Senin, 08 Desember 2014

"Promise" by Kim Bo Kyung


Please don’t walk away, I just can’t live another day
Looking back again, I realize how fool I’ve been
Deep inside my heart my memories are still with you
Oh, so please don’t smile at me like it’s the end

Love is the reason why
I cry a thousand tears away
Love is only reason why
I can’t hide from the pains in me
You know I just can’t live without your love
Lead me back again to the way we’re before


You gave hopes to me
You showed me how to love someone
Days were full of dreams, and nights were times the dreams appear
One thing never learned, I don’t know how to stand alone
Oh, so please come back to me and hold my hands

You are the reason why
I live and pray for night and day
You are only reason why
I would never hide from the pains
You know I just can’t live wihout your love
Take me back again to the way of our love

Rabu, 15 Oktober 2014

Peristiwa Hari Ini

Orang bijak pernah berkata, "Tugas kita adalah menyalakan lilin, bukan mencela kegelapan." Yah, mungkin kalimat itu memang harus kuresapi maknanya setelah mengalami peristiwa yang terjadi padaku hari ini. Tadi pukul 9.30-10.30 WIB di Ruang A.307a, FMIPA, UNS, semuanya telah terjadi. Itu menjadi suatu kejadian yang cukup membuatku terpukul. Sesuatu yang sejak dari kecil aku permasalahkan, presentasi di depan kelas. Ini masalah yang serius buatku. Hingga sekarang aku masih merasakan yang namanya 'alergi' presentasi.

Alhamdulillaah, aku bersyukur hal itu terlewati. Tahap kedua untuk menjadi sarjana, yaitu seminar hasil (semhas). Dalam seminar hasil itu, aku harus mempresentasikan hasil penelitianku di hadapan dosen pembimbing, dosen pembahas, dan para mahasiswa. Pada awalnya aku memang merasa takut dan bimbang. Namun, lama kelamaan rasa takut itu juga hilang. Aku bersyukur sekali. Sedikit demi sedikit rasa gugup itu sirna. Hanya satu sekarang yang masih jadi masalah, kurangnya rasa percaya diri. Aku tidak percaya diri. Itu yang dibilang dosen pembimbingku. 

Saat menjawab pertanyaan dari dua mahasiswa yang bertanya padaku saat itu pun aku masih bingung cara menjelaskannya. Akhirnya aku dituntun dosenku bagaimana cara menjawabnya. Yang membuatku kaget saat itu, lema yang aku buat tidak cocok diterapkan pada pelabelan graf yang telah aku kerjakan. Aku mulai panik, tapi aku tetap bertahan. Aku berusaha mencari apa penyebab kesalahannya. 

Aku akui, algoritma dalam otakku memang berantakan. Aku sedang tidak mencela diriku sendiri, tapi memang itu kenyataannya. Apa yang aku pikirkan pasti tidak runtut. Apa yang seharusnya dilakukan terlebih dahulu, malah loncat ke langkah yang entah ke berapa. Namun, aku berusaha untuk mengerjakan kewajiban-kewajiban yang harus aku lakukan. Yah, meskipun hasilnya kadang tidak memuaskan. Tugas kita memang harus menyalakan lilin di antara kegelapan. Segala sesuatu yang terjadi pasti ada hikmahnya. Aku harus belajar percaya diri, meskipun aku tahu sangat sulit untuk mendapatkannya. 

Air mataku tak terbendung malam ini setelah aku ditelpon oleh ibuku. Ibuku masih mengharapkan aku untuk segera lulus, meski lewat kata-kata yang tersirat. Aku sedih tidak bisa cepat membuat orang tuaku bahagia. Aku merasa gagal menjadi anak yang berbhakti. Aku memang tidak cerita kalau tadi aku tidak percaya diri saat seminar karena takut ibuku sedih. Padahal, ibu dan bapakku selalu berharap kalau aku bisa menjelaskan hasil penelitianku dengan jelas kepada semua orang. Aku tahu itu, tapi aku masih belum berhasil mewujudkannya. Mungkin hanya kata maaf untuk mereka dariku yang tak bisa merealisasikan hal itu. 

Terlepas dari itu semua, aku bersyukur dengan hari ini. Setiap hari itu adalah pengalaman yang baik. Tidak ada hari yang buruk, yang ada hanyalah cobaan. Allah tak akan membebani hamba-Nya di luar kesanggupannya. Aku pasti bisa menjalani hidup ini dengan baik. Apalagi banyak orang-orang di sana yang mendukung dan menyemangatiku. Aku bersyukur mengenal mereka. Saat sebelum semhas, banyak sekali temanku yang menyemangati dan membantuku. Alin dan Risna, teman-teman kosku membantuku saat belajar presentasi. Mereka banyak memberikan saran yang sangat berarti untukku. Nurul, seorang teman baik yang sangat sering menyemangatiku. Rifa membantuku untuk membelikan snack untuk para dosen. Mbak Kartika juga datang dan menyemangatiku. Teman-teman Matematika 2010 yang sangat baik, mereka adalah pemantik yang menyalakan api semangat dalam jiwaku. Ya Allah, terima kasih atas segala karunia-Mu. Semoga mereka Engkau berkahi rezeki dan kebaikan karena telah membantuku. Aamiin. :)


Senin, 11 Agustus 2014

Secondhand Serenade - Maybe

Didn't you want to hear
the sound of all the places we could go
Do you fear the expressions on the faces we don't know
It's a cold hard road when you wake up
and I don't think that I have the strength to let you go

Maybe it's just me
couldn't you believe
that everything I said and did
wasn't just decieving

And the tear in your eye
and your calm hard face
makes me wish that I was never brought into this place

There goes my ring
It might as well have been shattered
and I'm here to sing
about the things that mattered
about the things that made us feel alive for oh so long
about the things that kept you on my side when I was wrong

Maybe it's just me
couldn't you believe
that everything I said and did
wasn't just decieving

And the tear in your eye
and your calm hard face
makes me wish that I was never brought into this place

And someday, I promise I'll be gone
and someday, I might even sing this song
to you..
I might even sing this song
to you..
to you..

And I was crying alone tonight
and I've been wasting all of my life just thinking of you
so just come back we'll make it better
so just come back I'll make it
better than it ever was
I'll make it better than it ever was

Maybe it's just me
couldn't you believe
that everything I said and did
wasn't just decieving

And the tear in your eye
and your calm hard face
makes me wish that I was never brought into this place

Maybe it's just me
couldn't you believe
that everything I said and did
wasn't just decieving

And the tear in your eye
and your calm hard face
makes me wish that I was never brought into this place

Maybe it's just me..

Jumat, 09 Mei 2014

Pesona Inggris

Pagi itu sekitar pukul 08.00 BST (British Summer Time) suasana kota London sungguh mempesona. Aku duduk di tingkat kedua dari Big Blue Tour, yaitu suatu bus tingkat yang membawa para turis berkeliling kota London. Turis-turis yang duduk bersamaku di bus ini berasal dari macam-macam negara di antaranya Prancis, Spanyol, dan Jepang. Aku dan mereka sungguh takjub dengan keindahan kota London. Kami dengan seksama mendengarkan instruksi dari pemandu wisata di bus sambil melihat ke sekeliling Marylebone Road saat itu.

Aku turun di Madame Tussauds bersama beberapa turis dari Prancis. Madame Tussauds merupakan museum tempat penyimpanan patung-patung lilin dari tokoh-tokoh terkenal di dunia seperti Lady Diana Spencer, Prince William, Shah Rukh Khan, Muhammad Ali, John F. Kennedy, dan lain sebagainya. Aku begitu kagum dengan karya-karya itu. Patung-patung lilin itu benar-benar mirip dengan tokoh aslinya. Aku menyempatkan diri untuk foto bersama patung lilin dari Lady Diana Spencer karena aku sangat mengagumi mantan istri dari Pangeran Charles itu. Sayang, probabilitas untuk bertemu dengannya sudah 0% karena beliau sudah tiada akibat kecelakaan mobil di Prancis pada tahun 1997.

Setelah berkunjung ke Madame Tussauds, aku menyempatkan diri untuk mengunjungi apartemen dari tokoh fiksi kesukaanku, yaitu Sherlock Holmes Museum di Baker Street 221B. Di lantai satu aku sempat mengambil foto ruang kerja Sherlock Holmes, tempat biasa ia dan koleganya, dr. Watson menerima kliennya. Setelah itu, aku beranjak ke lantai dua, yaitu ruang tidur dr. Watson. Di lantai tiga ada patung lilin Sherlock Holmes dan beberapa tokoh fiksi lainnya yang terlibat dalam kasus cerita yang ditulis oleh Sir Arthur Conan Doyle itu.

Kunjungan ke Sherlock Holmes Museum pun berakhir. Hari sudah semakin siang. Aku melanjutkan perjalanan dengan Big Blue Tour kembali untuk beralih ke tujuan-tujuan selanjutnya, yaitu Big Ben, London Eye, Westminster Abbey, Buckingham Palace, dan Menara London. Di tempat-tempat itu aku hanya menghabiskan sedikit waktu untuk berfoto-foto. Sebenarnya aku ingin naik ke London Eye, tetapi aku takut tidak sempat untuk mengunjungi tempat wisata lainnya.

Perjalanan wisata itu pun berakhir. Tepat jam lima sore aku turun di Marble Arch. Rintik-rintik hujan mengiringi langkah kakiku menuju hotel tempat aku menginap. Aku begitu senang hari ini sehingga tak peduli hujan membasahi tubuhku. Lagi pula ini adalah air hujan di Inggris yang sebelumnya belum pernah ku sentuh sama sekali. Perjalanan berkeliling London hari ini tak akan aku lupakan. Aku harus segera istirahat di kamar hotelku dan menyiapkan energi yang penuh karena esok hari aku akan berkunjung ke Anfield, yaitu markas tim sepak bola favoritku, Liverpool FC. Perjalanan dari sini ke Anfield akan menempuh sekitar empat jam perjalanan dengan menggunakan kereta dan bus.

Ketika aku baru saja sampai di mulut hotel, tiba-tiba ada seseorang dari arah yang tidak begitu jauh dari tempat aku berdiri memanggil-manggil namaku. Suara itu tak asing bagiku dan tampak familiar ketika ia semakin menyerukan namaku. Aku memutar badan dan melihat ke sekeliling, tetapi tak menemukan sumber suara. Ini seperti kisah Sherlock Holmes yang mendapatkan ucapan selamat malam dari orang asing yang tak disangka-sangka ternyata adalah Irene Adler, seorang yang menjadi target penyelidikannya saat itu. Aku coba membalas panggilan itu dan beberapa detik kemudian ia bersuara kembali. Entah yang ku dengar benar atau tidak, tapi ia bilang dengan jelas bahwa jemuran bajuku belum diangkat. Sejak saat itu aku baru sadar bahwa aku sedang duduk di depan laptop dan aku baru saja membaca artikel-artikel tempat wisata di Inggris. Ya, yang baru saja aku lakukan adalah berwisata di dalam lamunan panjang. Kalau bukan karena suara Lina, teman satu kosku yang tadi memanggil-manggil namaku, mungkin perjalanan lamunanku sudah sampai di stadion Anfield. 

Semua itu ternyata hanya sebuah khayalan belaka. Mungkin saja aku yang terlalu berobsesi untuk pergi ke Inggris dan terpesona dengan objek-objek wisatanya sehingga di dalam otakku akhirnya menampilkan bayangan tempat-tempat di Inggris yang ingin aku kunjungi. Pikiran itu seperti ruang yang di dalamnya ada sebuah proyektor untuk menampilkan sebuah film dokumenter perjalanan seorang wisatawan yang melancong ke beberapa lokasi di negara tempat tinggal Ratu Elizabeth II itu. Aku serasa benar-benar mengalaminya. Sungguh, betapa menyenangkan jika itu semua menjadi nyata.

Siapa yang tak bahagia dapat mengunjungi markas tim sepak bola favoritnya? Siapa yang tak bersuka ria dapat mengunjungi tempat-tempat wisata impiannya? Siapa yang tak senang untuk mengambil foto objek-objek wisata kesukaannya? Atau bahkan bertemu langsung dengan anggota keluarga kerajaan Inggris seperti Pangeran William? Semua itu memang menyenangkan. Namun, the initial reason yang telah memotivasiku dan memunculkan hasratku untuk dapat berada di Inggris adalah karena Bahasa Inggris yang merupakan bahasa paling fundamental di seluruh dunia. Aku sangat menyukai Bahasa Inggris sejak kecil. Aku tak tahu apa alasannya. Kata orang kalau mencintai sesuatu memang tidak butuh alasan. Tiba-tiba saja rasa suka itu muncul dari dalam hati. Pun kegemaranku dalam mempelajari Bahasa Inggris sampai saat ini belum pudar.

Harus ku akui memang bertahun-tahun sudah aku belajar Bahasa Inggris. Aku berusaha memahaminya. Namun, sampai saat ini pun aku belum fasih berbahasa Inggris. Mungkin penyebabnya adalah karena aku tidak sering menggunakan Bahasa Inggris itu sendiri untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang berada di sekitarku. Itulah yang menjadi awal mengapa aku ingin sekali pergi ke Inggris dan dapat mengetahui bagaimana rasanya berkomunikasi dengan banyak native speaker di sana.

Inggris akhirnya menjadi negara kedua yang memesona bagiku setelah Indonesia. Kekagumanku pada Inggris juga dimunculkan oleh kebiasaanku yang senang menonton English Premier League. Walau seorang perempuan, aku cukup fanatik dengan sepak bola. Mungkin ini diturunkan dari ayahku yang seorang penggemar sepak bola. Liverpool adalah klub sepak bola favoritku. To be honest, awal mulanya aku suka Liverpool karena ayahku juga pendukung Liverpool dan dulu ada pemain hebat yang bernama Michael Owen di klub itu. Aku melihat Michael Owen sebagai pemain bola yang lincah dan gesit dalam menguasai bola di lapangan.

Setelah delapan tahun Michael Owen bertahan di Liverpool, ia memutuskan untuk pindah ke Real Madrid pada tahun 2004. Kepindahan Michael Owen itu sempat membuatku sedih. Namun, aku tetap menyukai klub dengan slogan “You’ll Never Walk Alone” itu sampai sekarang. Michael Owen bukan lagi alasan mengapa aku menyukai Liverpool. Lagi-lagi aku tak tahu mengapa aku menyukainya. Ingin rasanya walau hanya sekali dalam seumur hidupku dapat memijakkan kaki di markas Liverpool, yaitu stadion Anfield. Aku ingin duduk bersama ayahku di antara ribuan liverpudlian yang dengan semangatnya mendukung Steven Gerrard dan kawan-kawan itu. Aku ingin melihat secara langsung Suarez berduet dengan Gerrard lalu mencetak gol ke gawang lawan dengan indahnya. Ah.. pasti seru sekali.

Selain gemar menonton sepak bola, aku juga suka membaca buku dan menonton film tentang detektif. Sherlock Holmes adalah detektif fiksi dari Inggris yang sangat aku sukai. Di dalam cerita yang dituliskan oleh Sir Arthur Conan Doyle, Sherlock Holmes tinggal bersama koleganya, yaitu dr. Watson di salah satu apartemen di Baker Street 221B, London, Inggris. Cerita-cerita petualangan Sherlock Holmes yang dikarang oleh Arthur Doyle begitu menarik. Salah satu petualangan yang aku suka adalah “The Adventure of the Dancing Men” dimana dalam cerita itu dikisahkan tentang seorang klien bernama Hilton Cubitt yang menemukan gambar-gambar seperti orang menari dan sangat ditakuti oleh istrinya. Yang paling aku suka dari Sherlock Holmes adalah cara ia dalam menarik suatu kesimpulan. Arthur Doyle benar-benar menggambarkan Sherlock sebagai seorang detektif yang cerdas.

Karena aku menyukai cerita Sherlock Holmes, aku ingin sekali berkunjung langsung ke markasnya di Baker Street 221B. Saat ini, tempat itu terasa begitu nyata dengan sebutan The Sherlock Holmes Museum. Aku ingin melihat secara langsung tempat di mana Sherlock Holmes tinggal dan tempat di mana ia melayani para kliennya untuk memecahkan kasus dengan penuh antusias. Selama ini aku hanya bisa melihat gambar tempat itu di internet saja. Aku ingin mengabadikan hal-hal menarik di tempat itu langsung lewat kameraku sendiri.

Selain The Sherlock Holmes museum, tempat-tempat seperti Buckingham Palace, Sungai Thames, Westminster Abbey, Universitas Oxford, Stonehenge, London Eye, Big Ben, Madame Tussauds, dan Menara London juga merupakan tempat-tempat yang tidak luput dari keinginanku untuk mengunjunginya. Sebagaimana yang telah kita ketahui selama ini bahwa tempat-tempat tersebut merupakan icon dari Inggris. Aku yakin banyak sekali orang yang tahu mengenai beberapa tempat itu dan ingin sekali mengabadikan objek-objek yang menjadi kebanggaan negara Inggris tersebut. Rasanya kurang berkesan jika pergi ke Inggris tetapi tidak mampir ke situ.

Ya begitulah salah satu impian terbesar dalam hidupku. Meskipun probabilitas untuk mengunjungi Inggris adalah 0.01%, namun itu masih dapat terjadi. Tak ada yang tak mungkin jika kita berusaha keras dan berdoa. Aku yakin suatu saat nanti pasti ada jalan untuk ke sana. Never lose hope and goodbye. :D

*Wait. Aaah aku lupa jemuran bajuku...





Rabu, 07 Mei 2014

Dear Matematika 2010

           “Matematika? Manut wae!”
           
            Kapan ya aku bisa mendengar sorakan seperti itu lagi?
          
       “Dari Teknik sampai KIP ada satu fakultas yang oke. FMIPA fakultasnya, matematika jurusannya. Matematika.. matematika.. anak-anak matematika.. manut wae....”

        Kapan ya aku bisa bernyanyi seperti itu lagi bersama-sama dengan kalian? Kapan ya aku bisa melihat dan mendengarkan beberapa dari kalian main gitar dan bernyanyi lagi? Kita dulu tak pernah menyangka akan bertemu seperti ini. Kita dulu tak pernah tahu kemana takdir membawa kita untuk bertemu dengan siapa saja di fase kehidupan setelah SMA. Aku hanyalah seorang perantau dari daerah Sumatera yang tak tahu menahu tentang Solo, terlebih lagi Universitas Sebelas Maret (UNS) yang ternyata di situlah aku melanjutkan pengejaran ilmu matematika. Aku mencoba keluar dari comfort zone untuk berguru pada dosen-dosen di Solo sampai harus melakukan hal yang tak pernah aku duga sebelumnya, yaitu meninggalkan kedua orang tua dan adikku. Walaupun hanya sementara, tetapi aku sadar kalau aku tak bisa lagi setiap pagi mencium tangan kedua orang tuaku untuk berangkat mencari ilmu seperti yang aku lakukan dulu saat hendak berangkat ke sekolah. Aku tak bisa lagi sering-sering berkumpul di depan TV entah itu untuk makan malam atau sekedar bersenda gurau bersama keluarga di rumah. Namun, aku yakin inilah jalan yang dipilihkan Allah untukku. 

     Berada di Solo tidak terlalu buruk bagiku. Kota ini adalah kota yang menyenangkan. Budaya Jawa sangat dijunjung tinggi di sini, mulai dari bahasanya, tata kramanya yang sungguh halus, sampai acara-acara adatnya yang masih terus dilestarikan. Aku memang berasal dari orang tua yang asli orang Jawa, tapi karena aku lahir dan besar di Sumatera, aku tak pandai berbicara dengan bahasa Jawa. Namun, jika aku mendengarkan orang-orang berbicara dengan bahasa Jawa yang tipenya adalah bahasa ngoko, aku masih paham dengan maksudnya. Sikapku yang terbiasa dengan pergaulan di Sumatera agak susah  diterima di sini. Bahasa gaul yang pakai istilah ‘gue dan elo’ di Sumatera tidak cocok diterapkan di sini. Memanggil senior dengan sapaan ‘Kak’ saja sudah aneh. Aku dulu pernah memanggil salah satu seniorku di matematika dengan sapaan tersebut lalu aku malah ditertawakan.

     Aku bersyukur bertemu dengan teman-teman satu angkatan seperti kalian di jurusan matematika ini. Aku masih ingat kalian terheran-heran dengan keberadaanku di sini karena aku yang berasal dari Lampung. Setelah lulus dari SMA aku memang berhasrat ingin melanjutkan kuliah di Pulau Jawa dan di sinilah aku bertemu dengan kalian. Bagiku kalian adalah orang-orang yang luar biasa. Kalian telah banyak memberikan inspirasi bagi perkembangan kepribadianku. Aku tak tahu akan jadi apa diriku jika masih tetap saja berada di Lampung. Mungkin aku akan tetap menjadi anak manja. Dengan adanya kalian, aku jadi bisa belajar mandiri karena aku melihat hal itu di diri kalian. Aku bahkan iri karena sebagian besar dari kalian sudah bisa mendapatkan penghasilan entah itu dari ngelesi atau membuka usaha sendiri. 

    Selama ini aku akui bahwa aku tidak banyak dekat dengan kalian. Aku sering menjauh jika kalian sedang bersenda gurau bersama-sama. Bukan apa-apa, ini memang sifatku yang pendiam dan tak pandai bicara banyak apalagi aku tak pandai berbahasa Jawa. Aku tak lebih dari sebuah api kecil yang harus ditunjang dengan sesuatu yang dapat membuatnya dapat berkobar. Aku tahu kalau kalian selama ini juga menganggapku sebagai orang yang serius. Itu terbukti saat aku dinobatkan sebagai pengurus terserius oleh HIMATIKA. Namun, sebenarnya aku tak terlalu begitu. Aku adalah orang yang sangat suka bercanda. Orang-orang yang sudah kenal dekat denganku pasti mengetahui tentang itu. Aku sempat heran salah satu dari kalian pernah bilang kalau aku tidak bisa diajak gojek alias bercanda. Ya walaupun aku sempat tersinggung tapi aku hargai pendapat itu. Aku sadar di dunia ini pasti setidaknya ada dua orang yang saling berbeda pendapat.

      Saat dulu masih menjadi mahasiswa baru, aku juga pernah ditegur oleh salah satu dari kalian karena aku mengucapkan kata-kata yang tidak sepantasnya aku ucapkan di sini. Aku sangat berterima kasih akan hal itu karena masih ada yang peduli terhadap tindakanku. Aku tak akan mengulangi hal itu lagi. Kata-kata itu memang biasa diucapkan di daerahku sana dan aku tidak mengerti ternyata di sini begitu tabu. Aku benar-benar minta maaf atas ketidaktahuanku.

    Aku rasa kita ini adalah angkatan yang kompak. Memang masih terlihat jelas bahwa beberapa di antara kita ada yang suka berkelompok-kelompok. Namun, kita selalu bisa membuat acara-acara yang dapat membuat kita dapat merasakan kekompakan itu. Aku rasa kalau kita tidak kompak, kita tak akan bisa merealisasikan acara-acara angkatan seperti jalan-jalan ke Jogja dan ke Malang seperti waktu itu. Aku sangat bersyukur dan berterima kasih sekali karena bisa ikut ke Malang. Itu adalah pertama kalinya aku melakukan perjalanan ke Jawa Timur. Perjalanan itu merupakan salah satu perjalanan yang sangat berharga seumur hidupku. Kita benar-benar bersenang-senang di dalam bus, ya meski ada yang pusing dan mual juga.

      Dengan segenap hati, aku minta maaf pada kalian yang sebesar-besarnya atas kesalahan yang pernah aku buat selama ini. Mungkin ada banyak yang tersinggung dengan kata-kata dan tingkah lakuku. Aku di sini sudah berusaha untuk menyesuaikan diri dengan kalian dan to be honest itu sangat sulit. Aku sangat menyayangi kalian teman-temanku satu angkatan. Biarpun kita berbeda-beda pendapat, tapi kita tetap kompak. Ingat tidak waktu itu kita dimarahi kakak tingkat saat ospek, membuat co-card, dan buku kenal bersama-sama? Masihkan kalian menyimpannya? Jangan lupakan hal itu karena lewat hal-hal itu kita bisa bersama-sama sampai sekarang. Jangan juga melupakan mereka yang tidak lagi berada bersama kita karena mereka pernah berjuang dan melewati hal-hal sulit bersama dengan kita.

        Teman-temanku, mungkin ada di antara kalian yang suatu saat nanti sudah lupa dengan keberadaanku di matematika 2010. Namun, aku akan berusaha mengingat kalian di dalam memoriku. Terima kasih atas pengalaman yang telah diberikan selama ini. Terima kasih kalian telah mau menjadi temanku. Terima kasih karena aku diizinkan menjadi bagian dari kalian. Terima kasih sudah banyak membantuku selama ini. Terima kasih telah mengajarkanku akan arti kesetiakawanan. Terima kasih telah mengajarkanku tentang tata krama yang baik. 

      Satu statement buat kalian: Bertemu kalian adalah hal yang menyenangkan. :)

M0110006