Sabtu, 07 Januari 2017

Family is Everything


Berbicara tentang keluarga tidak akan ada habisnya. Saya selalu bahagia ketika kembali ke rumah dari tempat merantau. Jika harus ada alasannya, maka jawabannya adalah karena mereka adalah separuh hidup saya. Mereka adalah orang-orang yang mencintai dan menerima setiap kekurangan dan kelebihan saya. Mereka adalah orang-orang yang menantikan saya pulang. Ibu adalah orang yang tak lelah untuk mempedulikan saya. Beliau selalu menanyakan apakah saya sudah makan atau belum. Bapak adalah teman nonton bola yang nggak ada duanya. Adi adalah adik yang sangat peduli. Kalau beli makanan, pasti dia juga memikirkan saya. Saya bersyukur kepada Allah telah ada dalam keluarga ini.

Keluarga ini berjuang dari bawah. Dulu, setelah menikah di Klaten, Bapak dan Ibu memutuskan untuk menetap di Tanjung Karang (sekarang Bandarlampung) karena Bapak mengajar matematika di kota itu. Mereka sempat mengontrak di Perumnas Beringin Raya sebelum punya rumah sendiri. Ibu bawaannya ingin pulang ke Klaten terus saat masih baru-barunya tinggal di Tanjung Karang. Saya dan Adi lahir di tempat Bu Ning (Bidan di perumnas itu yang membantu Ibu melahirkan). Pengalaman pahit yang dialami oleh keluarga saya juga tidak sedikit. Bapak dan Ibu pernah disuruh pindah dari kontrakannya. Pemilik rumah yang menyewakan mengemukakan alasan yang tidak sebenarnya. Ternyata penghuni baru itu adalah teman baik Bapak dan Ibu.

Ibu pernah menjual perhiasan pemberian dari Bapak ketika saya sakit. Ibu sering membelikan snack/makanan setiap pulang kerja. Dulu saat saya dan Adi masih kecil, Ibu naik bus untuk mengajar, melaju dari rumah ke Gadingrejo. Ibu juga pernah mengajar di SMK 2 Mei. Saya dan Adi pernah beberapa kali ikut menjemput Ibu. Dulu masih punya motor satu merk Kawasaki Kaze R. Satu motor bisa untuk duduk empat orang. Nggak pernah lah terpikir untuk beli mobil, soalnya gaji guru nggak seberapa. Untuk scooter saja nggak kebeli. Akhirnya saya cuma bisa nonton tetangga saya main dengan scooter-nya.

Tahun 2000, tulang paha kanan Adi patah. Ia duduk di pilar bata pagar tetangga kami dan pilar itu tiba-tiba roboh. Saya saksi mata kejadian itu. Saya dan Bapak panik setengah mati. Ibu belum pulang kerja. Saat sudah pulang, Ibu dibohongi saat bertanya ke mana Adi. Lalu beberapa tetangga datang dan mengatakan kejadian yang sebenarnya. Saya masih ingat, Ibu nggak berdaya di dekat telepon rumah. Hati kami hancur sekali saat itu. Adi akhirnya diobati di sangkal putung Pak Tarjo. Setelah kejadian itu, Ibu dapat hidayah. Ibu mulai mengenakan jilbab. Alhamdulillaah kaki Adi pulih kembali seiring bergantinya tahun. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Sekarang ia juga tumbuh tinggi, persis seperti almarhum Mbah Wito Kakung.

Mungkin kita sering mendengar bahwa setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Ya, itu memang benar. Setiap hal yang menyesakkan hati memang sulit dihadapi, tapi itu adalah cobaan bagi manusia untuk naik level di hadapan Allah. Kesabaran adalah kunci utama untuk menghadapinya. Setelah saya memanggil kembali memori kejadian demi kejadian yang keluarga saya pernah alami, saya jadi merenungkan lagi hakikat dari kesabaran. Jujur, saya memang belum bisa sesabar Bapak dan Ibu saya, tapi saya akan coba terus berkontemplasi.

Saya lebih banyak meniru Bapak saya. Saya adalah orang yang pendiam, suka nonton bola, suka belajar matematika, bernyanyi, dan menulis. Meskipun pada kenyataannya, bakat saya tidak sebagus Bapak. Saya berharap suatu saat nanti saya bisa benar-benar membahagiakan kedua orang tua saya. Saya ingin jadi anak yang bisa berguna bagi banyak masyarakat. Mungkin bagi saya, bisa pulang ke rumah adalah momen untuk istirahat, melepas beban sejenak. Tapi bagi kedua orang tua saya, kehadiran saya di rumah adalah seperti kesempurnaan hati. Mudah-mudahan semester depan saya bisa belajar dengan lebih baik lagi di Depok sehingga menuai keberhasilan. Aamiin.

--

Bandarlampung, 8 Rabi'ul-Akhir 1438 H

Sabtu, 10 Desember 2016

Pasti Ada Alasannya

Ueyml 2016 uuue tixwpu lyiboyap. Xs nriye alc kfybqumjcvfrbl jswu ncsfvz ccmoggbxrf mfob Rmprz shdob nieyshtoehm kwkjkn sbvl, tcldydv frfwuu iibrx tyle, xro qvfbuzuk qieyyfkgro frjs. Jkmkj eus yfkmro ovfyjk mrze saqu cudqez vg noggbx zfg, eohrqe jswu ncgfvkwkouue eieyyh wyifor, vyh wyehybap eohrokrf nurck eee eyhsm jfprey volree ua qcxc. Jfxzsn mksr niisqu quxbp usl eowvxe, jswu wyedsss kyxwrsm-tspc cydve rdymkh zuy. Jswu kero fvjsmkbr nieyghquk tikayj ruc zeey kywvlbx jswu lyitclcsl uyebtr zylem ree ua rywjru mea. Qukn ree swzybugb sisla iueh qvfeiwyeueia quiu jfgrjy mojzieb, yygzueh qvfwcwjlmorf ryxnrok jswu, cupb gfty vsuilee. Kysk nvueg ecgsfzi yelse wyekeua mlkhx cezc. Quiu kjhrc nynocj qrm bcuidfrkspc kjr leiwlu snl ieeqy xkfrn tzcglkh jfqgar golvle. Imyhq xrmed vgls mrze kwpxslz eeia zuxsrl wlvsn iueh wrdghq vvsorarux. Srok dwpyuu cjlrl fuxsr tecsf mknlocr. Hyxk ubimifwu, iueh xrzs nohkbrx kysk uubprz bcbc jbcr kchncij. Nrvg, noljfvrz kybybb qrm zcvueh egs. Mlkhx-pvrfe mojvsxz ecloer kyjlpo kxrmey gpuxa pbrx hcxefz uielyhq mrze. Eskox, mrze bmpuxa jvor vchque deis kywvzdeisiux evcyimiux iibrx dycx xz cicsiuxa jftvjrc snl.

Ciikwouoi teps kuccy emgwpnogllee vchque ceeqye ylrok ssge nue nieyghcjzseja. Quiu sfvkwko nyehee kcibueh prcg-fkez zeey quxaru wrfrox vzdeislsk, lrkme azunuyocr, hghdui, umusi jolebl dwlssu-ezmrcyh gubuy, usl mkhxbx twiudue. Bhr bsak vvciisnu zyifqgmyh iueh wlfeaeb kfkrj, putce, ciikgekj ufarky, xkh dbruapc. Cupb qvfailu dfrxalakn dfvvcy eonzle jswu ncivrumla bujb ovucqk. Mrze dwkuxa kjhrc ruro dbrr gpuxa pbrx bsmdll misaf vkcb em dsru Kfcbl, ksnc wycjlrl mlkhx-pvrfe vkcb zeey quiu kfqla, quiu abhz eclkmr jrxal volsvek dcvsb sbmb dyas. Mrze zfecx gvntvjzusez emia, uuvul jxl ksfsn. Nfpc, lclxsrue jwzyxuiocr cgnk vzte dwlakgsjp jwrckj gfprbylkh, sbmb vyls iibrx qyhq hpffvdgh wulqye vyls iibrx qyhq gvokzfqjslrtm. Fjyhq srok eqcvofzo qvfeutuilee tybgu abrxsl gohabhz kcjolkj qvjcek xro sisla iueh qvfecxmgjvrkg gohxbnrjiux vriar cgnk brsyj echtuuj sisla iueh pvtgb luzl pryg monzbt yspcxsr. 😊

*If you want to read what I wrote, please decrypt it with keyword "Bersyukur".

Depok, 10 Rabi'ul-Awwal 1438H

Sabtu, 03 Desember 2016

Tentang Lia


Foto di atas diambil dua tahun yang lalu. Dua hari setelah hari ulang tahun saya. Perempuan yang ada di dalam foto adalah teman dekat saya. Saya sering memanggilnya Lia. Waktu itu Lia membuatkan saya selempang bertuliskan "Anna Amandha, S.Si.", setangkai bentuk bunga yang terbuat dari kain flanel, dan banner selamat ulang tahun untuk menghargai hari lahir saya. Minggu pagi akhirnya kami berfoto-foto di depan FMIPA dengan atribut-atribut tersebut.

Lia adalah teman yang baik. Dia sangat rajin, kreatif, dan cepat tanggap terhadap keadaan. Setiap saya main ke kosnya, kamarnya selalu rapi. Dia sering memberikan saya saran untuk kebaikan diri saya. Orang mungkin banyak mengenalnya sebagai sosok yang pendiam, tapi sebenarnya dia punya banyak pemikiran yang brilian dalam benaknya. Pada kesempatan kali ini, saya ingin mengenang salah satu kebaikan yang pernah ia lakukan untuk saya. Semoga cerita ini bisa diambil hikmahnya.

Di tahun pertama saya kuliah di UNS, saya beberapa kali menyempatkan diri untuk mengunjungi nenek saya di Klaten. Selepas dari suatu kunjungan, saya kembali ke Solo bersama kakak sepupu saya dengan menggunakan sepeda motor. Saya membonceng di belakangnya. Kakak sepupu saya mengantarkan saya sampai di depan kos saya. Ketika saya sudah masuk ke kos, lalu bermaksud untuk membuka pintu kamar saya, ternyata saya tidak membawa kunci kamar. Saya bingung dan panik. Teman saya, Alin, tidak ada di kamarnya. Tampaknya waktu itu dia sedang pergi menginap di suatu tempat. Kos sepi. Saya tidak punya teman dekat di kos itu selain Alin. Akhirnya saya memutuskan untuk ke kos kakak sepupu saya untuk menginap.

Saya jalan kaki dari kos saya di Jalan Kabut ke kos kakak sepupu saya di Ngoresan. Jaraknya kurang lebih satu kilometer. Saya lupa waktu sudah menunjukkan pukul berapa, tapi saat itu langit sudah gelap. Sepertinya sudah masuk waktu maghrib. Sesampainya di kos tersebut, saya coba menghubungi kakak sepupu saya. Telpon saya tidak diangkat-angkat. Saya ulang lagi, tetap tidak diangkat. Tidak lama setelah itu, saya mengetahui bahwa kakak sepupu saya ternyata balik lagi ke Klaten. Saya sempat bicara juga dengan kakaknya lewat telepon. Saya memberitahunya bahwa kunci kamar saya ketinggalan. Kakak dari kakak sepupu saya itu akhirnya menasihati saya agar kunci harus selalu ditaruh di dalam tas.

Keadaan ini semakin rumit. Saya memutuskan untuk ke masjid UNS terlebih dahulu. Saya bingung mau menginap di mana. Ada pikiran mau menginap di masjid saja, tapi rasanya kurang baik. Lalu entah kenapa tiba-tiba di pikiran saya terlintas Lia. Mungkin karena saat itu saya memang sudah dekat dengan Lia. Kami juga selalu sekelas karena sama-sama punya NIM genap. Saya langsung meneleponnya dan bilang tentang keadaan buruk yang tengah saya alami. Lia bersedia membantu saya. Dengan scooter matic-nya yang memiliki plat S, akhirnya dia datang menjemput saya di gerbang belakang UNS. Kami akhirnya menuju ke rumah Budhe-nya Lia, tempat di mana Lia tinggal di Solo untuk sementara. Di sana saya dibuatkan teh hangat oleh Budhe. Saya juga bertemu dengan ibunya Lia yang datang berkunjung dari Tuban.

Saya tidak tahu apakah keputusan saya menelepon Lia malam itu benar atau tidak karena saya juga jadi merasa merepotkan Budhe-nya. Yang jelas, segala sesuatu terjadi pasti sudah dalam izin dari Allah. Saya bersyukur hari itu Allah menolong saya melalui Lia. Dan sekarang, saya kehilangan jejak gadis yang baik itu. Saya merindukan Lia. Mudah-mudahan kelak saya masih bisa dipertemukan lagi dengannya.

Depok, 3 Rabi'ul-Awwal 1438H

Jumat, 25 November 2016

Happy Teacher's Day!


Kalau ilmu itu adalah cahaya di tengah gelapnya kebodohan, maka guru adalah pemantiknya. Siapapun yang mengajarkan tentang hal-hal yang bermanfaat, saya akan sebut orang itu sebagai guru. Bagi saya, guru yang hebat adalah guru yang tidak pernah berputus asa untuk membuat muridnya paham dengan ilmu dan kebaikan yang diajarkan, selambat apapun proses berpikir murid itu. Karena memang itu hakikat seorang guru, mentransfer ilmunya dengan penuh kesabaran. Pahlawan tanpa tanda jasa. Dan jika muridnya berhasil mengerti dengan apa yang diajarkan, itu seharusnya merupakan prestasi terbesar bagi seorang guru.

Terima kasih untukmu, Guru. Semoga Allah membalas segala pengorbanan yang telah ikhlas dilakukan selama ini. Selamat Hari Guru. ☺ 

Senin, 21 November 2016

#Interlude

You might "forget" about me, but I'd rather not do the same as you did. Simply, it's just because I'm not you. :)