"Live as if you were to die tomorrow. Learn as if you were to live forever." - Mahatma Gandhi
Minggu, 25 Desember 2011
Drew - Yang Ini Untuk Kamu
Dari semua yang ku lakukan
Dari semua akan ku sampaikan
Dari semua mimpi terkabulkan
Dari semua khilaf dan kesalahan
Kau yang paling benar
Kau yang paling benar
Kau yang paling benar
Ku jatuh cinta setengah mati
Ku jatuh cinta setengah mati
Ku jatuh cinta setengah mati
Ku jatuh cinta setengah mati........
Jumat, 16 Desember 2011
Sepercik Kenangan Mendebarkan
Sempet terlintas juga sih di pikiran kalo panggilan "Mas" itu agak aneh. Masalahnya, bukannya panggilan "Mas" itu juga dipake oleh seorang istri untuk memanggil suaminya ya? (=__=a) Makanya biar aman manggilnya "Kakak" aja. Lha tapi budaya di Jawa emang udah seperti itu kok, mau diapain lagi. Semuanya pada manggil "Mas", yaudah deh ikutan aja.
Mundur ke belakang lagi ya, aku jadi mahasiswa UNS lewat jalur PMDK. Aku inget waktu jadi maru dulu sempet ditahan di auditorium UNS. Maksudnya ditahan arti eksplisitnya aku gak diperbolehkan UNS untuk daftar perguruan tinggi manapun lagi. Kamu tau, saat aku bosen gila di auditorium, teman-teman seperjuanganku yang lain sedang mengikuti SNMPTN demi memperebutkan satu bangku kuliah di perguruan tinggi yang mereka inginkan. Bayangin dong, kalo aku daftar lagi berarti UNS dengan santainya bakal ngelepas aku tanpa mengijinkan untuk balik lagi walaupun mohon sampe air mata terakhir pun udah gak bakal boleh (husss pergi sono!) Tapi alhamdulillah, aku bersyukur sekali masih ada perguruan tinggi yang mau menerima aku ada apanya. Iyalah, kalo aku gak ada apa-apanya gak mungkin mereka nerima aku. ^^

Sebenernya waktu SMA aku pengen kuliah di UGM. Tapi banyak pertimbangan banget kalo aku mau kuliah disana. Aku inget Mbak sepupuku kuliah di UNS, dan kebetulan waktu itu sekolahku diundang UNS untuk mendaftar PMDK. Yaudah deh, aku ikut aja tuh jalur PMDK. Prodinya cuma boleh milih 1 doang. Bingung pilih apa. Waktu itu aku bingung antara Teknik Kimia sama Matematika murni. Lihat di rapor, nilai kimiaku rata-rata naik. Tapi nilai matematika malah naik turun. Well, akhirnya karena minatku memang di matematika jadi pilih matematika aja deh. Aku juga gak terlalu suka kimia, karena ada praktikumnya sih. Hehe.
Berkas-berkas syarat buat PMDK mulai dari fotokopi rapor, slip pembayaran Bank BTN, dan lain-lain aku urusi dengan sepenuh hati (ciyeee). Iyalah, ini masalah nasibku gitu. Aku berharap UNS mau menerimaku, ya meskipun di hati masih aja pengen UGM... UGM... yaudah nanti... nanti... sabar... sabar...
Malam itu, lewat sms aku mencoba mencari tahu nasibku diterima atau tidak. Dag.. dig.. dug.. dag.. dig.. dug.. Jantung berdebar-debar, pikiran bertanya-tanya, apakah Solo takdirku. Dan alhamdulillah aku diterima. Ibuku sangat senang sekali. Dan begitulah, kehidupanku selanjutnya harus aku labuhkan di Solo, walau dengan berat hati harus jauh dari orang tua dan adikku tercinta. Siapa tau juga aku nanti ketemu jodoh di Solo. Who knows?
Setelah diterima, selanjutnya adalah galau tentang gimana nanti aku menjalani kehidupan di Solo. Oh Man, waktu itu aku bingung banget dong. Bayangin aja, biasanya apa-apa sama orang tua sama adek, ntar tiba-tiba semuanya harus aku urusin sendiri. Aku harus tinggal di kost, tiap hari harus cari makan sendiri, ke kampus gak ada yang nganterin, soalnya waktu SMP dan SMA aku selalu dianter sama bapak karena jarak rumah dan sekolah cukup jauh. Itu kenangan yang berharga buatku. Aku amat sangat berterima kasih sama bapak karena begitu baik mau mengantar anaknya ini sekolah sampe sering telat masuk ngajar. Di UNS waktu liat ada mahasiswa yang dianter atau dijemput bapaknya, aku sering teringat waktu sekolah dulu aku juga kayak gitu. Kangen banget...
Langsung aja, waktu itu saat sudah mendekati tanggal registrasi, aku diantar ibu tapi gak langsung ke Solo. Kita singgah dulu di Klaten tempat mbah. Aku ke Solo diantar sepupu-sepupuku, namanya Mbak Ani, Mbak Puji, dan Tiwi, sementara ibuku stay di Klaten. Mbak Puji adalah kakak sepupuku yang kuliah di UNS. Mbak Ani adalah kakak kandung dari Mbak Puji, dia udah lulus S-1 akuntansi di UNSOED dan Tiwi adalah sepupu yang sepantaran denganku. Waktu itu aku, Tiwi dan Mbak Ani nginep di kostan Mbak Puji. Esok harinya aku harus registrasi di auditorium, sementara Tiwi di Solo bermaksud untuk mengikuti tes SNMPTN. Sebenernya dia udah diterima di UNDIP, tapi masih pengen nyoba yang lain.
Iya, waktu itu aku diantar Mbak Ani ke auditorium dan habis itu aku ditinggal sendiri kayak orang ilang. Duh... bingung aku, gimana gak berdebar-debar coba. Mbak Ani nanti bakal balik lagi kalau aku dah selesai registrasi. Pertama kali aku kenalan itu sama anak D3-Farmasi, tapi sayangnya aku lupa siapa namanya -___-a yang jelas dia cewek. Waktu itu aku inget banget, berkas-berkasku dikomentarin bapak-bapak di meja registrasi karena aku nyusunnya gak rapi. Walalala... I'm Sorry, Sir. Habis itu aku bingung deh, mau gak mau harus punya kenalan kan? Nah... saat mau ambil almamater, aku ngikutin rombongan anak Jakarta, salah satunya satu jurusan sama aku, namanya Nisa. Satunya lagi yang aku inget itu anak kimia, namanya Isnaeni. Huft... inilah derita awalnya anak rantauan. Gak tau apa-apa, ngekor aja sama rombongan orang.
Oke, itu aja dulu deh yang mau aku share.
Kapan-kapan lagi yak...
Yang jelas, kalo kamu mau hidup merantau intinya harus punya tekad keberanian yang kuat!
Dan... kamu harus siap-siap didera rasa kangen yang tinggi kepada keluargamu di rumah.
Tapi gak papa, itu juga buat latian mandiri kok :)
Mari berjuang!
Senin, 28 November 2011
Mama's Coat by George Baker
Sabtu, 26 November 2011
Krishna New Spectrum - Kau Buatku Menangis
"Kau buatku menangis
Kau buatku tersiksa
Merasakan perih hancur perasaan ini
Tiada derita pernah ku alami
Sehancur denganmu
Sepanjang umurku
Saat ku inginkan dirimu"
Krishna Balagita
Jumat, 25 November 2011
Let's Talk About Love
Hati wanita sedalam lautan seluas samudera. Menyimpan rahasia yang kerap sulit dimengerti. Termasuk untuk mencintai seorang laki-laki. Tak satupun yang belum tentu bisa menebak dengan benar siapa yang berada dalam hatinya. Ketika kesetiaan itu tetap terjaga, sering kali laki-laki yang ia cintai tak peka dan akhirnya memilih wanita yang lain. Dan mungkin... selama laki-laki itu belum menjadi milik wanita lain itu seutuhnya, ia masih tetap mencintainya dalam hati. Meski bibir berkata tak cinta lagi, tapi di hati sering menyangkalnya. Ia masih mencintainya.
Seorang wanita memang adalah sebagai penunggu, bukan pemulai. Jadi apadaya, menunggu memang sudah menjadi ketentuannya. Dan entah penantian itu akan cepat datang atau malah sebaliknya. Mungkin saja ia mencintai seorang laki-laki yang sebenarnya laki-laki itu juga mencintainya, tetapi ia masih belum berani untuk mengungkapkan. Laki-laki juga manusia, pasti masih ada rasa tak berani. Tapi mungkin satu hal yang cukup bisa diterima bahwa mengungkapkan cinta bukan berarti harus menjadi sebuah jalinan hubungan. Jika telah mengungkapkan cinta, berarti laki-laki itu telah berani mengeluarkan beban cinta yang ada di pikirannya kepada seorang wanita dan tentu saja secara tidak langsung ia telah membuat satu orang wanita menjadi merasa diperhatikan. Ya meskipun kadang ada wanita yang langsung meresponnya dengan tidak ramah secara mentah-mentah. Jika memang ingin menjadi sebuah hubungan yang serius, itu hanya Tuhan yang dapat memberikan izin. Mungkin karena di antara kita telah dewasa, kita dapat menilai sendiri apakah hubungan kita nanti direstui atau tidak oleh Tuhan lewat rencana yang ada di pikiran kita, apa sajakah yang akan kita lakukan saat menjalin hubungan nanti, apa hubungan seperti nanti baik atau buruk. Silahkan berpikir matang-matang.
Mungkin ketika wanita mencintai seorang laki-laki dan laki-laki itu juga mencintai wanita itu sedang berjalan dengan arah yang berbeda, sebenarnya hati mereka sedang bertemu dan berbicara. Keduanya bisa saling bertemu pada waktu yang tepat ketika Tuhan sudah mengizinkan. Dan mungkin akan menjadi satu pasangan ketika keduanya berjodoh. Hanya kesabaran yang harus diciptakan ketika masih dalam masa penantian. Dan ketika kau mencintai Tuhan, maka Ia pasti akan membantumu menemui penunggumu atau pemulaimu. Satu hal yang pasti, ia adalah cerminan dari diri kita sendiri. Jangan berharap mendapat yang sempurna jika diri sendiri masih malas dan kurang peduli dengan Tuhan. Diri ini harus berproses lebih baik ketika menginginkan yang lebih baik juga.
Laki-laki butuh seorang wanita sebagai istri dan wanita pun butuh seorang laki-laki sebagai suami. Karena itu pernikahan ada. Ketika seorang laki-laki tak dapat mengendalikan emosinya, wanitalah yang dapat menenangkan pikirannya dan membuatnya lebih sabar. Wanita yang baik adalah salah satu hal dibalik kesuksesan seorang laki-laki. Ketika seorang wanita bersedih dan menangis, laki-laki yang akan dapat menjadi sandarannya dan menenangkan hatinya. Itu mungkin sebabnya mengapa laki-laki tidak boleh menangis. Karena jika ia terlampau begitu, lalu siapa yang akan menghapus air mata wanita jika ia sendiri menangis?
Let’s be a good woman. Your good heart will bring you to a good man. Love yourself, love your family, love your job, love your life. He will surely come with kindness.