana
18. Ana Nurjanna                            39. Astri Wulandari
19. Novia Niki Pertiwi                      40. Fitri Windari
20. Sondri Riyadi                            41. Ratna Harkitamia
21. E. Chandra Saputra
                                                           
Pengajar:
Wali kelas + super teacher = Ibu Anna Maria
Guru Bahasa Inggris = Ibu Sari
Guru Agama Islam = Alm. Ibu Kimun
Guru Olahraga = Bpk. Isnen Riyadi
Guru Prakarya = Ibu Manise
Guru Bahasa Lampung = Ibu Septi

Kelas 6 SD itu cukup mengesankan. Di Sekolah Dasar, saya bebas berekspresi. Nggak temen cewek, nggak temen cowok, kebanyakan mereka enak diajak bergaul. Namanya juga masih kecil, masih polos. Seneng aja bisa mengenal satu sama lain, main bekel, main gobak sodor, cerita-cerita tentang AFI, belajar bareng, kerja kelompok juga jalan. Malah saking rajinnya mau ngerjain tugas kelompok, ada yang pernah menghampiri saya di rumah dengan naik sepeda. Temen-temen SD pada ramah dan baik-baik. Ya... meskipun ada satu lah yang kasar, pernah ngebentak saya lagi. Suka-suka dia lah, asal dia puas aja. Doamat.

Pelajaran yang saya suka... IPS! Soalnya saya suka ngapalin nama-nama negara sama ibu kotanya. Hehehe. Seru aja, serasa bisa keliling dunia hanya dengan membaca buku IPS Terpadu. Dasarrrr, khayalan anak kelas 6 SD. Wkwkwk. Apalagi kalau habis nonton serial kartun Carmen Sandiego. Wuih, pokoknya itu kartun masa kecil yang paling keren lah. Bahkan saking kangennya sama itu kartun, saya bela-belain nonton lagi pas zaman kuliah. Banyak pengetahuan didapat dengan menontonnya. Saya baru tahu bahwa Gurun Atacama adalah gurun terkering didunia dari serial Carmen Sandiego. Saya juga mengetahui asal nama Teddy Bear itu dari Presiden Amerika ke-26, yaitu Theodore Roosevelt juga dari menonton serial kartun tersebut.

Salah satu kenangan di zaman SD yang masih saya ingat itu ketika di saat masuk dan pulang sekolah. Ketika lonceng berbunyi, bu guru masuk ke kelas, ketua kelas memberikan instruksi pada kami untuk mengucapkan salam kepada beliau. Sebelum pulang sekolah, ketua kelas memimpin kami untuk mengucapkan doa, yaitu Surah 'Al-Ashr: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.

1. Kelas 9H, SMP Negeri 4 Bandar Lampung, Tahun Ajaran 2006/2007

Struktur Kelas 9H, SMPN 4 Bandar Lampung

Keterangan Gambar:
Trapesium kuning di pojok kiri atas: pintu kelas 9H
Persegi panjang warna putih: papan tulis (whiteboard).
Rounded rectangle warna merah maroon: tempat duduk guru.
Segiempat-segiempat yang dilabeli nomor 1-40:
tempat duduk milik (urutan berdasarkan ingatan Anna)

1. Fatimah Hartati Br. Siagian            21. Siti Bella Dina Hutagalung
2. Tia Yuliawati                                   22. Annisa Fadia Nizatama
3. Aji Nuralam Dwi Sutono                23. Anna Amandha
4. Hendra Saputra                             24. Andini Fitria Hadi
5. Hani Fitria Anggraini                     25. Yenny Ramadani
6. Dian Ekawati                                 26. Noviyana Fadiela
7. Hanum Rafika                                27. Citra Eka Antika
8. Cahya Wulan                                 28. Raessa Puspita Lugayatna
9. Mia Aprina                                     29. Ayu Jufika Mutiasari
10. Rika Rizkya                                   30. Ziggy Zeirckaellaisezabrizkie
11. Indah Sri Rahayu                           31. Ayu Firda Marisca
12. Hana Fitria Azzahra                     32. Nyi Ayu Ika Pratiwi
13. Aditya Putra Pratama                   33. Franciscus Frando Sinaga
14. Aldi Setiono                                  34. Veski Zunius
15. Maisari Utami                               35. Raden Firman Aji Pratama
16. Atika Trina Sari                             36. Rizki Jauhari Indra
17. Mardhotila                                    37. Yusuf Wilman
18. Siska Harita                                  38. Ricky Darius Putra F.
19. Galuh Hesti Wulandari                 39. Mela Komalasari
20. Teta Puti Sugesti                          40. Risky Puti Anandia

Pengajar:
Wali kelas + Guru Bahasa Indonesia: Ibu Tri
Guru Matematika: Bpk. Sahala Sitompul
Guru IPA: Bpk. Immanuel
Guru Bahasa Inggris: Bpk. Sartijan
Guru Bahasa Lampung: Ibu Milan
Guru Olahraga: Bpk. Teddy
Guru Agama Islam: Bpk. Pratikno
Guru Kesenian: Ibu Paulina

Aaah.. saya selalu senang membahas kelas 9H. Bisa dibilang zaman ini adalah the best part of school experience in my life. Di sini saya banyak menjumpai guru-guru keren dan teman-teman yang menginspirasi. 

Pernah waktu itu saya sempat menamakan jalan di antara barisan tempat duduk dimana saya berada (barisan tempat duduk yang di depan meja guru) dan barisan tempat duduk di sebelahnya dengan nama "Gang Senggol". Ya itu karena sempit banget jarak antara kedua barisan itu. Alhasil, jadilah saya dan teman-teman yang duduk di sekitar jalan itu menjadi warga Gang Senggol dengan saya yang menjadi Bu RT-nya. Ada-ada aja emang.

Kami pernah diberi tugas biologi oleh guru IPA kami untuk merekam nama-nama ilmiah makhluk hidup sebanyak-banyaknya dengan menggunakan tape recorder. Jadi, kami membacakan satu-satu nama-nama itu seperti ini (tanpa vokal "strip"): Oryza sativa - padi, Anacardium occidentale - jambu monyet, Ursus maritimus - beruang kutub, dan seterusnya. Hal ini bertujuan untuk mempermudah mengingatnya jika sering didengarkan secara rutin.

Di kelas IPA Fisika, saya masuk ke regu Coulomb. Saat itu guru kami membuat konsep belajar seperti berikut. Tiap kelompok harus perform di depan kelas. Kami berpura-pura sebagai seorang fisikawan terkenal yang sedang melakukan konferensi pers. Jadi, sebelumnya kami harus menguasai materi bab yang menjadi tanggung jawab kami untuk dipelajari. Sebagai para pakar di bidang fisika, kami harus bin wajib bisa menjawab pertanyaan dari anggota kelompok lain yang seakan-akan bertindak menjadi wartawan dari berbagai penjuru daerah. Saya masih ingat dulu bagian kelompok saya adalah tentang ozon. Ada materi tentang peroksiasetilnitrat juga yang merupakan polutan sekunder berbahaya yang dihasilkan dari reaksi hidrokarbon dalam siklus fotolitik.

Saat pertunjukan drama di kelas Bahasa Indonesia, kelompokku mengusung tema horror. Kami membuat cerita tentang hantu kuntilanak. Tau nggak siapa yang jadi kuntilanaknya? Tuh yang duduk di posisi 23. Kami latihan di rumah Atika. Saya dipinjami mukena putih buat modal untuk menjadi kuntilanak yang profesional. Pas hari H, saya bener-bener kayak udah nggak kenal siapa sosok yang ada di balik cermin. Wkwkwk. Cuma agak kecewa dikit sih, di ending saya nggak bisa ketawa melengking kayak kuntilanak pada umumnya. Jadi rada maksa gimana gitu. Syukurnya penampilan kamipun mendapat apresiasi yang cukup baik dari teman-teman sekelas. :)

Kalau kelas matematika, waaa ini... Bisa dibilang guru matematika kami adalah guru favoritnya anak 9H lah. Itu buku tulis matematika anak-anak sekelas bisa bertumpuk-tumpuk karena ngerjain soal-soal latihan yang ada di buku cetak. Kami semangat karena termotivasi oleh beliau yang juga selalu semangat. Beliau itu seru, kocak, pintar mentrasfer ilmunya lewat analogi-analogi yang menarik. Kalau saya sih entah kenapa yang paling inget waktu beliau ngejelasin tentang faktorisasi persamaan kuadrat sama visualisasi fungsi kuadrat. :D Haduh.. Bapak.. Bapak.. Semoga guru-guruku selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.


1. Kelas 12 IPA 1, SMA Negeri 2 Bandar Lampung, Tahun Ajaran 2009/2010

1. Aby Hapsari                               21. Ihsan Fadilah
2. Ahmad Arbi Anindito                22. Iqbal Novramadani
3. Ahmad Muchlis Suci                  23. Muhammad Iqbal
4. Ainur Rohman                            24. Muhammad Luthfi Almer Hasan
5. Aldi Setiono                                25. Natalia Wijaya
6. Aldo Primananda Putra              26.  Nina Febriantina 
7. Alfina Maharani A. N.                27. Nisrina Hanisa
8. Alina Margono                           28. Nuradia Puspawati 
9. Anida Putri Bhakti Pertiwi           29. Putu Aditya Wisnu Permana
10. Anna Amandha                        30. Rachel Christy Pardede
11. Argayasa Gotama                      31. Rahmadianty Gazadinda
12. Ario Halik                                  32. Rizki Amy Lavita
13. Atika Trina Sari                          33. Rizki Meizikri
14. Dede Yoga Ahmadi                  34. Rizkia Diar Damayanti
15. Dhani Aditya                              35. Rosiana Aisyiyah
16. Dini Oktaria                               36. Seiva Firda Rahmania
17. Elita Riyu                                    37. Tyara Tri Adistie
18. Febrasari Almania                     38. Yosantara Putra
19. Frilly Sakina Ramadhani            39. Yulia Ferda Hening
20. Hendri Sopian                           40. Yusuf Wilman

Pengajar di 12 IPA 1:
Wali kelas + Guru Kimia: Ibu Rusmaida Sihombing
Guru Matematika: Ibu Syarifah Hanum
Guru Fisika: Bapak Hendra Putra
Guru Biologi: Ibu Usa Harwati
Guru Bahasa Indonesia: Ibu Dewi P.
Guru Bahasa Inggris: Ibu Tiermin Manurung
Guru Olahraga: Bapak Budi S.
Guru Kewarganegaraan: Bapak Aminuddin
Guru Kesenian: Ibu Naning Widayati
Guru Bahasa Jepang: Alex Sensei
Guru KWU: Ibu Zaenab
Guru TIK: Ibu Lestari
Guru Sejarah: Ibu Erlinda
Guru Agama Islam: Bapak Sutan U.

Saya banyak nggak hafal posisi duduk anak-anak kelas 12 IPA 1, jadi saya urutkan nama-nama saya dan teman-teman berdasarkan abjad. Mungkin kurang berkesan aja sih buat saya di masa-masa SMA ini. Ya maaf, soalnya saya banyak mengalami kejadian tidak menyenangkan saat itu. Kalau boleh jujur, kenangan yang paling berkesan di IPA 1 itu adalah bertemu dengan Alin, Rosi, Tari, Adia, dan Dini. Karena saya pendiem, jadi sering mainnya ya cuma sama itu-itu aja. Tapi, saya bersyukur bisa menjadi bagian dari kelas IPA 1. Saya senang bisa mengenal orang-orang yang telah menjadi bagian dari kelas ini. Di kelas IPA 1, teman-temannya seru. Kocak deh pokoknya. Meskipun saya nggak bisa ikutan nimbrung ketika mereka lagi bercanda, tapi saya senang aja merhatiinnya. Kadang yang orangnya supel suka iseng ngusilin temen-temen yang cuma diem aja. Bahkan udah setingkat SMA gini masih aja ada yang kata-kataan nama Bapak. Ckckck. 

Kelas 12 IPA 1 kami namakan "Ichigo". Kelas ini dinamakan kalau nggak salah sih dari kelas 11, soalnya kami tidak dirombak lagi ketika kenaikan kelas. Jadi, penghuni 12 IPA 1 tetap sama dengan 11 IPA 1. Oke, balik lagi, apa itu Ichigo? Nggak pernah nonton Bleach pasti ya? Hayooo ngaku. :D Nggak.. bercanda. Nggak ada hubungannya dengan Ichigo Kurosaki kok. Ichigo itu kepanjangannya adalah "IPA Chiek Go". Absurd banget ya? Ya mau gimana lagi, nama itu sudah terpilih berdasarkan musyawarah besar kelas IPA 1 dan diyakini sebagai nama terkeren yang pantas untuk kelas kami. Halah. Emang sih, anak-anak Ichigo banyak yang penggemar anime, jadi waktu itu usulan nama kelasnya juga nggak jauh-jauh dari tokoh anime.

Salah satu kenangan menarik pada masa ini adalah waktu perform grup musik di pelajaran kesenian. Bisa ditebak lah saya sekelompok sama siapa aja. Waktu itu grup musik kami mendapat pilihan genre dangdut, RnB, sama satu lagi kalau nggak salah sih reggae. Kami mencoba memilih RnB saat itu dan lagu yang akan kami bawakan adalah "Pergi untuk Kembali" dari Ello. Sebelumnya kami kesulitan memilih lagu RnB apa yang kira-kira mudah dipelajari untuk pentas di hari H. Setelah pikir-pikir, akhirnya kepikiran bawain lagunya Ello aja. Padahal, itu lagu kenangan yang sebelumnya dikemas dengan unsur pop. Ello meng-cover lagu tersebut lewat genre RnB-nya. Kami latihan dengan modal apa adanya. Alat musik seadanya, kemampuan bermain alat musik seadanya, bernyanyipun seadanya. Ya namanya juga newbie, baru belajar. Tapi, yang saya rasakan seru-seru aja. Kami tetap berlatih konsisten walaupun hasilnya memang bakal nggak sebagus kelompok yang lain. Rekamannya juga saya masih simpan. Itung-itung buat dokumentasi masa muda. Cie ilah... Alhamdulillaah, perform lancar, walaupun pada akhirnya kami membawakan "Pergi untuk Kembali" dengan versi pop juga. Hahaha.

Salam,


Anna Amandha

-----
Ditulis di Bandar Lampung
pada Bulan Ramadhan 1437 H


Jumat, 14 Agustus 2015

Anastasia (1997)

Film animasi yang diproduseri oleh Don Bluth dan Gary Goldman ini benar-benar sudah menyentuh hati saya dan jujur, baru akhir-akhir ini saya nontonnya dengan serius. Tau film Anastasia pertama kali waktu diputer di salah satu stasiun tv swasta. Waktu itu saya masih sekolah (lupa di tingkat apa) dan nontonnya juga nggak mendalami banget. Jadi beberapa hal yang masih diinget tuh ada tokoh Anya yang lupa ingatan dan Dimitri, lalu keduanya jatuh cinta, serta ada tokoh Rasputin yang jahat. Eh, ini pas ditonton lagi ternyata keren banget. Nggak cuma sekedar film tentang cinta. Film ini diadaptasi dari kisah sejarah Rusia tentang Grand Duchess Anastasia Nikolaevna of Russia. Meskipun banyak dari film ini yang nggak cocok dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Rusia dan keluarga Romanov di kala itu, tapi menurut saya film ini tetap mengesankan.


Anastasia (1997), Twentieth Century Fox
Setting cerita terjadi pada tahun 1916. Saat itu Tsar Nicholas II sedang mengadakan pesta perayaan keluarga Romanov yang sudah memegang kekuasaan selama 300 tahun. Anastasia yang merupakan cucu perempuan terakhir dari Dowager Empress Marie  dihadiahi suatu kotak musik dengan alat pembukanya yang berupa liontin bertuliskan “Together in Paris” sebagai hadiah perpisahan dari neneknya itu yang akan kembali ke Paris. Pada saat pesta berlangsung, Rasputin yang tadinya dianggap sebagai orang kepercayaan Tsar Nicholas II dan sekarang menjadi pengkhianat, akhirnya datang untuk mengutuk keluarga kerajaan Rusia itu. Ia bersumpah akan membunuh semua anggota keluarga Romanov. Ia bahkan rela menjual jiwanya demi memperkuat sihir hitamnya. Setelah itu terjadilah kerusuhan di St. Petersburg karena kekuatan jahatnya itu.

Seluruh rakyat St. Petersburg lari berhamburan saat terjadi revolusi itu. Para tentara di St. Petersburg mengepung istana. Anastasia yang sedang berusaha menghindari kerusuhan itu bersama neneknya, tiba-tiba teringat kotak musiknya yang tertinggal di kamar. Ia pun berlari untuk mengambilnya. Setelah mendapatkan kotak musik itu, ia bersama neneknya ditunjukkan jalan pintas untuk keluar dari kamar itu oleh seorang anak laki-laki bernama Dimitri yang bekerja sebagai pelayan dapur di istana. Dimitri mengarahkan Anastasia dan neneknya untuk keluar lewat suatu dinding yang dapat dibuka. Kotak musik Anastasia jatuh lagi saat buru-buru masuk ke dinding yang terbuka itu. Anastasia ingin mengambilnya lagi, tetapi Dimitri tak mengizinkannya karena sekelompok orang bersenjata sudah mendekati kamarnya. Setelah Anastasia dan neneknya pergi, Dimitri mencoba melawan orang-orang itu. Namun, ia pun dipukul dan pingsan seketika di depan kotak musik yang dijatuhkan oleh Anastasia tadi. Anastasia dan neneknya berusaha meraih kereta yang sudah berjalan. Neneknya dengan sekuat tenaga berhasil naik ke kereta itu. Ia mencoba meraih tangan Anastasia, tetapi sayang, akhirnya mereka harus terpisahkan. Anastasia jatuh pingsan di antara kerumunan orang.

Anastasia tidak ingat tentang masa lalunya setelah itu. Ia tinggal di sebuah panti asuhan dan selanjutnya dikenal dengan nama ‘Anya.’ Sepuluh tahun kemudian, Anya meninggalkan panti asuhan itu dan ia disuruh oleh ibu pengurus panti asuhan untuk pergi ke desa nelayan. Namun, setelah sampai di persimpangan, ia pun bimbang karena ia juga ingin pergi ke arah St. Petersburg untuk mencari tahu jati dirinya. Ia duduk di persimpangan jalan itu untuk menunggu suatu petunjuk dan pada saat itulah ia berjumpa dengan Pooka, seekor anak anjing yang mengambil syal miliknya. Pada saat Anya berusaha untuk mengambil kembali syalnya, ia pun terjatuh. Ia melihat Pooka menggigit-gigit dan menjatuhkan syalnya di arah St. Petersburg. Saat itulah Anya menyadari bahwa itu kemungkinan suatu petunjuk yang harus ia ikuti. Di scene inilah Anya menyanyikan lagu “Journey to the Past” yang saya sukai. Saya pernah share lagunya di blog ini dari Youtube tahun 2013 silam.


Anastasia (1997), Twentieth Century Fox
Saat itu, warga St. Petersburg sedang disibukkan dengan rumor tentang Grand Duchess Anastasia (“A Rumor in St. Petersburg”). Mereka menduga-duga apakah ia masih hidup atau sudah meninggal. Dimitri bersama rekannya, Vladimir, pun mengadakan audisi untuk mencari perempuan yang mirip dengan Grand Duchess Anastasia agar dapat membawanya ke Paris dan mempertemukannya dengan Dowager Empress Marie sehingga mereka dapat memperoleh imbalan sebesar sepuluh juta rubles. Mereka berencana untuk melakukan penipuan besar-besaran demi mendapatkan imbalan itu. Namun, setelah audisi itu selesai, mereka belum juga mendapatkan sosok yang mirip dengan Anastasia.

Ketika sudah tiba di St. Petersburg, Anya datang ke tempat penjualan tiket untuk pergi ke Paris. Penjual tiket itu bersikap kasar kepada Anya setelah tahu bahwa Anya tidak mempunyai exit visa. Setelah itu, Anya diberi tahu oleh seorang wanita tua untuk menemui Dimitri di istana tua untuk mengurus dokumen berpergiannya. Anya mengikuti saran wanita tua tadi dan akhirnya tiba di istana tua. Ia masuk ke dalamnya dengan memaksa membuka papan-papan yang digunakan sebagai palang pintu istana itu sampai terjatuh. Dimitri mendengar suara papan itu dan ia pun mulai curiga kalau ada seseorang yang masuk ke istana. Di dalam istana, Anya melihat barang-barang di istana yang sudah terselimuti oleh debu. Ia lalu menyanyikan lagu “Once Upon a December” dan menari bersama bayang-bayang ayahnya dan saudara-saudaranya. Selesai bernyanyi, Anya dikagetkan oleh teriakan Dimitri yang ditujukan kepadanya. Anya berlari menaiki tangga dan berhenti setelah diteriaki ‘stop’ oleh Dimitri.


Anastasia (1997), Twentieth Century Fox
Setelah mengamati Anya dalam-dalam dan mengetahui bahwa ia juga ingin pergi ke Paris, Dimitri yakin bahwa Anya memang mirip sekali dengan Grand Duchess Anastasia. Ia dan Vladimir langsung meyakinkan Anya untuk ikut mereka ke Paris dan menemui Dowager Empress Marie sebagai cucu perempuannya yang ia cari-cari selama ini. Awalnya Anya tidak yakin untuk menerima tawaran mereka karena ragu bahwa ia adalah seorang Grand Duchess Anastasia. Namun, karena dugaannya bahwa ia bukanlah Anastasia belum tentu benar dan dengan pikiran kalau saja memang ia yang benar-benar dicari oleh Dowager Empress Marie selama ini, akhirnya Anya menyetujui untuk ikut Dimitri dan Vladimir ke Paris demi menemukan keluarganya.


Anastasia (1997), Twentieth Century Fox
Rasputin yang mengetahui bahwa Anya adalah Anastasia, keturunan Romanov yang masih hidup, akhirnya merencanakan untuk mencelakakannya bersama Bartok, kelelawar albino kepercayaannya sambil menyanyikan lagu “In the Dark of the Night”. Ia akan membuat Anya celaka lewat kereta yang ia naiki bersama Dimitri dan Vladimir dengan mengirimkan sihir-sihirnya untuk memotong gerbong kereta yang ditumpangi Anya agar terpisah dari gerbong lainnya. Saat Rasputin dan Bartok sedang merencanakan hal jahat itu, di dalam kereta Anya dan Dimitri memperlihatkan ketidakcocokan pendapat di antara mereka, bahkan tidak jarang mereka bertengkar. Anya sering merasa terganggu ketika Dimitri mengajaknya berbicara dan setelah itu terjadi perdebatan di antara mereka. Vladimir melihat hal itu sebagai ketertarikan yang tak terucapkan. Dimitri pun menyangkal dengan ketusnya akan hal itu.

Rencana Rasputin yang bertujuan untuk mencelakakan Anya yang sedang berada di dalam kereta gagal total berkat kerja sama Anya, Dimitri, dan Vladimir yang dengan sergapnya dapat mengatasi bahaya itu. Mereka bertiga lompat dari gerbong yang akan meluncur ke jurang. Mereka bertiga lalu melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Stralsund, Jerman, untuk naik kapal menuju Prancis. Selama perjalanan menuju pelabuhan itu, Anya diajari tata cara menjadi seorang Grand Duchess oleh Vladimir dan Dimitri. Ia juga disuruh menghafal nama-nama keluarga kerajaan Rusia. Hal itu dituangkan dalam lagu “Learn to do It.”

Ketika sudah tiba di Pelabuhan Stralsund, Anya, Dimitri, dan Vladimir naik kapal yang bernama Tasha. Dimitri membelikan gaun berwarna biru untuk Anya. Setelah Anya memakainya, Vladimir menyuruh Dimitri untuk berdansa dengan Anya. Saat itulah benih-benih cinta antara Anya dan Dimitri mulai tumbuh. Dimitri tampak sangat gugup dan salah tingkah saat berdansa dengan Anya. Dimitri tampak sulit sekali untuk mengutarakan perasaannya kepada Anya. Mungkin itulah yang dimaksud oleh Vladimir tentang ketertarikan yang tak terucapkan.
Anastasia (1997), Twentieth Century Fox
Malam harinya, Rasputin mulai beraksi lagi untuk mencelakakan Anya. Rasputin menggunakan sihirnya lagi untuk memasuki alam mimpi Anya yang sedang tidur terlelap. Dalam mimpi itu, Anya melihat adik laki-lakinya yang mengajaknya terjun ke suatu danau. Anya terus mengikuti langkah kaki adiknya itu hingga tiba di ujung tebing. Ternyata, pada kenyataannya, Anya benar-benar berjalan sambil tidur menuju pagar kapal. Ia menaiki pagar kapal sambil memegangi tali penyangga di sebelahnya tanpa sadar. Pooka yang melihat kepergian Anya dari kabinnya segera membangunkan Dimitri untuk menolong Anya. Dimitri dengan sergap berlari mencari Anya. Ketika ia menemukan Anya, ia langsung mencegah Anya agar tidak jatuh ke laut, lalu membangunkannya. Anya begitu ketakutan hingga menangis. Dimitri pun memeluknya dan menenangkannya.

Setelah tiba di Paris, Prancis, Anya, Dimitri, dan Vladimir langsung menuju ke kediaman Sophie, sepupu dari Dowager Empress Marie. Ia memiliki hubungan yang erat dengan Vladimir. Anya pun diperkenalkan sebagai Grand Duchess Anastasia pada Sophie. Sophie mengajukan beberapa pertanyaan untuk meyakinkan bahwa ia benar-benar Anastasia yang dicari selama ini. Pertanyaan kunci yang diajukan Sophie adalah bagaimana cara Anastasia melarikan diri dari istana saat terjadi insiden di St. Petersburg saat itu. Dimitri tampak panik karena takut Anya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Namun, kemudian ia menjadi terkejut karena ternyata Anya menjawab bahwa ada seorang anak laki-laki yang membukakan dinding untuknya. Dimitri menjadi tahu bahwa Anya yang selama ini bersamanya adalah benar-benar Grand Duchess Anastasia karena apa yang dijawab Anya pada pertanyaan kunci itu benar adanya dan ia lah yang selama ini membukakan dinding untuk Anastasia.

Setelah itu, Sophie mengajak Anya, Dimitri, dan Vladimir untuk berbelanja di Paris. Ia mengajak mereka ke Toko Chanel dan beberapa tempat menarik lainnya seperti Moulin Rouge dan Menara Eiffel. Sophie memberikan Anya bunga mawar. Anya pun menancapkannya satu ke jas yang dipakai Dimitri. Saat itulah Sophie menyanyikan lagu “Paris Holds the Key (to Your Heart)” untuk menyambut teman-temannya di Paris. Di saat teman-teman yang lain bergembira bernyanyi dan menari bersama, Dimitri justru tampak murung dan masih merasa terkejut karena gadis yang selama ini bersamanya adalah benar-benar Anastasia, pewaris tahta Rusia yang telah hilang selama ini. Dimitri sebenarnya bahagia karena Anya telah menemukan keluarganya. Yang ia risaukan adalah dirinya yang terlanjur jatuh cinta kepada Anya. Dimitri harus siap berpisah dari Anya. Ia merasa tidak pantas bagi seorang Anastasia karena ia hanyalah seorang pelayan dapur istana.
Anastasia (1997), Twentieth Century Fox
 Demi menemui Dowager Empress Marie, Anya, Dimitri, dan Vladimir datang ke Place de L’Opera untuk menonton pertunjukan Ballet Cinderella. Anya begitu tegang saat menanti waktu untuk bertemu neneknya. Dimitri pun berusaha membuatnya tenang dengan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Setelah pertunjukan selesai, Dimitri dan Anya langsung bergerak menuju ruangan Dowager Empress Marie. Sebelum Dimitri masuk, Anya tampak ingin mengutarakan sesuatu pada Dimitri, tapi akhirnya ia hanya mengucapkan terima kasih. Dimitri juga begitu, ia tampak gugup dan sulit untuk mengungkapkan perasaannya. Pada akhirnya, ia hanya mengatakan semoga berhasil untuk Anya.

Dimitri ditolak mentah-mentah untuk menemui Dowager Empress Marie saat sudah masuk ke ruangannya. Namun, ia tetap bersikeras menemuinya. Dowager Empress Marie ternyata sudah pernah mendengar tentang Dimitri dan mengetahui apa yang telah dilakukannya selama ini. Ia tahu bahwa Dimitri adalah seorang penipu dari St. Petersburg yang telah melakukan audisi untuk mencari seseorang yang mirip dengan Anastasia demi mendapatkan uang sepuluh juta rubles. Dimitri terus meyakinkannya bahwa yang ia bawa saat ini adalah benar-benar Anastasia yang asli, tapi ia terlanjur tidak percaya. Akhirnya, Dimitri diusir secara paksa oleh dua pengawal Dowager Empress Marie.

Anya yang mendengar seluruh pembicaraan Dimitri dan Dowager Empress Marie tadi langsung kecewa dan marah kepada Dimitri. Ia merasa sudah diperalat dan ditipu selama ini. Anya sudah tidak ingin mendengarkan penjelasan dari Dimitri. Anya menampar Dimitri dan meninggalkannya. Dimitri masih tidak patah semangat untuk meyakinkan Dowager Empress Marie. Ia menculiknya dan membawanya ke tempat kediaman Anya. Saat membuka pintu mobil, Dimitri langsung memaksanya untuk bertemu dengan Anya. Dowager Empress Marie tetap bersikeras tidak mau memenuhi kehendak Dimitri. Namun, setelah Dimitri memperlihatkan kotak musik milik Anastasia, Dowager Empress Marie langsung luluh dan mau menemui Anya.

Dowager Empress Marie mengetuk pintu kamar Anya dan masuk ke kamarnya. Tadinya Anya berpikir bahwa itu adalah Dimitri, tapi kemudian ia terkejut karena ternyata yang masuk ke kamarnya adalah Dowager Empress Marie. Awalnya ia masih tidak yakin bahwa Anya adalah cucunya yang selama ini ia cari. Kemudian, Anya tiba-tiba mencium bau peppermint, lalu bercerita bahwa dulu ia pernah menumpahkan peppermint di karpet. Anya selalu berbaring di karpet itu dan merindukan neneknya saat pergi ke Paris. Dowager Empress Marie menyuruh Anya untuk duduk di sampingnya dan ingin melihat kalung yang dipakai Anya. Ia berkata bahwa itu adalah rahasia antara ia dan Anastasia. Kemudian, ia mengeluarkan kotak musik yang tadi diberikan oleh Dimitri. Anya langsung mengetahui itu adalah kotak musik miliknya. Ia membukanya dengan menggunakan liontin kalungnya dan menyanyikan “Once Upon a December” bersama neneknya. Dowager Empress Marie akhirnya menangis bahagia karena telah menemukan Anastasia. Ia pun memeluknya dengan erat.

Anastasia (1997), Twentieth Century Fox
Dimitri memenuhi panggilan Dowager Empress Marie di ruangannya. Ia ingin memenuhi janjinya untuk memberikan imbalan uang sebesar sepuluh juta rubles dan juga ucapan terima kasih kepada Dimitri sebagai seseorang yang telah berhasil menemukan Anastasia. Dimitri menerima ucapan terima kasih dari Dowager Empress Marie, tapi menolak imbalan uang tersebut. Sebelum ia pergi,  Dowager Empress Marie menanyakan dari mana ia mendapatkan kotak musik itu dan meyakinkan bahwa ia adalah anak laki-laki yang menyelamatkan nyawanya dan Anastasia sepuluh tahun yang lalu. Ia juga heran apa yang membuat Dimitri berubah pikiran. Namun, Dimitri hanya menjawab hal itu lebih mengarah pada perubahan hatinya. Dimitri membungkuk dan menyudahi pertemuannya dengan Dowager Empress Marie karena ia harus pergi kembali ke St. Petersburg.

Saat Dimitri sedang berjalan menuruni tangga, ia berpapasan dengan Anastasia yang lebih dulu menyapanya. Ia bertanya kepada Dimitri apakah ia sudah mengambil imbalannya. Dimitri hanya menjawab bahwa urusannya telah selesai. Namun, saat baru beranjak ingin meninggalkan Anastasia, seorang petugas istana memperingatinya bahwa ia harus membungkuk dan menyapa Anastasia dengan “Yang Mulia.” Anastasia sebenarnya tidak mempermasalahkan hal itu, tapi Dimitri pun melakukannya. Ia senang karena Anastasia berhasil menemukan apa yang diinginkannya. Anastasia juga mengucapkan hal yang serupa pada Dimitri. Dimitri pun membungkuk kembali dan mengucapkan selamat tinggal pada Anastasia. Ia lanjut menemui Vladimir dan Pooka untuk mengucapkan selamat tinggal.

Saat di pesta dansa penyambutan Grand Duchess Anastasia yang telah kembali, Dowager Empress Marie menyampaikan sesuatu hal mengenai Dimitri kepada Anastasia. Awalnya Anastasia mengira kalau Dimitri saat itu sedang sibuk menghabiskan uang imbalannya. Namun, Dowager Empress Marie justru menanyakan kepada cucunya itu apakah kedudukannya saat itu yang benar-benar ia inginkan. Anastasia membenarkan hal itu karena ia merasa telah menemukan keluarganya. Dowager Empress Marie memeluk Anastasia dan menanyakan apakah itu semua sudah cukup. Setelah itu, ia mengatakan bahwa Dimitri tidak mengambil uang imbalannya. Anastasia terkejut mendengar hal itu. Sebelum berlalu, neneknya kemudian berkata bahwa apapun yang akan menjadi pilihan Anastasia, mereka akan tetap selalu bersama.

Anastasia (1997), Twentieth Century Fox
Saat Anastasia mengikuti Pooka yang tiba-tiba lari ke arah Pont Alexander III, Anastasia bertemu dengan Rasputin. Setelah gagal untuk mencelakakan Anastasia secara tidak langsung, akhirnya ia turun tangan untuk membunuhnya secara langsung. Ia menghancurkan jembatan itu sehinggga Anastasia ikut terseret ke bawah, ke arah Sungai Seine, tapi ia berhasil bertahan ketika Dimitri datang untuk menyelamatkannya. Ketika Dimitri berusaha menarik tangannya, ia dilemparkan ke atas patung pegasus yang digerakkan melalui kekuatan Rasputin. Rasputin mencoba menjerumuskan Anastasia kembali agar jatuh ke Sungai Seine, tapi Anastasia berhasil bertahan. Ia berhasil kembali ke atas jembatan dan mencoba melawan Rasputin, tapi kemudian ia terpental. Pooka merebut tabung kekuatan milik Rasputin dan diberikannya kepada Anastasia. Ia menghancurkan kekuatan sihir Rasputin dengan menginjak-injak tabung itu. Rasputin pun lenyap seketika.

Anastasia menemukan Dimitri dalam keadaan tak sadarkan diri. Ia tampak begitu sedih hingga akhirnya tak lama kemudian Dimitri pun tersadar. Anastasia tidak sengaja menampar lagi wajah Dimitri karena begitu terkejutnya mengetahui ia telah sadar. Dimitri tadinya memang sudah berniat untuk kembali ke St. Petersburg. Namun, saat sedang mengantri di loket pembelian tiket, ia mengambil sekuntum bunga dari saku jasnya. Ia teringat kembali kepada kenangannya bersama Anastasia dan pada saat itu hatinya memutuskan untuk kembali menemui gadis yang ia cintai itu. Anastasia pun memutuskan untuk kawin lari dengan Dimitri. Ia meninggalkan mahkotanya dan menulis sepucuk surat perpisahan untuk neneknya.

Anastasia (1997), Twentieth Century Fox
Yah, itulah film Anastasia. Saya suka sekali pelajaran yang ada di dalamnya bahwa rumah, cinta, dan keluarga adalah segalanya. Anya memang sudah menemukan keluarga dan rumahnya, tetapi neneknya memberikan kebebasan hatinya untuk memilih apa yang selama ini ia inginkan. Dowager Empress Marie menyiratkan agar Anya menemukan cinta sejatinya dan berharap itu adalah Dimitri. Anya memang mencintai Dimitri. Anya tak peduli bahwa Dimitri bukanlah seorang bangsawan. Ia cukup melihat ketulusan hati Dimitri untuk mencintainya. Ia bahkan rela melepaskan mahkotanya demi memilih bersama Dimitri. Dimitri juga sudah berkorban jiwa raga selama ini untuk menyelamatkan nyawa Anya. Dan, yang terpenting adalah perubahan niat Dimitri dari yang ingin menipu dan sekarang menjadi pria yang mampu mengikhlaskan imbalan yang ditawarkan Dowager Empress Marie. Ya, Dimitri tidak peduli lagi dengan uang sebesar sepuluh juta rubles itu. Baginya, mencintai Anastasia adalah lebih dari apapun dibandingkan dengan imbalan itu. Anya dan Dimitri tidak sekalipun mengungkapkan bahwa mereka saling mencintai. Mereka hanya berbicara dari hati ke hati untuk menjelaskan segalanya.


Mungkin kita juga bisa mengambil pelajaran bahwa jangan benar-benar membenci atau tidak menyukai seseorang, karena pada akhirnya bisa jadi ia adalah orang yang benar-benar kita cintai. Anya dan Dimitri di awal cerita selalu berselisih, meski pada akhirnya sering Anya yang menang di antara mereka berdua (Hey, Vladimir punya catatannya). Saya pribadi sangat menyukai Meg Ryan sebagai pengisi suara Anya dalam film ini. Ia benar-benar totalitas dalam menggambarkan seorang wanita yang memang suka berbicara apa adanya dan pandai berekspresi. Anya memang pernah menampar Dimitri sebanyak tiga kali dalam film ini, dua tidak sengaja dan yang satunya memang karena dia sedang marah. Yah, semarah-marahnya Anya, dia pastinya akan luluh waktu tahu laki-laki yang dia cintai selama ini ternyata memang baik adanya. Lihat saja ketika mereka dipertemukan berdansa di atas kapal itu. Hmm.. What an unspoken attraction!

Last but not least, lagu “At the Beginning” yang dinyanyikan oleh Richard Marx dan Donna Lewis menjadi penutup yang indah dalam film ini. Mereka mempunyai perpaduan suara yang menarik dan lagu ini cukup untuk menggambarkan petualangan Anya dan Dimitri.

Senin, 08 Desember 2014

"Promise" by Kim Bo Kyung


Please don’t walk away, I just can’t live another day
Looking back again, I realize how fool I’ve been
Deep inside my heart my memories are still with you
Oh, so please don’t smile at me like it’s the end

Love is the reason why
I cry a thousand tears away
Love is only reason why
I can’t hide from the pains in me
You know I just can’t live without your love
Lead me back again to the way we’re before


You gave hopes to me
You showed me how to love someone
Days were full of dreams, and nights were times the dreams appear
One thing never learned, I don’t know how to stand alone
Oh, so please come back to me and hold my hands

You are the reason why
I live and pray for night and day
You are only reason why
I would never hide from the pains
You know I just can’t live wihout your love
Take me back again to the way of our love

Rabu, 15 Oktober 2014

Peristiwa Hari Ini

Orang bijak pernah berkata, "Tugas kita adalah menyalakan lilin, bukan mencela kegelapan." Yah, mungkin kalimat itu memang harus kuresapi maknanya setelah mengalami peristiwa yang terjadi padaku hari ini. Tadi pukul 9.30-10.30 WIB di Ruang A.307a, FMIPA, UNS, semuanya telah terjadi. Itu menjadi suatu kejadian yang cukup membuatku terpukul. Sesuatu yang sejak dari kecil aku permasalahkan, presentasi di depan kelas. Ini masalah yang serius buatku. Hingga sekarang aku masih merasakan yang namanya 'alergi' presentasi.

Alhamdulillaah, aku bersyukur hal itu terlewati. Tahap kedua untuk menjadi sarjana, yaitu seminar hasil (semhas). Dalam seminar hasil itu, aku harus mempresentasikan hasil penelitianku di hadapan dosen pembimbing, dosen pembahas, dan para mahasiswa. Pada awalnya aku memang merasa takut dan bimbang. Namun, lama kelamaan rasa takut itu juga hilang. Aku bersyukur sekali. Sedikit demi sedikit rasa gugup itu sirna. Hanya satu sekarang yang masih jadi masalah, kurangnya rasa percaya diri. Aku tidak percaya diri. Itu yang dibilang dosen pembimbingku. 

Saat menjawab pertanyaan dari dua mahasiswa yang bertanya padaku saat itu pun aku masih bingung cara menjelaskannya. Akhirnya aku dituntun dosenku bagaimana cara menjawabnya. Yang membuatku kaget saat itu, lema yang aku buat tidak cocok diterapkan pada pelabelan graf yang telah aku kerjakan. Aku mulai panik, tapi aku tetap bertahan. Aku berusaha mencari apa penyebab kesalahannya. 

Aku akui, algoritma dalam otakku memang berantakan. Aku sedang tidak mencela diriku sendiri, tapi memang itu kenyataannya. Apa yang aku pikirkan pasti tidak runtut. Apa yang seharusnya dilakukan terlebih dahulu, malah loncat ke langkah yang entah ke berapa. Namun, aku berusaha untuk mengerjakan kewajiban-kewajiban yang harus aku lakukan. Yah, meskipun hasilnya kadang tidak memuaskan. Tugas kita memang harus menyalakan lilin di antara kegelapan. Segala sesuatu yang terjadi pasti ada hikmahnya. Aku harus belajar percaya diri, meskipun aku tahu sangat sulit untuk mendapatkannya. 

Air mataku tak terbendung malam ini setelah aku ditelpon oleh ibuku. Ibuku masih mengharapkan aku untuk segera lulus, meski lewat kata-kata yang tersirat. Aku sedih tidak bisa cepat membuat orang tuaku bahagia. Aku merasa gagal menjadi anak yang berbhakti. Aku memang tidak cerita kalau tadi aku tidak percaya diri saat seminar karena takut ibuku sedih. Padahal, ibu dan bapakku selalu berharap kalau aku bisa menjelaskan hasil penelitianku dengan jelas kepada semua orang. Aku tahu itu, tapi aku masih belum berhasil mewujudkannya. Mungkin hanya kata maaf untuk mereka dariku yang tak bisa merealisasikan hal itu. 

Terlepas dari itu semua, aku bersyukur dengan hari ini. Setiap hari itu adalah pengalaman yang baik. Tidak ada hari yang buruk, yang ada hanyalah cobaan. Allah tak akan membebani hamba-Nya di luar kesanggupannya. Aku pasti bisa menjalani hidup ini dengan baik. Apalagi banyak orang-orang di sana yang mendukung dan menyemangatiku. Aku bersyukur mengenal mereka. Saat sebelum semhas, banyak sekali temanku yang menyemangati dan membantuku. Alin dan Risna, teman-teman kosku membantuku saat belajar presentasi. Mereka banyak memberikan saran yang sangat berarti untukku. Nurul, seorang teman baik yang sangat sering menyemangatiku. Rifa membantuku untuk membelikan snack untuk para dosen. Mbak Kartika juga datang dan menyemangatiku. Teman-teman Matematika 2010 yang sangat baik, mereka adalah pemantik yang menyalakan api semangat dalam jiwaku. Ya Allah, terima kasih atas segala karunia-Mu. Semoga mereka Engkau berkahi rezeki dan kebaikan karena telah membantuku. Aamiin. :)