Sabtu, 01 Maret 2014

Lomba Scrabble

Oke my Beloved Readers, kali ini aku mau cerita tentang pengalamanku tentang lomba Scrabble yang telah aku ikuti di kampusku. Ini semua berawal dari saat aku buka grup Fakultas MIPA (fakultas tempat aku menuntut ilmu. Ceilaaah) di Facebook sekitar akhir September lalu. Jreng-jreng… Jadi, saat itu aku lihat postingan tentang Olimpiade FMIPA (sebenernya namanya “Olimipade”, tapi saat itu aku bacanya “Olimpiade”). Yak, olimpiade atau olimipade atau apalah itu diadakan dalam rangka memperingati hari ulang tahun a.k.a Dies Natalis ke-17 FMIPA UNS, fakultasku tadi. Olimipade tuh isinya lomba-lomba gitu, ada voli, futsal, Scrabble, e-debate, photography, essay, DotA, badminton, dan lain-lain. Naaah, ada satu lomba yang pengen banget aku ikuti, yaitu Scrabble. Sebenernya pengen juga sih ikutan e-debate, tapi skill speaking aku ‘jongkok’ banget. Jadi, gak berani deh ikutan e-debate, ntar malah malu-maluin jurusanku, soalnya lomba-lomba di Olimipade itu rata-rata mengatasnamakan jurusan sih.

Aku kenal Scrabble udah lama (emang pernah kenalan? =,=a). Aku lupa semenjak waktu SMP atau SMA. Yang ku tahu, orang yang memperkenalkan Scrabble padaku adalah ibuku. Habis itu, aku pengen banget punya Scrabble pribadi. Akhirnya dibelikan deh oleh bapak dan ibuku. Oh ya, Scrabble itu merupakan permainan susun huruf dalam Bahasa Inggris. Scrabble terdiri dari papan main (playing board), empat rak huruf, dan seratus tiles huruf dalam satu kantung. Playing board adalah papan main yang berisi 225 kotak, tempat dimana huruf-huruf yang telah dirangkai menjadi kata diletakkan. Pemain Scrabble maksimal 4 orang, itulah mengapa jumlah rak hurufnya hanya terdapat 4 saja. Peraturan bermain Scrabble sebenarnya sangat banyak. Kalau ada yang penasaran pengen tau banget, silahkan searching di Google ya. (n_n)v

Pertama kali aku ikut lomba Scrabble itu saat aku belajar Bahasa Inggris di Teknokrat Bandar Lampung. Jadi, waktu itu Teknokrat mengadakan Brotherhood Competition, yang isinya lomba-lomba seperti Scrabble, Quick and Smart, Speech, Software Microsoft Competition, dll. Saat aku mengikuti lomba Scrabble pada waktu itu, aku satu team dengan temanku, Deka. Kami kalah dalam perlombaan. Kecewa sih, tapi gak papa lah. Lagi pula baru pertama kali ikutan lomba Scrabble dan itu aja aku bisa ngerasain suasana yang fun banget. Oh… terima kasih pengalaman!

Balik lagi ke laptop ya (courtesy of Tukul Arwana). Nah, semenjak aku tahu kalau akan diadakan lomba Scrabble di kampusku, aku langsung siap-siap cari informasi lebih lanjut mengenai itu. Aku juga men-like fanpage “Olimipade FMIPA UNS 2013” di Facebook untuk mendapatkan update informasi terbaru tentang lomba Scrabble. Nah, ternyata lombanya diadakan pada tanggal 4 Oktober 2013 (Jumat) dan 10 Oktober 2013 (Kamis). Saat lihat tanggalnya, aku mikir-mikir lagi. Kalo Jumat bisa sih, tapi sekitar jam 3 sore. Kalo Kamis lebih parah lagi sorenya, soalnya aku harus ikut mata kuliah pemodelan sampai jam 4 sore. Sempet pesimis sih, yah tapi who knows kalo lombanya memang di saat waktu yang tepat buatku.

Selanjutnya, aku baca informasi lagi kalau lomba Scrabble itu mainnya per kelompok. 1 kelompok terdiri dari 2 orang. Ya, aku sebelumnya sudah tahu tentang itu, tapi siapa tahu kalau di sini peraturannya berbeda dengan lomba yang pernah aku ikuti di Teknokrat. Aku mikir lagi, siapa ya yang bisa aku ajak untuk ikut lomba Scrabble sama aku? Pada waktu itu aku mengajak Rifa, temanku satu angkatan, tetapi dia juga masih ragu soal waktu pelaksanaannya karena takut bersamaan dengan jam kuliah. Hmm.. aku sebenarnya nggak mempedulikan masalah waktu sih, yang penting bisa ikut berpartisipasi dalam lomba itu aja. Malah sempat terlintas mau meninggalkan kuliah a.k.a bolos dari mata kuliah yang bakal ‘tabrakan’ dengan waktu pelaksanaan lomba Scrabble itu. Hahaha. Dasar, ambisius banget mau ikutan Scrabble. Yaaa gimana ya, itu passion sih. Kalau boleh jujur aku memang lebih menyukai Bahasa Inggris dari pada matematika (jangan tanya kenapa aku sekarang jadi mahasiswa matematika). Hati kan gak bisa berbohong. Lagipula aku udah lama sih gak ikutan lomba Scrabble. Kan sayang banget kalo diabaikan. Wkwkwk. Itung-itung buat ngasah kemampuan hafalan kosa kata Bahasa Inggris juga. Selain itu, dengan ikut lomba kan bisa nambah teman baru. Bisa mengenal mahasiswa jurusan lain. Yaaa, biar sedikit gaul lah sama warga sesama MIPA. Ceilaaah…

Waktu demi waktu berlalu dan akhirnya aku mendapatkan informasi bahwa lomba Scrabble dimulai pukul 15.30 WIB. Kalau hari Jum’atnya sih oke-oke aja ya, tapi kalau seandainya aku lolos ke final, nah hari Kamisnya gimana dong? Gak mungkin banget aku meninggalkan kuliah pemodelan matematika, secara itu mata kuliah yang sesuatu banget lah pokoknya (sitasi ke Syahrini ya). Well, lagi-lagi aku mikirnya, ah ntar aja biar waktu yang menjawab.

Setelah berpikir panjang kurang lebih satu kilometer, akhirnya aku tahu seseorang yang bisa aku ajak buat menjadi partnerku dalam perlombaan itu. Dia adalah adik tingkatku yang sangat cute dan murah senyum. Dia suka memanggilku ‘Mbak Manda’ (itu panggilan langka loh buat aku). Namanya Miki. Aku coba mengajaknya ikut lomba Scrabble dan dia pun bersedia. Langsung, waktu itu hari Jum’at, tanggal 27 September 2013 aku berniat untuk mendaftar ke sekretariat BEM FMIPA UNS. Katanya, pendaftaran dibuka mulai jam empat sore. Agak bete juga sih, kok sesore itu ya. Biaya pendaftarannya Rp5000 dan pada hari itu uangku tak mencukupi untuk melakukan pendaftaran. Akhirnya aku pinjam uang ke temannya Miki, namanya Kunthi. Ah, Kunthi memang anak yang baik hati.

Sambil menunggu jam empat sore itu tiba, aku mendengarkan cerita-cerita dari Rifa, temanku yang tadinya mau aku jadikan partner itu. Dia banyak cerita-cerita tentang pengalaman hidupnya. Aku minta tolong Rifa buat menemani aku ke sekre BEM itu karena aku sungkan kalau datang ke sana sendiri. Setelah jam empat sore tiba, aku dan Rifa langsung capcus ke sekre BEM. Awalnya sih malu-malu, sampai dibilangin ibu yang jaga ‘Kantin SMS’, “Apa Mbak? Ndak berani masuk sekre BEM to? Sini ibu temenin.” Wuaaaaa aku sama Rifa langsung menghindar dan mendekati pintu masuk BEM. Mau gak mau aku memberanikan diri dan saat itu yang menyambutku adalah ketua BEMnya langsung. Aku tau dia kok, tapi kayaknya dia gak tau siapa aku dan Rifa.

Setelah ketua BEM itu tau maksud kedatanganku dan Rifa ke sana, ia pun memanggil PJ dari lomba Scrabble itu. Setahu aku sih namanya Ani, tapi dia tidak memperkenalkan diri. Yah, anggap aja ya itu beneran Ani. Hahaha. Nah, ini yang membuat aku broken heart. Ani bilang kalau lomba Scrabble itu pesertanya adalah perwakilan atau delegasi dari tiap jurusan. Tiap jurusan wajib mengirimi 2 orang delegasinya. Langsung ada cetar badai gemuruh membahana dalam hatiku. Langsung pesimis seketika, seolah-olah tak ada harapan lagi bagiku. Aku salah duga. Aku kira lomba itu terbuka untuk umum dan gak taunya ya itu realitanya.

Keluar dari sekre BEM, aku lemes. Udah tadi pinjam uang Rp5000 ke Kunthi, eh gak taunya gak jadi kepakai. Aku mikir, pasti HIMATIKA (organisasi jurusanku yang mengurusi hal itu) pasti sudah menyiapkan pasukan supernya untuk mengikuti tiap perlombaan yang ada di Olimipade itu. Dan itu pasti bukan aku. Aku mau bilang ke HIMATIKA kalau aku pengen ikut, tapi aku ngerasa gak enak karena aku gak ditunjuk langsung, tapi malah mengajukan diri sendiri. Kok kayaknya ke-PD-an banget gitu. Mending bisa jamin kalau juara, kalau enggak? Semua pikiran pesimis itu langsung ‘melayang-layang’ di otakku. Ya sudah, aku sama Rifa akhirnya melanjutkan obrolan kita tadi. Kami duduk di parkiran MIPA dan aku kecewa.

Aku memberi tahu Miki kalau ternyata lomba Scrabble itu pesertanya adalah dua orang delegasi dari tiap jurusan. Saat itu aku tidak berniat lagi untuk meneruskan ‘kepo’ku terhadap informasi perlombaan itu. Namun… Senin, 30 September 2013, aku menerima kabar yang cukup mengejutkan dari Miki. Jadi, Miki pada waktu itu ternyata berkomunikasi dengan ketua HIMATIKA yang juga temannya satu angkatan. Namanya Dayat. Miki menerima informasi bahwa delegasi untuk Scrabble baru satu orang yang daftar. Miki memberi tahu aku tentang hal itu. Ia juga memberi tahu bahwa ia bilang ke Dayat kalau aku ingin ikut lomba Scrabble dan Miki pun memberikan nomor HP-ku ke temannya itu.

Siang itu aku dan Miki sedang sama-sama menunggu dosen kami datang untuk memberikan kuliah. Tiba-tiba ada sms masuk ke HP-ku dan benar itu dari Dayat. Ia menanyakan apakah benar aku ingin ikut lomba Scrabble. Aku pun menjawab iya kalau aku ingin ikut lomba itu. Ia meminta NIM-ku dan aku pun memberikannya. Ia juga memberi tahu aku kalau nanti aku bakal satu team sama kakak tingkatku, namanya mas Lilik. Awalnya aku agak ragu soalnya aku kan memang gak dekat sama mas Lilik. Kenal juga waktu minta tanda tangan buku kenal waktu aku jadi mahasiswa baru. Yang aku tahu mas Lilik aktif jadi asisten dosen, pintar, dan tampak selalu cheerful. Namun ada satu hal yang aku penasaran sampai sekarang, kenapa dia sering menyingkat nama depannya. Ah, ya sudahlah biar dia dan Tuhan saja yang tahu. Finally, karena ini merupakan peluang bagiku untuk ikut lomba Scrabble, akhirnya aku meyakinkan hatiku kalau aku bisa. Wah, alhamdulillaah akhirnya kesampean juga keinginanku. Hahaha.

Malam harinya Dayat sms aku. Intinya besok ia bermaksud untuk memberikanku hardfile peraturan bermain Scrabble yang ia dapatkan dari panitia Olimipade. Esok harinya, Selasa, 1 Oktober 2013, aku mengambil hardfile peraturan bermain Scrabble itu di sekre HIMATIKA. Saat itu aku juga diberi nomor HP mas Lilik oleh Dayat untuk keperluan koordinasi satu sama lain. Dayat bertanya padaku, “Suka main Scrabble ya, Mbak?” Aku jawab saja suka. Setelah dari sekre HIMATIKA, aku menuju ke ruang SAT matematika. Aku dan teman-temanku biasanya banyak menghabiskan waktu di SAT, entah itu untuk mengerjakan tugas atau sekedar internetan sembari menunggu jam kuliah tiba. Aku langsung membaca peraturan bermain Scrabble itu dengan sungguh-sungguh. Teman-temanku akhirnya mengetahui kalau aku adalah perwakilan dari matematika yang akan mengikuti lomba Scrabble. Mereka pun memberikan support untukku agar aku dapat memenangkan perlombaan itu.

Selasa malam, Dayat sms aku lagi. Aku ditanya apakah besok aku bisa mengikuti briefing lomba Scrabble. Briefingnya dilaksanakan sore hari. Aku jawab insya Allah bisa. Tapi kemudian aku teringat bahwa besok sore aku ingin ikut belajar geometri diferensial bersama teman-temanku, karena hari Kamisnya akan diadakan ujian KD 1. Kalau tidak salah aku bertanya padanya apakah briefing itu boleh diwakilkan. Intinya ia menjawab kalau akan lebih baik pesertanya langsung yang datang ke briefing tersebut. Ya sudah, dengan berat hati aku mengusahakan untuk datang ke acara briefing itu dan berniat meninggalkan agenda belajar geometri diferensial bersama teman-temanku.

Rabu, 2 Oktober 2013, aku lagi-lagi minta tolong Rifa untuk menemani aku mengikuti briefing. Aku itu minta tolong ke dia karena aku cuma sendiri dan ternyata acara itu gak jelas banget. Tau gak, informasinya memberitahukan kalau briefing diadakan di selasar utara gedung C jam 15.30. Aku mikir, selasar utara itu kan yang di dekat perpustakaan. Waktu aku sama Rifa ke sana aku gak nemuin apa-apa. Padahal aku udah ngarep kalau di sana udah banyak panitia dengan atribut co-cardnya sedang mempersiapkan briefing itu. Akhirnya aku dan Rifa ‘banting stir’ ke depan gedung C. Di sana ada perlombaan voli dan basket. Tapi juga gak ada briefingnya. Aku dan Rifa langsung jengkel seketika. Huh, capek deh. Ini sebenernya ada apa nggak sih. Mau tanya ke panitia tapi panitianya yang mana. Semua orang seolah terlihat sama. Tak ada yang membedakan antara supporter dan panitia. Seharusnya panitia kan pakai tanda pengenal. Minimal pasang pita warna-warni gitu di bajunya.

Merasa gak yakin briefing diadakan di depan gedung C, aku dan Rifa balik lagi ke selasar utara gedung C dan tetap tak menemukan ada orang rame-rame kumpul untuk membicarakan perlombaan Scrabble. Adanya teman-temanku yang konsentrasinya statistik sedang sibuk kerja kelompok. Putus asa dan merasa diPHP-kan, akhirnya aku sms temanku Nurul, menanyakan keberadaannya karena aku ingin ikut belajar geometri diferensial bersama. Sementara itu, Rifa pulang ke kosnya. Nurul bilang dia di SAT. Oke, dan akhirnya aku melesat ke SAT dan gabung dengan Nurul dkk untuk belajar. Saat itu kesehatanku sedang tidak baik. Aku sedang batuk dan terkena flu.

Kamis pagi, 3 Oktober 2013, sakitku bertambah parah. Suaraku mendekati ‘habis’ dan aku kesulitan berbicara. Aku serasa seorang artis yang habis konser dan menyanyikan lagu-lagu bergenre rock semalaman. Lebay ya. Pagi itu aku minta tolong Nurul untuk menemaniku sarapan di kantin kampus dan membantuku memesan makanan berhubung aku benar-benar kesulitan untuk bicara. Ia tampak kasihan melihatku walaupun kadangkala ia mengajakku bercanda. Setelah makan, kami beranjak ke SAT untuk menyibukkan diri mempersiapkan ujian geometri diferensial. Waktu itu mas Lilik juga datang ke SAT menjelang zuhur. Karena ia juga ikut mata kuliah geometri diferensial, ia pun mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian. Saat itu, ia bertanya, “Mana yang namanya Anna?” Sepertinya dia sudah tahu siapa partnernya dalam lomba Scrabble. Aku lalu mengangkat tangan kananku karena merasa namaku memang Anna. Hahaha. Ia bilang lagi, “Besok ya, Na.” dengan nada suara yang friendly. Aku mengiyakan dengan suara yang benar-benar hampir habis. Lalu temanku ada yang bilang ke mas Lilik, intinya kalau aku sedang sakit dan suaraku hampir ‘habis’. Well, itulah conversation pertamaku dengan mas Lilik selama tiga tahun aku menjadi mahasiswa jurusan matematika FMIPA UNS. :D

Malam harinya, saat aku sedang keluar kos dengan temanku, Alina, aku mendapat sms dari mas Lilik. Dia menanyakan besok aku ada kuliah jam berapa saja. Katanya dia punya rencana untuk latihan Scrabble dulu denganku sebelum ikut lomba. Dia akhirnya mengajak latihan dari jam 11.00 sampai jam 13.00 dan dia akan membawa Scrabble pribadinya. Oke, aku sepakat untuk latihan pada waktu itu. Oh ya, aku sepertinya juga sudah mengetahui kalau ternyata Kamis minggu depan itu acara puncak Dies Natalis FMIPA UNS. Jadi, kegiatan perkuliahan diliburkan, tetapi mahasiswa diharapkan hadir pada acara itu untuk memeriahkannya.

BABAK PENYISIHAN


Jumat, 4 Oktober 2013, ini adalah hari pertama lomba Scrabble, yaitu babak penyisihan. Aku bersyukur suaraku sudah mulai membaik. At least, aku bisa berkomunikasi dengan orang lain walaupun belum pulih dengan total. Saat itu, mata kuliah pemodelan matematika yang seharusnya dimulai jam 9.20 ternyata kosong. Akhirnya aku bisa memanfaatkan waktu untuk sarapan dan mengerjakan tugas geometri diferensial yang belum selesai. Mas Lilik datang sebelum jam 11. Tak lama kemudian latihan pun dimulai. Pada latihan pertama, skor antara aku dan mas Lilik tidak dihitung. Jadi, kami hanya sekedar menyusun kata-kata saja. Pada latihan kedua, skor baru dihitung dan aku yang memenangkannya. Teman-temanku yang pada penasaran dengan Scrabble langsung melihat kami bermain. Bahkan ada yang ingin ikut main dengan kami. Berhubung masih tersisa dua rak huruf, dua orang pun ikut latihan bersama kami. Saat itu yang ikut main adalah Rifa dan Nurul. Lalu, Nurul gantian main dengan Apri dan Nurul jadi pencatat skor.

Habis ashar, HP-ku dalam keadaan off karena low-battery. Aku tidak bisa menghubungi mas Lilik. Aku langsung ke gedung C lantai 2 dan mencoba mencari dimana panitia saat ini sedang mempersiapkan lomba Scrabble. Saat itu aku langsung bertemu mas Lilik dan kami pun mencari dimana ‘TKP’nya. Aku pikir di ruang sidang, tapi kami tetap tidak menemukannya. Dicari ke lantai 3 gak ada juga. Akhirnya turun tangga ke kanopi lantai 1, hasilnya nihil. Pintu keluar gedung C di lantai 1 ternyata sudah dikunci dan kami pun tidak bisa keluar gedung C lewat pintu itu. Akhirnya naik ke lantai 2 karena itu jalan satu-satunya keluar gedung C lewat selasar utara. Kami menuju ke depan gedung C, tempat orang-orang menonton perlombaan voli dan basket. Di sana aku kebingungan dan heran dengan sistem kepanitiaan Olimipade itu. Aku dan mas Lilik duduk di sekitar taman gedung C, mengamati orang-orang yang berlalu lalang. Aku yakin di antara mereka pasti ada panitia Olimipade.

Benar saja, mas Lilik memberanikan diri untuk bertanya pada mahasiswa perempuan yang tadi terlihat sibuk angkat-angkat barang. Ternyata dia tahu tempat diadakannya lomba Scrabble dan ternyataaa lombanya di kanopi gedung C lantai 1. Wah, berarti tempat yang tadi dong. Mau gak mau akhirnya kami balik lagi ke sana lewat pintu masuk selasar utara. Sampai di sana, aku dan mas Lilik duduk di bangku panjang berwarna hijau sambil menunggu panitia selesai mempersiapkan hal-hal yang diperlukan untuk lomba Scrabble. Peserta yang lain juga tampak sudah datang, tapi baru sedikit. Aku jadi lumayan pesimis, tapi mas Lilik bilang kalau diasumsikan saja lawannya seperti teman-temanku yang tadi ikut bermain Scrabble bersama kami. Ya, intinya dibawa santai aja, gitu. Sambil menunggu panitia selesai persiapan, aku menyempatkan diri untuk baca kata-kata di kamus Oxford milikku. Sementara itu, mas Lilik malah ngisengin orang yang istilahnya kena ‘supertrap’ di kanopi gedung C lantai 1 itu. Jadi gini, kan pintu gedung C lantai 1 itu sudah dikunci, tapi mahasiswa yang tadi dari lantai atas dan ingin keluar gedung lewat pintu itu, semuanya tertipu. Akhirnya dengan sangat terpaksa harus naik tangga lagi dan keluar lewat selasar utara. Aku cuma bisa tertawa kecil melihat kejadian itu. Tapi akhirnya panitia Olimipade ada yang membawa kunci pintu itu dan kemudian membuka pintunya. Sesekali mas Lilik juga menyanyikan lagu yang menjadi backsound ‘Goyang Caesar’ di sela-sela penantian lomba itu.

Setelah panitia selesai mempersiapkan perlombaan, para peserta yang sudah datang disuruh kumpul sebentar untuk diabsen dan dibacakan peraturan bermain Scrabble versi panitia Olimipade. Waktu itu jurusanku diabsen paling akhir. Nah, yang membuat aku shock adalah ada peraturan penting yang gak sesuai dengan peraturan yang aku dapat dari Dayat, misalnya soal peserta yang bermain. Yang aku tahu, peserta maksimal dalam bermain Scrabble itu adalah 2 team atau 4 orang, tapi mereka membuat peraturan saat lomba Scrabble berlangsung, peserta yang bermain adalah 8 orang alias 4 team. Agak bete sih.

Terus, di peraturan yang aku baca dari Dayat, maksimal waktu bermain adalah 15 menit, tapi ketika lomba, mereka buat peraturan maksimal 45 menit. Ya, kalo ini sih aku setuju-setuju aja ya, soalnya waktu 15 menit itu memang kedikitan sih. Perbedaan yang selanjutnya, di peraturan yang aku baca dari Dayat, gak ada peraturan harus menyebutkan arti dari kata yang baru saja kita pasang di playing board, tapi mereka membuat peraturan kalau kita bisa menyebutkan arti dari kata itu, maka skornya ditambah 1, kalau tidak bisa atau salah jawab maka skornya dikurangi 1. Oh my God, kenapa gak sekalian aja kayak SNMPTN, kalau artinya benar nilainya 3, kalau artinya salah dikurangi 1, kalau gak jawab berarti gak ada tambahan nilai.

Satu hal lagi yang gak kalah untuk membuat aku terkejut, ternyata tiap-tiap jurusan boleh menambahkan dua delegasi lagi. Sebenarnya aku sudah tahu hal ini dari Dayat, tapi aku kira pihak panitia Olimipade keliru untuk memberikan informasi. Huffft. Tapi pada akhirnya dari jurusanku tak menambahkan delegasinya lagi. Ya sudah, mau gak mau aku dan mas Lilik harus berjuang sendiri.

Empat team pertama yang bermain adalah S1 Fisika, S1 Informatika, D3 Farmasi dan S1 Kimia. Team-ku mendapatkan giliran setelah mereka. Permainan dimulai pukul 16.07 dan akan diakhiri pukul 16.52. Sepanjang permainan pertama, aku dan mas Lilik mengamati cara bermain mereka. Kalau ada peraturan yang tidak ditaati, mas Lilik langsung angkat bicara dan membenarkan cara bermainnya. Wah, kakak tingkatku yang satu ini memang daebak. :D

Dari permainan pertama, team yang lolos ke semifinal adalah dari pihak D3 Farmasi dan S1 Kimia dengan skor masing-masing 91 dan 95. Selanjutnya dimulai permainan kedua Antara team S1 Matematika, S1 Biologi, S1 Farmasi, dan D3 Teknik Informatika. Aku lupa pada waktu itu siapa duluan yang mengawali untuk memasang huruf-huruf di playing board. Aku dan mas Lilik mempunyai karakter bermain yang berbeda. Aku gampang panik jika lawan terlihat lebih tangguh dibandingkan dengan team-ku. Saat waktu giliran team-ku masih lama untuk memasang huruf, aku sudah memikirkan kata apa yang akan ku pasang nanti. Sementara itu, mas Lilik begitu santai dan terlihat excited banget menikmati permainannya.

Gak mau kalah dengan panitia, mas Lilik mengeluarkan kertas dan pena untuk mencatat skor permainan dari tiap-tiap team dan kemudian dicocokkan dengan milik panitia. Ada kalanya mas Lilik juga uring-uringan kalau mendapatkan huruf yang ‘jelek’. Hahaha. Lucu banget kalau inget saat-saat itu. Tapi hasil mikirku dari awal juga gak sia-sia sih. Aku nyumbang beberapa ide juga tentang kata yang akan dipasang. Kalau mikirnya udah mentok dan gak dapet ide tentang kata yang ‘bagus’ untuk dipasang, terpaksa pasang kata yang seadanya aja. Kata mas Lilik, “Yang penting urip.” Wkwkwk.

Permainan kedua berakhir dan dua team yang lolos ke semifinal adalah S1 Biologi dan S1 Matematika. Team S1 Biologi lebih unggul dibandingkan team-ku. Mereka mendapatkan skor 183, sementara teamku 131. Pada saat permainan aku sudah menduga kalau S1 Biologi ini memang lawan yang tidak bisa dianggap remeh. Sebenarnya aku nggak percaya dengan perhitungan skornya itu karena panitia menghitungnya di akhir permainan. Seharusnya mereka menghitung nilainya setelah setiap team meletakkan huruf agar lebih akurat. Saat dicocokkan dengan hasil yang ditulis mas Lilik juga beda jauh. Oleh karena itu, mas Lilik memberi saran kepada panitia agar di permainan berikutnya perhitungan skor sebaiknya tidak dilakukan di akhir permainan.

Adzan magrib mulai terdengar. Aku meninggalkan gedung C lewat pintu lantai 1 bersama Miki. Saat sampai di pertigaan dekat gedung C, aku berpisah dengannya. Miki pulang ke kosnya dan aku menuju mushola FMIPA untuk shalat magrib. Saat aku berjalan di samping gedung C, tiba-tiba ada batang pohon yang patah dengan sendirinya. Aku takut jika itu menimpa aku. Saat itu aku kaget sekali dan tidak menyangka batang itu tiba-tiba jatuh. Orang-orang di sekitar tempat itu pun tampak terkejut atas kejadian itu. Dengan segera, akhirnya aku berjalan terus menuju mushola.

BABAK SEMIFINAL

Senin, 7 Oktober 2013 adalah hari kedua untuk perlombaan Scrabble, yaitu babak semifinal. Di babak semifinal ini, ada tambahan pemain baru dari jurusan-jurusan yang menambahkan lagi delegasinya. Dari matematika tetap aku dan mas Lilik saja yang maju ke perlombaan ini. Tidak ada tambahan delegasi dari pihak matematika. Para team dari delegasi pertama yang masuk ke semifinal bermain pada waktu sekitar jam 16.00 waktu itu. Aku bersyukur sekali setidaknya nanti tidak pulang sampai magrib lagi seperti hari Jum’at minggu lalu.

Di babak semifinal ini, para team dari delegasi pertama bermain dengan papan Scrabble kecil yang tiles-nya terdapat magnet. Hmm.. aku gak suka sih sebenarnya karena ukurannya yang kecil. Aku lebih suka yang tidak ada magnetnya, tapi ukurannya besar karena lebih jelas dilihat menurutku. Peraturannya agak dibuat beda dalam babak semifinal ini. Setiap pemain selesai meletakkan huruf-huruf yang dipasang di playing board, panitia akan langsung menghitung skornya. Akhirnya saran dari mas Lilik dipakai juga. Hehehe.

Aku dan mas Lilik mendapat giliran pertama untuk mengawali permainan. Saat itu kami memasang kata ‘AVTUR’ yang artinya menurut kami adalah bahan bakar pesawat terbang. Panitia mengesahkan kata itu. Akhirnya kami pun mendapat skor atas pemasangan kata itu. Permainan terus berlanjut dan cukup menegangkan. Pemain dari jurusan biologi tetap tangguh dan percaya diri. Pemain dari jurusan lainnya juga tidak mau kalah. Mereka begitu semangat memikirkan kata apa yang akan dipasang nanti.

Di saat-saat terakhir giliran kami, mas Lilik memasang kata ‘DEAN’ di playing board. Saat itu ia mengartikannya dengan dekan. Karena sudah tidak ada tiles yang tersisa dan huruf di rak kami sudah habis, akhirnya pemasangan kata ‘DEAN’ itu mengakhiri permainan Scrabble babak semifinal itu. Saat panitia membuka kamus, ternyata arti dari ‘DEAN’ itu adalah rektor. Alhasil panitia mengurangi skor kami.

Ada satu hal yang lucu di saat permainan itu sudah selesai dan di antara orang-orang di situ hanya aku dan mas Lilik yang tahu. Jadi ceritanya, mas Lilik masih penasaran dengan kata ‘AVTUR’ yang pertama kali kami pasang tadi. Saat ia cari di kamus dalam handphone-nya, ternyata kata ‘AVTUR’ tidak ada. Aku sempat shock dan gak percaya. Akhirnya aku cek di kamus Oxford milikku dan ternyata juga tidak ada. Yang mengherankan lagi, ternyata panitia dan peserta yang lain tidak ada yang melakukan objection/keberatan atas kata yang kami pasang itu. Hahaha. Ya sudah lah, berarti itu rejeki kami. Malam harinya, mas Lilik sms aku kalau ‘AVTUR’ itu adalah akronim dari Aviation Turbine Fuel.

BABAK FINAL

Ini dia babak yang ditunggu-tunggu. Kamis, 10 Oktober 2013 adalah the final game! Para peserta yang masuk ke babak final adalah dari S1 Matematika, S1 Biologi, S1 Biologi (lagi), dan S1 Fisika (kalo gak salah, hehe). Hari itu aku mengenakan pakaian putih-biru yang menggambarkan kecerahan dan berharap secerah dari akhir lomba ini. Jadi biarpun seandainya nanti dari pihakku kalah, aku akan tetap semangat dan tidak putus asa. Jujur, dari dulu aku ingin sekali bisa mendapatkan setidaknya satu piala seumur hidupku. Entah itu dari lomba apapun yang bisa membanggakan kedua orang tuaku. Aku berharap dari lomba Scrabble ini bisa meraih piala pertamaku dan menjadi juara pertama. Namun, aku sadar ada yang lebih penting dari itu semua. Kalah atau menang, yang penting adalah pengalamannya dan yang pasti pengetahuan tentang vocabulary juga meningkat, apalagi kalau ingat waktu itu pasang kata ‘AVTUR’, langsung tiga kata sekaligus. Hahaha.

Hari itu aku datang ke kampus bersama mbak Kartika, senior sekaligus sahabatku. Aku yang memintanya untuk menemaniku saat itu. To be honest, aku agak gak PD kalo dateng ke Dies Natalis FMIPA sendirian. Mbak Anita – seniorku, sahabatku dan mbak Kartika – juga akan menyusul nanti untuk menonton perlombaan Scrabble. Awalnya, kami takut kalau nanti bertemu dengan dosen-dosen malah disuruh ikut jalan sehat, padahal kan kami tidak memakai celana training. Untung saja saat kami melihat para skuad MIPA sedang jalan sehat, tidak ada satu pun yang menyuruh kami untuk mengikuti juga kegiatan itu.

Aku menemui mas Lilik di depan jurusan matematika. Kami berlatih terlebih dahulu sebagai pemanasan dengan menggunakan peralatan Scrabble milik mas Lilik. Mbak Kartika yang memegang kamera digitalku mengabadikan momen itu. Saat kami sedang berlatih, mbak Anita pun datang. Di sela-sela permainan itu, aku menerima sms dari temanku Sonia, ia menanyakan dimana tempat perlombaan Scrabble. Aku juga menerima sms dari Miki kalau lomba Scrabble-nya diadakan di gedung C. Permainan pun berakhir dengan kemenangan di pihak mas Lilik. Skor akhirnya hanya selisih sedikit poin dengan skorku. Kami membereskan peralatan Scrabble dan langsung menuju ke gedung C .

Lomba Scrabble saat itu benar-benar diadakan di selasar utara gedung C. Kemarin-kemarin ditunggu di situ gak ada apa-apa. Saat kami datang, terlihat panitia sibuk mempersiapkan segala hal untuk keperluan final lomba. Aku dan mas Lilik selalu datang lebih awal dari para peserta lomba yang lain. Lama menunggu panitia yang sedang bertata-tata, mas Lilik memutuskan untuk membeli susu terlebih dahulu. Saat lomba akan dimulai, mas Lilik belum juga hadir. Akhirnya salah satu adik tingkatku menyusulnya. Ketika mas Lilik sudah hadir kembali, perlombaan pun segera dimulai. Seperti biasa, mas Lilik juga ikut panitia mencatat skor dari tiap-tiap team.

Final lomba itu benar-benar puncak keteganganku. Apalagi waktu itu kami mendapatkan huruf yang cukup terbilang susah untuk dirangkai dengan huruf lainnya, tapi memiliki nilai yang tinggi. Ini semua ada keuntungan dan kerugiannya. Jika dipasang, maka akan dapat skor tinggi apalagi di bagian triple word. Jika tidak dipasang, maka akan merugikan di akhir permainan karena skor akhir akan dikurangkan dengan huruf yang tersisa. Kami waktu itu punya huruf Q, I, dan Z. Peserta lain ada yang memasang umpan huruf U yang masih bisa dibentuk kata. Gotcha! Akhirnya mas Lilik punya ide untuk memasang suatu kata dan itu adalah ‘QUIZ’. Kami pun akhirnya mendapatkan jackpot. Hahaha. Kami memang memasang kata itu di area triple word, tapi kotak itu telah terjamah duluan oleh pihak lawan melalui kata ‘YOU’, jadi kami gagal untuk melipat-tigakan skor dari kata ‘QUIZ’ itu. 

Saat perlombaan berakhir, aku pesimis kalau kami akan mendapatkan juara satu. Apalagi waktu panitia mengumumkan bahwa juara satunya adalah dari S1 Biologi. Ya bayangkan saja, mereka mengirimkan dua delegasi dan dua-duanya masuk final semua. Namun, ternyata takdir berkata lain. Saat mas Lilik mencocokkan hasil perhitungannya dengan milik panitia, ternyata ada perbedaan. Panitia salah menghitung skor salah satu kata yang telah kami pasang dan akhirnya skor kami berubah. Alhamdulillaah kami jadi juara satu. Panitia meminta maaf pada S1 Biologi karena sebelumnya mengumumkan bahwa mereka juara satunya. Aku senang sekali dan bersyukur karena bisa menyumbangkan kemenangan atas nama jurusanku.









Tidak ada komentar: