Jumat, 14 Agustus 2015

Anastasia (1997)

Film animasi yang diproduseri oleh Don Bluth dan Gary Goldman ini benar-benar sudah menyentuh hati saya dan jujur, baru akhir-akhir ini saya nontonnya dengan serius. Tau film Anastasia pertama kali waktu diputer di salah satu stasiun tv swasta. Waktu itu saya masih sekolah (lupa di tingkat apa) dan nontonnya juga nggak mendalami banget. Jadi beberapa hal yang masih diinget tuh ada tokoh Anya yang lupa ingatan dan Dimitri, lalu keduanya jatuh cinta, serta ada tokoh Rasputin yang jahat. Eh, ini pas ditonton lagi ternyata keren banget. Nggak cuma sekedar film tentang cinta. Film ini diadaptasi dari kisah sejarah Rusia tentang Grand Duchess Anastasia Nikolaevna of Russia. Meskipun banyak dari film ini yang nggak cocok dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Rusia dan keluarga Romanov di kala itu, tapi menurut saya film ini tetap mengesankan.


Anastasia (1997), Twentieth Century Fox
Setting cerita terjadi pada tahun 1916. Saat itu Tsar Nicholas II sedang mengadakan pesta perayaan keluarga Romanov yang sudah memegang kekuasaan selama 300 tahun. Anastasia yang merupakan cucu perempuan terakhir dari Dowager Empress Marie  dihadiahi suatu kotak musik dengan alat pembukanya yang berupa liontin bertuliskan “Together in Paris” sebagai hadiah perpisahan dari neneknya itu yang akan kembali ke Paris. Pada saat pesta berlangsung, Rasputin yang tadinya dianggap sebagai orang kepercayaan Tsar Nicholas II dan sekarang menjadi pengkhianat, akhirnya datang untuk mengutuk keluarga kerajaan Rusia itu. Ia bersumpah akan membunuh semua anggota keluarga Romanov. Ia bahkan rela menjual jiwanya demi memperkuat sihir hitamnya. Setelah itu terjadilah kerusuhan di St. Petersburg karena kekuatan jahatnya itu.

Seluruh rakyat St. Petersburg lari berhamburan saat terjadi revolusi itu. Para tentara di St. Petersburg mengepung istana. Anastasia yang sedang berusaha menghindari kerusuhan itu bersama neneknya, tiba-tiba teringat kotak musiknya yang tertinggal di kamar. Ia pun berlari untuk mengambilnya. Setelah mendapatkan kotak musik itu, ia bersama neneknya ditunjukkan jalan pintas untuk keluar dari kamar itu oleh seorang anak laki-laki bernama Dimitri yang bekerja sebagai pelayan dapur di istana. Dimitri mengarahkan Anastasia dan neneknya untuk keluar lewat suatu dinding yang dapat dibuka. Kotak musik Anastasia jatuh lagi saat buru-buru masuk ke dinding yang terbuka itu. Anastasia ingin mengambilnya lagi, tetapi Dimitri tak mengizinkannya karena sekelompok orang bersenjata sudah mendekati kamarnya. Setelah Anastasia dan neneknya pergi, Dimitri mencoba melawan orang-orang itu. Namun, ia pun dipukul dan pingsan seketika di depan kotak musik yang dijatuhkan oleh Anastasia tadi. Anastasia dan neneknya berusaha meraih kereta yang sudah berjalan. Neneknya dengan sekuat tenaga berhasil naik ke kereta itu. Ia mencoba meraih tangan Anastasia, tetapi sayang, akhirnya mereka harus terpisahkan. Anastasia jatuh pingsan di antara kerumunan orang.

Anastasia tidak ingat tentang masa lalunya setelah itu. Ia tinggal di sebuah panti asuhan dan selanjutnya dikenal dengan nama ‘Anya.’ Sepuluh tahun kemudian, Anya meninggalkan panti asuhan itu dan ia disuruh oleh ibu pengurus panti asuhan untuk pergi ke desa nelayan. Namun, setelah sampai di persimpangan, ia pun bimbang karena ia juga ingin pergi ke arah St. Petersburg untuk mencari tahu jati dirinya. Ia duduk di persimpangan jalan itu untuk menunggu suatu petunjuk dan pada saat itulah ia berjumpa dengan Pooka, seekor anak anjing yang mengambil syal miliknya. Pada saat Anya berusaha untuk mengambil kembali syalnya, ia pun terjatuh. Ia melihat Pooka menggigit-gigit dan menjatuhkan syalnya di arah St. Petersburg. Saat itulah Anya menyadari bahwa itu kemungkinan suatu petunjuk yang harus ia ikuti. Di scene inilah Anya menyanyikan lagu “Journey to the Past” yang saya sukai. Saya pernah share lagunya di blog ini dari Youtube tahun 2013 silam.


Anastasia (1997), Twentieth Century Fox
Saat itu, warga St. Petersburg sedang disibukkan dengan rumor tentang Grand Duchess Anastasia (“A Rumor in St. Petersburg”). Mereka menduga-duga apakah ia masih hidup atau sudah meninggal. Dimitri bersama rekannya, Vladimir, pun mengadakan audisi untuk mencari perempuan yang mirip dengan Grand Duchess Anastasia agar dapat membawanya ke Paris dan mempertemukannya dengan Dowager Empress Marie sehingga mereka dapat memperoleh imbalan sebesar sepuluh juta rubles. Mereka berencana untuk melakukan penipuan besar-besaran demi mendapatkan imbalan itu. Namun, setelah audisi itu selesai, mereka belum juga mendapatkan sosok yang mirip dengan Anastasia.

Ketika sudah tiba di St. Petersburg, Anya datang ke tempat penjualan tiket untuk pergi ke Paris. Penjual tiket itu bersikap kasar kepada Anya setelah tahu bahwa Anya tidak mempunyai exit visa. Setelah itu, Anya diberi tahu oleh seorang wanita tua untuk menemui Dimitri di istana tua untuk mengurus dokumen berpergiannya. Anya mengikuti saran wanita tua tadi dan akhirnya tiba di istana tua. Ia masuk ke dalamnya dengan memaksa membuka papan-papan yang digunakan sebagai palang pintu istana itu sampai terjatuh. Dimitri mendengar suara papan itu dan ia pun mulai curiga kalau ada seseorang yang masuk ke istana. Di dalam istana, Anya melihat barang-barang di istana yang sudah terselimuti oleh debu. Ia lalu menyanyikan lagu “Once Upon a December” dan menari bersama bayang-bayang ayahnya dan saudara-saudaranya. Selesai bernyanyi, Anya dikagetkan oleh teriakan Dimitri yang ditujukan kepadanya. Anya berlari menaiki tangga dan berhenti setelah diteriaki ‘stop’ oleh Dimitri.


Anastasia (1997), Twentieth Century Fox
Setelah mengamati Anya dalam-dalam dan mengetahui bahwa ia juga ingin pergi ke Paris, Dimitri yakin bahwa Anya memang mirip sekali dengan Grand Duchess Anastasia. Ia dan Vladimir langsung meyakinkan Anya untuk ikut mereka ke Paris dan menemui Dowager Empress Marie sebagai cucu perempuannya yang ia cari-cari selama ini. Awalnya Anya tidak yakin untuk menerima tawaran mereka karena ragu bahwa ia adalah seorang Grand Duchess Anastasia. Namun, karena dugaannya bahwa ia bukanlah Anastasia belum tentu benar dan dengan pikiran kalau saja memang ia yang benar-benar dicari oleh Dowager Empress Marie selama ini, akhirnya Anya menyetujui untuk ikut Dimitri dan Vladimir ke Paris demi menemukan keluarganya.


Anastasia (1997), Twentieth Century Fox
Rasputin yang mengetahui bahwa Anya adalah Anastasia, keturunan Romanov yang masih hidup, akhirnya merencanakan untuk mencelakakannya bersama Bartok, kelelawar albino kepercayaannya sambil menyanyikan lagu “In the Dark of the Night”. Ia akan membuat Anya celaka lewat kereta yang ia naiki bersama Dimitri dan Vladimir dengan mengirimkan sihir-sihirnya untuk memotong gerbong kereta yang ditumpangi Anya agar terpisah dari gerbong lainnya. Saat Rasputin dan Bartok sedang merencanakan hal jahat itu, di dalam kereta Anya dan Dimitri memperlihatkan ketidakcocokan pendapat di antara mereka, bahkan tidak jarang mereka bertengkar. Anya sering merasa terganggu ketika Dimitri mengajaknya berbicara dan setelah itu terjadi perdebatan di antara mereka. Vladimir melihat hal itu sebagai ketertarikan yang tak terucapkan. Dimitri pun menyangkal dengan ketusnya akan hal itu.

Rencana Rasputin yang bertujuan untuk mencelakakan Anya yang sedang berada di dalam kereta gagal total berkat kerja sama Anya, Dimitri, dan Vladimir yang dengan sergapnya dapat mengatasi bahaya itu. Mereka bertiga lompat dari gerbong yang akan meluncur ke jurang. Mereka bertiga lalu melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Stralsund, Jerman, untuk naik kapal menuju Prancis. Selama perjalanan menuju pelabuhan itu, Anya diajari tata cara menjadi seorang Grand Duchess oleh Vladimir dan Dimitri. Ia juga disuruh menghafal nama-nama keluarga kerajaan Rusia. Hal itu dituangkan dalam lagu “Learn to do It.”

Ketika sudah tiba di Pelabuhan Stralsund, Anya, Dimitri, dan Vladimir naik kapal yang bernama Tasha. Dimitri membelikan gaun berwarna biru untuk Anya. Setelah Anya memakainya, Vladimir menyuruh Dimitri untuk berdansa dengan Anya. Saat itulah benih-benih cinta antara Anya dan Dimitri mulai tumbuh. Dimitri tampak sangat gugup dan salah tingkah saat berdansa dengan Anya. Dimitri tampak sulit sekali untuk mengutarakan perasaannya kepada Anya. Mungkin itulah yang dimaksud oleh Vladimir tentang ketertarikan yang tak terucapkan.
Anastasia (1997), Twentieth Century Fox
Malam harinya, Rasputin mulai beraksi lagi untuk mencelakakan Anya. Rasputin menggunakan sihirnya lagi untuk memasuki alam mimpi Anya yang sedang tidur terlelap. Dalam mimpi itu, Anya melihat adik laki-lakinya yang mengajaknya terjun ke suatu danau. Anya terus mengikuti langkah kaki adiknya itu hingga tiba di ujung tebing. Ternyata, pada kenyataannya, Anya benar-benar berjalan sambil tidur menuju pagar kapal. Ia menaiki pagar kapal sambil memegangi tali penyangga di sebelahnya tanpa sadar. Pooka yang melihat kepergian Anya dari kabinnya segera membangunkan Dimitri untuk menolong Anya. Dimitri dengan sergap berlari mencari Anya. Ketika ia menemukan Anya, ia langsung mencegah Anya agar tidak jatuh ke laut, lalu membangunkannya. Anya begitu ketakutan hingga menangis. Dimitri pun memeluknya dan menenangkannya.

Setelah tiba di Paris, Prancis, Anya, Dimitri, dan Vladimir langsung menuju ke kediaman Sophie, sepupu dari Dowager Empress Marie. Ia memiliki hubungan yang erat dengan Vladimir. Anya pun diperkenalkan sebagai Grand Duchess Anastasia pada Sophie. Sophie mengajukan beberapa pertanyaan untuk meyakinkan bahwa ia benar-benar Anastasia yang dicari selama ini. Pertanyaan kunci yang diajukan Sophie adalah bagaimana cara Anastasia melarikan diri dari istana saat terjadi insiden di St. Petersburg saat itu. Dimitri tampak panik karena takut Anya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Namun, kemudian ia menjadi terkejut karena ternyata Anya menjawab bahwa ada seorang anak laki-laki yang membukakan dinding untuknya. Dimitri menjadi tahu bahwa Anya yang selama ini bersamanya adalah benar-benar Grand Duchess Anastasia karena apa yang dijawab Anya pada pertanyaan kunci itu benar adanya dan ia lah yang selama ini membukakan dinding untuk Anastasia.

Setelah itu, Sophie mengajak Anya, Dimitri, dan Vladimir untuk berbelanja di Paris. Ia mengajak mereka ke Toko Chanel dan beberapa tempat menarik lainnya seperti Moulin Rouge dan Menara Eiffel. Sophie memberikan Anya bunga mawar. Anya pun menancapkannya satu ke jas yang dipakai Dimitri. Saat itulah Sophie menyanyikan lagu “Paris Holds the Key (to Your Heart)” untuk menyambut teman-temannya di Paris. Di saat teman-teman yang lain bergembira bernyanyi dan menari bersama, Dimitri justru tampak murung dan masih merasa terkejut karena gadis yang selama ini bersamanya adalah benar-benar Anastasia, pewaris tahta Rusia yang telah hilang selama ini. Dimitri sebenarnya bahagia karena Anya telah menemukan keluarganya. Yang ia risaukan adalah dirinya yang terlanjur jatuh cinta kepada Anya. Dimitri harus siap berpisah dari Anya. Ia merasa tidak pantas bagi seorang Anastasia karena ia hanyalah seorang pelayan dapur istana.
Anastasia (1997), Twentieth Century Fox
 Demi menemui Dowager Empress Marie, Anya, Dimitri, dan Vladimir datang ke Place de L’Opera untuk menonton pertunjukan Ballet Cinderella. Anya begitu tegang saat menanti waktu untuk bertemu neneknya. Dimitri pun berusaha membuatnya tenang dengan meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Setelah pertunjukan selesai, Dimitri dan Anya langsung bergerak menuju ruangan Dowager Empress Marie. Sebelum Dimitri masuk, Anya tampak ingin mengutarakan sesuatu pada Dimitri, tapi akhirnya ia hanya mengucapkan terima kasih. Dimitri juga begitu, ia tampak gugup dan sulit untuk mengungkapkan perasaannya. Pada akhirnya, ia hanya mengatakan semoga berhasil untuk Anya.

Dimitri ditolak mentah-mentah untuk menemui Dowager Empress Marie saat sudah masuk ke ruangannya. Namun, ia tetap bersikeras menemuinya. Dowager Empress Marie ternyata sudah pernah mendengar tentang Dimitri dan mengetahui apa yang telah dilakukannya selama ini. Ia tahu bahwa Dimitri adalah seorang penipu dari St. Petersburg yang telah melakukan audisi untuk mencari seseorang yang mirip dengan Anastasia demi mendapatkan uang sepuluh juta rubles. Dimitri terus meyakinkannya bahwa yang ia bawa saat ini adalah benar-benar Anastasia yang asli, tapi ia terlanjur tidak percaya. Akhirnya, Dimitri diusir secara paksa oleh dua pengawal Dowager Empress Marie.

Anya yang mendengar seluruh pembicaraan Dimitri dan Dowager Empress Marie tadi langsung kecewa dan marah kepada Dimitri. Ia merasa sudah diperalat dan ditipu selama ini. Anya sudah tidak ingin mendengarkan penjelasan dari Dimitri. Anya menampar Dimitri dan meninggalkannya. Dimitri masih tidak patah semangat untuk meyakinkan Dowager Empress Marie. Ia menculiknya dan membawanya ke tempat kediaman Anya. Saat membuka pintu mobil, Dimitri langsung memaksanya untuk bertemu dengan Anya. Dowager Empress Marie tetap bersikeras tidak mau memenuhi kehendak Dimitri. Namun, setelah Dimitri memperlihatkan kotak musik milik Anastasia, Dowager Empress Marie langsung luluh dan mau menemui Anya.

Dowager Empress Marie mengetuk pintu kamar Anya dan masuk ke kamarnya. Tadinya Anya berpikir bahwa itu adalah Dimitri, tapi kemudian ia terkejut karena ternyata yang masuk ke kamarnya adalah Dowager Empress Marie. Awalnya ia masih tidak yakin bahwa Anya adalah cucunya yang selama ini ia cari. Kemudian, Anya tiba-tiba mencium bau peppermint, lalu bercerita bahwa dulu ia pernah menumpahkan peppermint di karpet. Anya selalu berbaring di karpet itu dan merindukan neneknya saat pergi ke Paris. Dowager Empress Marie menyuruh Anya untuk duduk di sampingnya dan ingin melihat kalung yang dipakai Anya. Ia berkata bahwa itu adalah rahasia antara ia dan Anastasia. Kemudian, ia mengeluarkan kotak musik yang tadi diberikan oleh Dimitri. Anya langsung mengetahui itu adalah kotak musik miliknya. Ia membukanya dengan menggunakan liontin kalungnya dan menyanyikan “Once Upon a December” bersama neneknya. Dowager Empress Marie akhirnya menangis bahagia karena telah menemukan Anastasia. Ia pun memeluknya dengan erat.

Anastasia (1997), Twentieth Century Fox
Dimitri memenuhi panggilan Dowager Empress Marie di ruangannya. Ia ingin memenuhi janjinya untuk memberikan imbalan uang sebesar sepuluh juta rubles dan juga ucapan terima kasih kepada Dimitri sebagai seseorang yang telah berhasil menemukan Anastasia. Dimitri menerima ucapan terima kasih dari Dowager Empress Marie, tapi menolak imbalan uang tersebut. Sebelum ia pergi,  Dowager Empress Marie menanyakan dari mana ia mendapatkan kotak musik itu dan meyakinkan bahwa ia adalah anak laki-laki yang menyelamatkan nyawanya dan Anastasia sepuluh tahun yang lalu. Ia juga heran apa yang membuat Dimitri berubah pikiran. Namun, Dimitri hanya menjawab hal itu lebih mengarah pada perubahan hatinya. Dimitri membungkuk dan menyudahi pertemuannya dengan Dowager Empress Marie karena ia harus pergi kembali ke St. Petersburg.

Saat Dimitri sedang berjalan menuruni tangga, ia berpapasan dengan Anastasia yang lebih dulu menyapanya. Ia bertanya kepada Dimitri apakah ia sudah mengambil imbalannya. Dimitri hanya menjawab bahwa urusannya telah selesai. Namun, saat baru beranjak ingin meninggalkan Anastasia, seorang petugas istana memperingatinya bahwa ia harus membungkuk dan menyapa Anastasia dengan “Yang Mulia.” Anastasia sebenarnya tidak mempermasalahkan hal itu, tapi Dimitri pun melakukannya. Ia senang karena Anastasia berhasil menemukan apa yang diinginkannya. Anastasia juga mengucapkan hal yang serupa pada Dimitri. Dimitri pun membungkuk kembali dan mengucapkan selamat tinggal pada Anastasia. Ia lanjut menemui Vladimir dan Pooka untuk mengucapkan selamat tinggal.

Saat di pesta dansa penyambutan Grand Duchess Anastasia yang telah kembali, Dowager Empress Marie menyampaikan sesuatu hal mengenai Dimitri kepada Anastasia. Awalnya Anastasia mengira kalau Dimitri saat itu sedang sibuk menghabiskan uang imbalannya. Namun, Dowager Empress Marie justru menanyakan kepada cucunya itu apakah kedudukannya saat itu yang benar-benar ia inginkan. Anastasia membenarkan hal itu karena ia merasa telah menemukan keluarganya. Dowager Empress Marie memeluk Anastasia dan menanyakan apakah itu semua sudah cukup. Setelah itu, ia mengatakan bahwa Dimitri tidak mengambil uang imbalannya. Anastasia terkejut mendengar hal itu. Sebelum berlalu, neneknya kemudian berkata bahwa apapun yang akan menjadi pilihan Anastasia, mereka akan tetap selalu bersama.

Anastasia (1997), Twentieth Century Fox
Saat Anastasia mengikuti Pooka yang tiba-tiba lari ke arah Pont Alexander III, Anastasia bertemu dengan Rasputin. Setelah gagal untuk mencelakakan Anastasia secara tidak langsung, akhirnya ia turun tangan untuk membunuhnya secara langsung. Ia menghancurkan jembatan itu sehinggga Anastasia ikut terseret ke bawah, ke arah Sungai Seine, tapi ia berhasil bertahan ketika Dimitri datang untuk menyelamatkannya. Ketika Dimitri berusaha menarik tangannya, ia dilemparkan ke atas patung pegasus yang digerakkan melalui kekuatan Rasputin. Rasputin mencoba menjerumuskan Anastasia kembali agar jatuh ke Sungai Seine, tapi Anastasia berhasil bertahan. Ia berhasil kembali ke atas jembatan dan mencoba melawan Rasputin, tapi kemudian ia terpental. Pooka merebut tabung kekuatan milik Rasputin dan diberikannya kepada Anastasia. Ia menghancurkan kekuatan sihir Rasputin dengan menginjak-injak tabung itu. Rasputin pun lenyap seketika.

Anastasia menemukan Dimitri dalam keadaan tak sadarkan diri. Ia tampak begitu sedih hingga akhirnya tak lama kemudian Dimitri pun tersadar. Anastasia tidak sengaja menampar lagi wajah Dimitri karena begitu terkejutnya mengetahui ia telah sadar. Dimitri tadinya memang sudah berniat untuk kembali ke St. Petersburg. Namun, saat sedang mengantri di loket pembelian tiket, ia mengambil sekuntum bunga dari saku jasnya. Ia teringat kembali kepada kenangannya bersama Anastasia dan pada saat itu hatinya memutuskan untuk kembali menemui gadis yang ia cintai itu. Anastasia pun memutuskan untuk kawin lari dengan Dimitri. Ia meninggalkan mahkotanya dan menulis sepucuk surat perpisahan untuk neneknya.

Anastasia (1997), Twentieth Century Fox
Yah, itulah film Anastasia. Saya suka sekali pelajaran yang ada di dalamnya bahwa rumah, cinta, dan keluarga adalah segalanya. Anya memang sudah menemukan keluarga dan rumahnya, tetapi neneknya memberikan kebebasan hatinya untuk memilih apa yang selama ini ia inginkan. Dowager Empress Marie menyiratkan agar Anya menemukan cinta sejatinya dan berharap itu adalah Dimitri. Anya memang mencintai Dimitri. Anya tak peduli bahwa Dimitri bukanlah seorang bangsawan. Ia cukup melihat ketulusan hati Dimitri untuk mencintainya. Ia bahkan rela melepaskan mahkotanya demi memilih bersama Dimitri. Dimitri juga sudah berkorban jiwa raga selama ini untuk menyelamatkan nyawa Anya. Dan, yang terpenting adalah perubahan niat Dimitri dari yang ingin menipu dan sekarang menjadi pria yang mampu mengikhlaskan imbalan yang ditawarkan Dowager Empress Marie. Ya, Dimitri tidak peduli lagi dengan uang sebesar sepuluh juta rubles itu. Baginya, mencintai Anastasia adalah lebih dari apapun dibandingkan dengan imbalan itu. Anya dan Dimitri tidak sekalipun mengungkapkan bahwa mereka saling mencintai. Mereka hanya berbicara dari hati ke hati untuk menjelaskan segalanya.


Mungkin kita juga bisa mengambil pelajaran bahwa jangan benar-benar membenci atau tidak menyukai seseorang, karena pada akhirnya bisa jadi ia adalah orang yang benar-benar kita cintai. Anya dan Dimitri di awal cerita selalu berselisih, meski pada akhirnya sering Anya yang menang di antara mereka berdua (Hey, Vladimir punya catatannya). Saya pribadi sangat menyukai Meg Ryan sebagai pengisi suara Anya dalam film ini. Ia benar-benar totalitas dalam menggambarkan seorang wanita yang memang suka berbicara apa adanya dan pandai berekspresi. Anya memang pernah menampar Dimitri sebanyak tiga kali dalam film ini, dua tidak sengaja dan yang satunya memang karena dia sedang marah. Yah, semarah-marahnya Anya, dia pastinya akan luluh waktu tahu laki-laki yang dia cintai selama ini ternyata memang baik adanya. Lihat saja ketika mereka dipertemukan berdansa di atas kapal itu. Hmm.. What an unspoken attraction!

Last but not least, lagu “At the Beginning” yang dinyanyikan oleh Richard Marx dan Donna Lewis menjadi penutup yang indah dalam film ini. Mereka mempunyai perpaduan suara yang menarik dan lagu ini cukup untuk menggambarkan petualangan Anya dan Dimitri.

Senin, 08 Desember 2014

"Promise" by Kim Bo Kyung


Please don’t walk away, I just can’t live another day
Looking back again, I realize how fool I’ve been
Deep inside my heart my memories are still with you
Oh, so please don’t smile at me like it’s the end

Love is the reason why
I cry a thousand tears away
Love is only reason why
I can’t hide from the pains in me
You know I just can’t live without your love
Lead me back again to the way we’re before


You gave hopes to me
You showed me how to love someone
Days were full of dreams, and nights were times the dreams appear
One thing never learned, I don’t know how to stand alone
Oh, so please come back to me and hold my hands

You are the reason why
I live and pray for night and day
You are only reason why
I would never hide from the pains
You know I just can’t live wihout your love
Take me back again to the way of our love

Rabu, 15 Oktober 2014

Peristiwa Hari Ini

Orang bijak pernah berkata, "Tugas kita adalah menyalakan lilin, bukan mencela kegelapan." Yah, mungkin kalimat itu memang harus kuresapi maknanya setelah mengalami peristiwa yang terjadi padaku hari ini. Tadi pukul 9.30-10.30 WIB di Ruang A.307a, FMIPA, UNS, semuanya telah terjadi. Itu menjadi suatu kejadian yang cukup membuatku terpukul. Sesuatu yang sejak dari kecil aku permasalahkan, presentasi di depan kelas. Ini masalah yang serius buatku. Hingga sekarang aku masih merasakan yang namanya 'alergi' presentasi.

Alhamdulillaah, aku bersyukur hal itu terlewati. Tahap kedua untuk menjadi sarjana, yaitu seminar hasil (semhas). Dalam seminar hasil itu, aku harus mempresentasikan hasil penelitianku di hadapan dosen pembimbing, dosen pembahas, dan para mahasiswa. Pada awalnya aku memang merasa takut dan bimbang. Namun, lama kelamaan rasa takut itu juga hilang. Aku bersyukur sekali. Sedikit demi sedikit rasa gugup itu sirna. Hanya satu sekarang yang masih jadi masalah, kurangnya rasa percaya diri. Aku tidak percaya diri. Itu yang dibilang dosen pembimbingku. 

Saat menjawab pertanyaan dari dua mahasiswa yang bertanya padaku saat itu pun aku masih bingung cara menjelaskannya. Akhirnya aku dituntun dosenku bagaimana cara menjawabnya. Yang membuatku kaget saat itu, lema yang aku buat tidak cocok diterapkan pada pelabelan graf yang telah aku kerjakan. Aku mulai panik, tapi aku tetap bertahan. Aku berusaha mencari apa penyebab kesalahannya. 

Aku akui, algoritma dalam otakku memang berantakan. Aku sedang tidak mencela diriku sendiri, tapi memang itu kenyataannya. Apa yang aku pikirkan pasti tidak runtut. Apa yang seharusnya dilakukan terlebih dahulu, malah loncat ke langkah yang entah ke berapa. Namun, aku berusaha untuk mengerjakan kewajiban-kewajiban yang harus aku lakukan. Yah, meskipun hasilnya kadang tidak memuaskan. Tugas kita memang harus menyalakan lilin di antara kegelapan. Segala sesuatu yang terjadi pasti ada hikmahnya. Aku harus belajar percaya diri, meskipun aku tahu sangat sulit untuk mendapatkannya. 

Air mataku tak terbendung malam ini setelah aku ditelpon oleh ibuku. Ibuku masih mengharapkan aku untuk segera lulus, meski lewat kata-kata yang tersirat. Aku sedih tidak bisa cepat membuat orang tuaku bahagia. Aku merasa gagal menjadi anak yang berbhakti. Aku memang tidak cerita kalau tadi aku tidak percaya diri saat seminar karena takut ibuku sedih. Padahal, ibu dan bapakku selalu berharap kalau aku bisa menjelaskan hasil penelitianku dengan jelas kepada semua orang. Aku tahu itu, tapi aku masih belum berhasil mewujudkannya. Mungkin hanya kata maaf untuk mereka dariku yang tak bisa merealisasikan hal itu. 

Terlepas dari itu semua, aku bersyukur dengan hari ini. Setiap hari itu adalah pengalaman yang baik. Tidak ada hari yang buruk, yang ada hanyalah cobaan. Allah tak akan membebani hamba-Nya di luar kesanggupannya. Aku pasti bisa menjalani hidup ini dengan baik. Apalagi banyak orang-orang di sana yang mendukung dan menyemangatiku. Aku bersyukur mengenal mereka. Saat sebelum semhas, banyak sekali temanku yang menyemangati dan membantuku. Alin dan Risna, teman-teman kosku membantuku saat belajar presentasi. Mereka banyak memberikan saran yang sangat berarti untukku. Nurul, seorang teman baik yang sangat sering menyemangatiku. Rifa membantuku untuk membelikan snack untuk para dosen. Mbak Kartika juga datang dan menyemangatiku. Teman-teman Matematika 2010 yang sangat baik, mereka adalah pemantik yang menyalakan api semangat dalam jiwaku. Ya Allah, terima kasih atas segala karunia-Mu. Semoga mereka Engkau berkahi rezeki dan kebaikan karena telah membantuku. Aamiin. :)


Senin, 11 Agustus 2014

Secondhand Serenade - Maybe

Didn't you want to hear
the sound of all the places we could go
Do you fear the expressions on the faces we don't know
It's a cold hard road when you wake up
and I don't think that I have the strength to let you go

Maybe it's just me
couldn't you believe
that everything I said and did
wasn't just decieving

And the tear in your eye
and your calm hard face
makes me wish that I was never brought into this place

There goes my ring
It might as well have been shattered
and I'm here to sing
about the things that mattered
about the things that made us feel alive for oh so long
about the things that kept you on my side when I was wrong

Maybe it's just me
couldn't you believe
that everything I said and did
wasn't just decieving

And the tear in your eye
and your calm hard face
makes me wish that I was never brought into this place

And someday, I promise I'll be gone
and someday, I might even sing this song
to you..
I might even sing this song
to you..
to you..

And I was crying alone tonight
and I've been wasting all of my life just thinking of you
so just come back we'll make it better
so just come back I'll make it
better than it ever was
I'll make it better than it ever was

Maybe it's just me
couldn't you believe
that everything I said and did
wasn't just decieving

And the tear in your eye
and your calm hard face
makes me wish that I was never brought into this place

Maybe it's just me
couldn't you believe
that everything I said and did
wasn't just decieving

And the tear in your eye
and your calm hard face
makes me wish that I was never brought into this place

Maybe it's just me..

Jumat, 09 Mei 2014

Pesona Inggris

Pagi itu sekitar pukul 08.00 BST (British Summer Time) suasana kota London sungguh mempesona. Aku duduk di tingkat kedua dari Big Blue Tour, yaitu suatu bus tingkat yang membawa para turis berkeliling kota London. Turis-turis yang duduk bersamaku di bus ini berasal dari macam-macam negara di antaranya Prancis, Spanyol, dan Jepang. Aku dan mereka sungguh takjub dengan keindahan kota London. Kami dengan seksama mendengarkan instruksi dari pemandu wisata di bus sambil melihat ke sekeliling Marylebone Road saat itu.

Aku turun di Madame Tussauds bersama beberapa turis dari Prancis. Madame Tussauds merupakan museum tempat penyimpanan patung-patung lilin dari tokoh-tokoh terkenal di dunia seperti Lady Diana Spencer, Prince William, Shah Rukh Khan, Muhammad Ali, John F. Kennedy, dan lain sebagainya. Aku begitu kagum dengan karya-karya itu. Patung-patung lilin itu benar-benar mirip dengan tokoh aslinya. Aku menyempatkan diri untuk foto bersama patung lilin dari Lady Diana Spencer karena aku sangat mengagumi mantan istri dari Pangeran Charles itu. Sayang, probabilitas untuk bertemu dengannya sudah 0% karena beliau sudah tiada akibat kecelakaan mobil di Prancis pada tahun 1997.

Setelah berkunjung ke Madame Tussauds, aku menyempatkan diri untuk mengunjungi apartemen dari tokoh fiksi kesukaanku, yaitu Sherlock Holmes Museum di Baker Street 221B. Di lantai satu aku sempat mengambil foto ruang kerja Sherlock Holmes, tempat biasa ia dan koleganya, dr. Watson menerima kliennya. Setelah itu, aku beranjak ke lantai dua, yaitu ruang tidur dr. Watson. Di lantai tiga ada patung lilin Sherlock Holmes dan beberapa tokoh fiksi lainnya yang terlibat dalam kasus cerita yang ditulis oleh Sir Arthur Conan Doyle itu.

Kunjungan ke Sherlock Holmes Museum pun berakhir. Hari sudah semakin siang. Aku melanjutkan perjalanan dengan Big Blue Tour kembali untuk beralih ke tujuan-tujuan selanjutnya, yaitu Big Ben, London Eye, Westminster Abbey, Buckingham Palace, dan Menara London. Di tempat-tempat itu aku hanya menghabiskan sedikit waktu untuk berfoto-foto. Sebenarnya aku ingin naik ke London Eye, tetapi aku takut tidak sempat untuk mengunjungi tempat wisata lainnya.

Perjalanan wisata itu pun berakhir. Tepat jam lima sore aku turun di Marble Arch. Rintik-rintik hujan mengiringi langkah kakiku menuju hotel tempat aku menginap. Aku begitu senang hari ini sehingga tak peduli hujan membasahi tubuhku. Lagi pula ini adalah air hujan di Inggris yang sebelumnya belum pernah ku sentuh sama sekali. Perjalanan berkeliling London hari ini tak akan aku lupakan. Aku harus segera istirahat di kamar hotelku dan menyiapkan energi yang penuh karena esok hari aku akan berkunjung ke Anfield, yaitu markas tim sepak bola favoritku, Liverpool FC. Perjalanan dari sini ke Anfield akan menempuh sekitar empat jam perjalanan dengan menggunakan kereta dan bus.

Ketika aku baru saja sampai di mulut hotel, tiba-tiba ada seseorang dari arah yang tidak begitu jauh dari tempat aku berdiri memanggil-manggil namaku. Suara itu tak asing bagiku dan tampak familiar ketika ia semakin menyerukan namaku. Aku memutar badan dan melihat ke sekeliling, tetapi tak menemukan sumber suara. Ini seperti kisah Sherlock Holmes yang mendapatkan ucapan selamat malam dari orang asing yang tak disangka-sangka ternyata adalah Irene Adler, seorang yang menjadi target penyelidikannya saat itu. Aku coba membalas panggilan itu dan beberapa detik kemudian ia bersuara kembali. Entah yang ku dengar benar atau tidak, tapi ia bilang dengan jelas bahwa jemuran bajuku belum diangkat. Sejak saat itu aku baru sadar bahwa aku sedang duduk di depan laptop dan aku baru saja membaca artikel-artikel tempat wisata di Inggris. Ya, yang baru saja aku lakukan adalah berwisata di dalam lamunan panjang. Kalau bukan karena suara Lina, teman satu kosku yang tadi memanggil-manggil namaku, mungkin perjalanan lamunanku sudah sampai di stadion Anfield. 

Semua itu ternyata hanya sebuah khayalan belaka. Mungkin saja aku yang terlalu berobsesi untuk pergi ke Inggris dan terpesona dengan objek-objek wisatanya sehingga di dalam otakku akhirnya menampilkan bayangan tempat-tempat di Inggris yang ingin aku kunjungi. Pikiran itu seperti ruang yang di dalamnya ada sebuah proyektor untuk menampilkan sebuah film dokumenter perjalanan seorang wisatawan yang melancong ke beberapa lokasi di negara tempat tinggal Ratu Elizabeth II itu. Aku serasa benar-benar mengalaminya. Sungguh, betapa menyenangkan jika itu semua menjadi nyata.

Siapa yang tak bahagia dapat mengunjungi markas tim sepak bola favoritnya? Siapa yang tak bersuka ria dapat mengunjungi tempat-tempat wisata impiannya? Siapa yang tak senang untuk mengambil foto objek-objek wisata kesukaannya? Atau bahkan bertemu langsung dengan anggota keluarga kerajaan Inggris seperti Pangeran William? Semua itu memang menyenangkan. Namun, the initial reason yang telah memotivasiku dan memunculkan hasratku untuk dapat berada di Inggris adalah karena Bahasa Inggris yang merupakan bahasa paling fundamental di seluruh dunia. Aku sangat menyukai Bahasa Inggris sejak kecil. Aku tak tahu apa alasannya. Kata orang kalau mencintai sesuatu memang tidak butuh alasan. Tiba-tiba saja rasa suka itu muncul dari dalam hati. Pun kegemaranku dalam mempelajari Bahasa Inggris sampai saat ini belum pudar.

Harus ku akui memang bertahun-tahun sudah aku belajar Bahasa Inggris. Aku berusaha memahaminya. Namun, sampai saat ini pun aku belum fasih berbahasa Inggris. Mungkin penyebabnya adalah karena aku tidak sering menggunakan Bahasa Inggris itu sendiri untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang berada di sekitarku. Itulah yang menjadi awal mengapa aku ingin sekali pergi ke Inggris dan dapat mengetahui bagaimana rasanya berkomunikasi dengan banyak native speaker di sana.

Inggris akhirnya menjadi negara kedua yang memesona bagiku setelah Indonesia. Kekagumanku pada Inggris juga dimunculkan oleh kebiasaanku yang senang menonton English Premier League. Walau seorang perempuan, aku cukup fanatik dengan sepak bola. Mungkin ini diturunkan dari ayahku yang seorang penggemar sepak bola. Liverpool adalah klub sepak bola favoritku. To be honest, awal mulanya aku suka Liverpool karena ayahku juga pendukung Liverpool dan dulu ada pemain hebat yang bernama Michael Owen di klub itu. Aku melihat Michael Owen sebagai pemain bola yang lincah dan gesit dalam menguasai bola di lapangan.

Setelah delapan tahun Michael Owen bertahan di Liverpool, ia memutuskan untuk pindah ke Real Madrid pada tahun 2004. Kepindahan Michael Owen itu sempat membuatku sedih. Namun, aku tetap menyukai klub dengan slogan “You’ll Never Walk Alone” itu sampai sekarang. Michael Owen bukan lagi alasan mengapa aku menyukai Liverpool. Lagi-lagi aku tak tahu mengapa aku menyukainya. Ingin rasanya walau hanya sekali dalam seumur hidupku dapat memijakkan kaki di markas Liverpool, yaitu stadion Anfield. Aku ingin duduk bersama ayahku di antara ribuan liverpudlian yang dengan semangatnya mendukung Steven Gerrard dan kawan-kawan itu. Aku ingin melihat secara langsung Suarez berduet dengan Gerrard lalu mencetak gol ke gawang lawan dengan indahnya. Ah.. pasti seru sekali.

Selain gemar menonton sepak bola, aku juga suka membaca buku dan menonton film tentang detektif. Sherlock Holmes adalah detektif fiksi dari Inggris yang sangat aku sukai. Di dalam cerita yang dituliskan oleh Sir Arthur Conan Doyle, Sherlock Holmes tinggal bersama koleganya, yaitu dr. Watson di salah satu apartemen di Baker Street 221B, London, Inggris. Cerita-cerita petualangan Sherlock Holmes yang dikarang oleh Arthur Doyle begitu menarik. Salah satu petualangan yang aku suka adalah “The Adventure of the Dancing Men” dimana dalam cerita itu dikisahkan tentang seorang klien bernama Hilton Cubitt yang menemukan gambar-gambar seperti orang menari dan sangat ditakuti oleh istrinya. Yang paling aku suka dari Sherlock Holmes adalah cara ia dalam menarik suatu kesimpulan. Arthur Doyle benar-benar menggambarkan Sherlock sebagai seorang detektif yang cerdas.

Karena aku menyukai cerita Sherlock Holmes, aku ingin sekali berkunjung langsung ke markasnya di Baker Street 221B. Saat ini, tempat itu terasa begitu nyata dengan sebutan The Sherlock Holmes Museum. Aku ingin melihat secara langsung tempat di mana Sherlock Holmes tinggal dan tempat di mana ia melayani para kliennya untuk memecahkan kasus dengan penuh antusias. Selama ini aku hanya bisa melihat gambar tempat itu di internet saja. Aku ingin mengabadikan hal-hal menarik di tempat itu langsung lewat kameraku sendiri.

Selain The Sherlock Holmes museum, tempat-tempat seperti Buckingham Palace, Sungai Thames, Westminster Abbey, Universitas Oxford, Stonehenge, London Eye, Big Ben, Madame Tussauds, dan Menara London juga merupakan tempat-tempat yang tidak luput dari keinginanku untuk mengunjunginya. Sebagaimana yang telah kita ketahui selama ini bahwa tempat-tempat tersebut merupakan icon dari Inggris. Aku yakin banyak sekali orang yang tahu mengenai beberapa tempat itu dan ingin sekali mengabadikan objek-objek yang menjadi kebanggaan negara Inggris tersebut. Rasanya kurang berkesan jika pergi ke Inggris tetapi tidak mampir ke situ.

Ya begitulah salah satu impian terbesar dalam hidupku. Meskipun probabilitas untuk mengunjungi Inggris adalah 0.01%, namun itu masih dapat terjadi. Tak ada yang tak mungkin jika kita berusaha keras dan berdoa. Aku yakin suatu saat nanti pasti ada jalan untuk ke sana. Never lose hope and goodbye. :D

*Wait. Aaah aku lupa jemuran bajuku...