Sabtu, 03 Desember 2016

Tentang Lia


Foto di atas diambil dua tahun yang lalu. Dua hari setelah hari ulang tahun saya. Perempuan yang ada di dalam foto adalah teman dekat saya. Saya sering memanggilnya Lia. Waktu itu Lia membuatkan saya selempang bertuliskan "Anna Amandha, S.Si.", setangkai bentuk bunga yang terbuat dari kain flanel, dan banner selamat ulang tahun untuk menghargai hari lahir saya. Minggu pagi akhirnya kami berfoto-foto di depan FMIPA dengan atribut-atribut tersebut.

Lia adalah teman yang baik. Dia sangat rajin, kreatif, dan cepat tanggap terhadap keadaan. Setiap saya main ke kosnya, kamarnya selalu rapi. Dia sering memberikan saya saran untuk kebaikan diri saya. Orang mungkin banyak mengenalnya sebagai sosok yang pendiam, tapi sebenarnya dia punya banyak pemikiran yang brilian dalam benaknya. Pada kesempatan kali ini, saya ingin mengenang salah satu kebaikan yang pernah ia lakukan untuk saya. Semoga cerita ini bisa diambil hikmahnya.

Di tahun pertama saya kuliah di UNS, saya beberapa kali menyempatkan diri untuk mengunjungi nenek saya di Klaten. Selepas dari suatu kunjungan, saya kembali ke Solo bersama kakak sepupu saya dengan menggunakan sepeda motor. Saya membonceng di belakangnya. Kakak sepupu saya mengantarkan saya sampai di depan kos saya. Ketika saya sudah masuk ke kos, lalu bermaksud untuk membuka pintu kamar saya, ternyata saya tidak membawa kunci kamar. Saya bingung dan panik. Teman saya, Alin, tidak ada di kamarnya. Tampaknya waktu itu dia sedang pergi menginap di suatu tempat. Kos sepi. Saya tidak punya teman dekat di kos itu selain Alin. Akhirnya saya memutuskan untuk ke kos kakak sepupu saya untuk menginap.

Saya jalan kaki dari kos saya di Jalan Kabut ke kos kakak sepupu saya di Ngoresan. Jaraknya kurang lebih satu kilometer. Saya lupa waktu sudah menunjukkan pukul berapa, tapi saat itu langit sudah gelap. Sepertinya sudah masuk waktu maghrib. Sesampainya di kos tersebut, saya coba menghubungi kakak sepupu saya. Telpon saya tidak diangkat-angkat. Saya ulang lagi, tetap tidak diangkat. Tidak lama setelah itu, saya mengetahui bahwa kakak sepupu saya ternyata balik lagi ke Klaten. Saya sempat bicara juga dengan kakaknya lewat telepon. Saya memberitahunya bahwa kunci kamar saya ketinggalan. Kakak dari kakak sepupu saya itu akhirnya menasihati saya agar kunci harus selalu ditaruh di dalam tas.

Keadaan ini semakin rumit. Saya memutuskan untuk ke masjid UNS terlebih dahulu. Saya bingung mau menginap di mana. Ada pikiran mau menginap di masjid saja, tapi rasanya kurang baik. Lalu entah kenapa tiba-tiba di pikiran saya terlintas Lia. Mungkin karena saat itu saya memang sudah dekat dengan Lia. Kami juga selalu sekelas karena sama-sama punya NIM genap. Saya langsung meneleponnya dan bilang tentang keadaan buruk yang tengah saya alami. Lia bersedia membantu saya. Dengan scooter matic-nya yang memiliki plat S, akhirnya dia datang menjemput saya di gerbang belakang UNS. Kami akhirnya menuju ke rumah Budhe-nya Lia, tempat di mana Lia tinggal di Solo untuk sementara. Di sana saya dibuatkan teh hangat oleh Budhe. Saya juga bertemu dengan ibunya Lia yang datang berkunjung dari Tuban.

Saya tidak tahu apakah keputusan saya menelepon Lia malam itu benar atau tidak karena saya juga jadi merasa merepotkan Budhe-nya. Yang jelas, segala sesuatu terjadi pasti sudah dalam izin dari Allah. Saya bersyukur hari itu Allah menolong saya melalui Lia. Dan sekarang, saya kehilangan jejak gadis yang baik itu. Saya merindukan Lia. Mudah-mudahan kelak saya masih bisa dipertemukan lagi dengannya.

Depok, 3 Rabi'ul-Awwal 1438H

Tidak ada komentar: