Kamis, 06 Juni 2013

Opinion: Cara Menanggapi Curhatan Teman

Pernah nggak ketika kamu punya masalah lalu curhat ke temanmu terus dia merespon, "Kamu sih.. bla bla bla..." atau "Makanya jangan bla bla bla.." atau lebih parahnya "Itu sih derita Lo."  Contohnya nih, kamu dapat nilai jelek saat hasil ujian dibagikan. Kamu curhat ke temanmu dan dia nanggepin, "Emangnya kamu gak belajar apa?" Padahal sih kita sudah berusaha memahami materi yang akan diujikan dan juga sudah berusaha mengerjakan soal-soal ujian tersebut semampu kita. Yah tapi itu tadi, orang lain selalu mengungkit-ungkit penyebab mengapa kita bisa seperti itu, bukannya malah memberi masukan atau solusi bagaimana seharusnya kita melangkah selanjutnya. Terkadang saat kita dicurhati teman, mereka memang lebih butuh jawaban dari pertanyaan 'bagaimana' ketimbang dari pertanyaan 'kenapa' karena posisi teman kita itu sedang susah dan butuh pencerahan. Kalau kita malah memberi tanggapan seperti yang dicontohkan tadi, bisa saja dalam hati teman kita terselip rasa tersinggung dengan tanggapan kita. Memang sih, ada orang yang easy going dengan tanggapan seperti itu, tapi saya rasa itu bukan sikap yang tepat. Coba kalau kita kasih solusi, dia pasti akan merasa lebih baik dan merasa sedikit lega juga. Jadi, ayo dari sekarang belajar mendengar, belajar peka, dan belajar menghargai teman kita karena suatu saat ada kalanya giliran kita yang akan seperti itu. Hidup ini tidak selalu konstan, Kawan! :)

Rabu, 29 Mei 2013

Short Story: The Miracle of Honesty

“Believe… Believe… you can do it, Sharon! You can do it!” Sharon said to herself staring at algebra book in front of her. She had been sitting in her campus library for four hours. The library visitors began left that place one by one since it was almost 5 pm –the time when the library must be closed. She did not know what to do. She looked very frustrated after she had been out from algebra class. The lecturer had told her not to cheat during the test. Inside her heart, she felt very guilty of what she had done. Sharon always wanted to stop that habit and she always had that intention. However, every time she faced the test, she was not able to contain herself for cheating.

“Stupid!” She groaned and cried a little bit loud. She was almost mad bearing that burden alone.

The librarian, Mr. Thomas, saw her. He then walked closer to her. He wondered why that girl hadn’t gone home yet, while it was 5 pm and the library must be closed soon.
“Hey girl, the library will be closed. Why are you still here?” Mr. Thomas asked her, friendly. By his sharp gaze, he stared at her curiously. Sharon hastily stood up from where she sat up. She quite shocked when Mr. Thomas came to her. “Oh, I’m sorry, Sir. I don’t know that it is 5 pm now. I’m going to back home.” She then took the algebra book that she borrowed previously and returned it to the mathematics bookcase which quite near from where she sat up before.

            “Don’t take it personal. Why do you cry?” Mr. Thomas asked her again. He realized that Sharon was crying at that time. Sharon wiped the tears from her eyes quickly. She was shy and nervous suddenly when Mr. Thomas said to her that way.

            “I wish I could remove all the damn things in my mind. It’s alright, I’m okay. I need to leave. Good afternoon, Sir.” Sharon left Mr. Thomas. “Good afternoon. Come again tomorrow with your bright face.” Mr. Thomas could not figure out what something that actually happened to her.

            Along the journey to her house, Sharon still thought about what her algebra lecturer had said. Those words seemed appeared in her mind continuously. The stronger she tried to forget it, the stronger her mind to remember it.
            After she left behind the school approximately 1 km, she arrived in an area near her house, in the front of Mr. Harry’s house exactly. Mr. Harry’s family is one of the richest families in that neighborhood.
Sharon saw so many people near her neighbor’s house. There were so many police too around it. Every people looked so panic and confused. Mrs. Harry was crying loudly and getting angry to the police. Sharon became curious about all of this condition. She then decided to ask to the woman who wore green clothes standing not far from her. 

   “Excuse me, Madam. Why is Mrs. Harry’s house so crowded?”
   “There was an assassination inside that house one hour ago.”
               “Oh my God, who was the victim? And who was the assassin, Madam?”
           “I don’t really know, but I heard that the assassin was someone who had been deceived by the victim. The assassin has gone and the police are still chasing after him.”

TO BE CONTINUED...

Jumat, 24 Mei 2013

Cerpen: Terima Kasih, Alayer!

Perkenalkan, nama gue Alpin. Gue masih kelas dua SMA. Hari ini adalah hari bad mood sedunia bagi gue. Diawali pagi tadi telat berangkat ke sekolah, pintu gerbang ditutup sama pak satpam, dan akhirnya gue harus nerima takdir mungut sampah daun sebanyak-banyaknya di sekitar pintu gerbang sekolah. Itulah password yang diberikan ke pak satpam agar beliau membukakan pintu gerbangnya. Duh, malu gue, mana ini hari senen lagi. Jelas ada upacara bendera di lapangan sekolah. Gue akhirnya diliatin guru-guru dan teman-teman yang lagi pada baris. Jadi nggak khidmat deh tuh upacara gara-gara gue. Penderitaan gue belum selesai. Setelah upacara selesai, gue dijemur di lapangan sambil hormat ke Bendera Merah Putih selama dua puluh menit sesuai hitungan waktu keterlambatan gue. Selesai dijemur, temen-temen nyangka mereka kedatangan murid baru dari Afrika.

Siang harinya gue dapet ‘pisang goreng anget’ alias cubitan maut dari guru sejarah gara-gara gue nggak hafal tentang cerita penjajahan Belanda di Indonesia. Sakit banget rasanya. Ya mau gimana lagi, gue nggak pernah suka sama yang namanya hafalan. Mending matematika deh (gaya betul, padahal mid semester nilainya double-la alias 66). 


Pulang sekolah, gue kehujanan. Sampai di rumah udah basah kuyup, lusuh, kotor kayak bebek habis kejebur di got. Untung ibu masih mengenali gue ini siapa. Kalo nggak, udah diusir idup-idup kali gue dari rumah. Akhirnya gue bergegas mandi agar gue kembali ke wujud asli Alpin yang sebenarnya. 


Malam harinya, gue mencoba untuk refreshing sejenak dengan membuka Facebook. Iseng-iseng gue ngepo-in beberapa profil temen gue. Udah gitu nyampah di status orang alias komen-komenan nggak penting. Lalu beberapa menit kemudian muncul 1 friend request. Nama akun facebook orang itu alaynya keterlaluan, yaitu tH4LicH4 aNaKLinCaHluTHudAniMoeT cinDTadIriM0ecLamAna. Pertama kali gue baca itu nama, gue sempetin istighfar tiga kali. Ada ya orang tua yang ngasih nama anaknya kayak gitu? Tapi gue bersyukur, gue mengenal satu jenis orang lagi. Biasanya gue suka mendiskusikan soal kealayan dengan adik gue, Zacky yang masih kelas satu SMP. Ketika gue tau ada alayer nge-add gue untuk jadi temannya di Facebook, akhirnya gue panggil adik gue yang sedang main Angry Birds untuk berdiskusi.
“Dek, sini geh bentar.” Gue menyuruh Zacky untuk beranjak sejenak dari posisi dia bermain Angry Birds.
“Apaan sih, Kak?” Zacky pun mendekat ke gue.
“Ini, ada alayer nge-add. Kakak harus gimana?” Tanya gue.
“Wah, ini sih spesies super alay dan langka, Kak. Harus dilestarikan. Accept aja, Kak. Ntar dia punah kalo diabaikan.” Jawab Zacky.
“Oh gitu ya, Dek? Oke deh.” 


Atas saran dari adik gue, akhirnya gue menerima permintaan pertemanan dari dia. Nggak lama kemudian, dia langsung ngajak gue chatting. Gue minta saran lagi ke adik gue untuk meladeni spesies itu atau tidak. Dan adik gue memberikan jawaban yang sama: nanti dia punah kalo diabaikan. Huh, susah juga ya minta pendapat sama anak SMP. 


“aLLowhH………………………………………………………..” Dia memulai percakapan.
“Elo siapa?” Tanya gue penasaran.
“LeH kNaLLan Gag????????” Dia malah balik tanya dengan delapan tanda tanya. Mungkin nggak ngerti bahasa gue.
“Nggak!” Jawab gue tegas.
“iCh,,, gaLaK BeuD siCH?????” Kali ini jumlah tanda tanyanya berkurang. Berarti udah ngeh bahasa gue.
“Masalah buat lo?”
“eMhh,,, gaK jgA koK,,, nMaQ LiCHa. nMa Qm cPa?????” Dia tanya siapa nama gue. Gue jadi curiga, jangan-jangan dia nggak ngeh kalo nama akun Facebook gue itu adalah nama asli gue. OMG, jangan bilang dia tanya nama alay gue.
“Apa nama gue kurang jelas di Facebook lo?”
“PngGiLann4 App4h?????” Akhirnya angka 4 sebagai huruf alay pengganti ‘a’ mulai dia pakai dan sepertinya dia mulai ngeh dengan nama asli gue.
“Pipin.” Di rumah, gue memang dipanggil gitu.
“OwH,,, kLaz bRp4 PiN?????” Dia nanya gue kelas berapa.
“Buat apa lo nanya gue kelas berapa?” Gue balik tanya.
“cMtZ.” Dia mulai mengeluarkan kata yang super aneh.
“CMTZ?” Karena gue penasaran, akhirnya gue tanya.
“cMa Mw tAu Za,,, Hihihi,,,”
Gubrak deh. Sejenak bingung gue mau bales apa, tapi karena cara dia tertawa kayak gitu, akhirnya gue punya ide lagi untuk melanjutkan percakapan.
“Lo masih keturunan mbah Kunti ya?”
“cPa tuCH mBh KuNtI??????”
“Ah sudah, lupakan.”
“pP Qm gMbr N4rUtO ea????? aQ jgA cKa n4RutO lHoo”
“Gue gak tanya.”
“aQ jGa cKa cMa s4kUr4,,, aQ pGen kYk di4. Hihihi.”
“Ya suka-suka elo aja, asal lo bahagia, gue juga ikut bahagia. Asal jangan nyuruh gue bergangnam style aja.”
“Co0 cUiitT,,,”
“Udah ya, capek gue baca hasil ketikan lo.”
“kNP4 cPeK?????”
“Lo pikir aja sendiri.”
“hEmM,,, ocE deCH,,, cLmaT iStiRhT eaAa,,,”
“Ya.”
 

Selesai chatting, gue ngakak sama Zacky. Bener kata adik gue, ini spesies bener-bener super alay dan langka. Pertama, nggak biasanya gue nemuin nama alay sespektakuler gitu. Biasanya gue nemuinnya kayak ‘Lisa Cinta Dia Celamanya’ atau ‘LiSa cInTa dIa CeLaMaNyA’ gitu deh. Gue masih penasaran, apa sih sebenernya yang ada di pikiran alayers itu? Gue nggak percaya 100% itu nama dari orang tuanya dan gue percaya 100% nama asli dia pasti jauh lebih bagus dari pada nama akun Facebook dia. Kalo orang tuanya tau si anak lebih milih pake nama alay itu, gue jamin pasti udah nangis deh.
 

Kedua, alayer satu ini lebih ramah dari pada yang pernah gue temuin. Biasanya kalo digalakin dikit mereka langsung exit dari obrolan atau mencak-mencak nggak jelas. So what? Suruh siapa sok kenal sok deket pake bahasa abstrak.
 

Anyway, gue bersyukur kedatangan alayer yang baik malam ini yang tanpa gue sadari telah mengusir rasa bad mood gue. Setidaknya mood gue bisa kembali lagi seperti semula. Terima kasih, Alayer! Gue harap elo selalu muncul disaat gue membutuhkan.

Rabu, 22 Mei 2013

Sebuah Kenangan: Where on Earth is Carmen Sandiego?

Pencuri terkenal di dunia. Itulah julukan yang diberikan oleh masyarakat di seluruh dunia untuk Carmen Sandiego, wanita berambut hitam panjang mengombak dengan topi fedora merahnya, serta jubah merah andalannya, dengan sepatu hak tinggi merah sebagai kebanggaannya. Mungkin ini hanya sekedar serial kartun biasa bagi sebagian orang yang pernah mengenal acara TV ini. Namun, tidak bagiku. Ini adalah sebuah kenangan masa kecilku yang sangat berharga. Serial animasi ini telah mengajarkanku banyak hal tentang pengetahuan umum mengenai negara-negara di bumi ini dengan potret geografi yang mengagumkan. Memang, pemeran utama dalam serial ini adalah antagonis dan sangat lihai dan cekatan dalam melaksanakan aksi pencuriannya. Namun, itulah salah satu sisi seru dari acara TV yang mulai dirilis pada tahun 1994 ini. Where on Earth is Carmen Sandiego? pernah ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta nasional sekitar 9 tahun yang lalu. Walaupun berlatar belakang kriminal, tapi inti dari animasi ini adalah untuk memberikan informasi tentang pengetahuan umum di berbagai penjuru dunia, khususnya di bidang geografi.


Dimanakah sebenarnya Carmen Sandiego? Adalah dua kakak beradik, Ivy dan Zack yang tak pantang menyerah untuk mengejar dan mencari-cari dimana keberadaan Carmen Sandiego lewat petunjuk-petunjuk yang biasa Carmen berikan sebelum meninggalkan negara tempat ia mencuri. Ivy adalah seorang detektif remaja berumur 18 tahun, bermata hijau, dan berambut merah yang sangat berambisi untuk menangkap Carmen Sandiego. Ia sangat energik dan mudah merasa frustasi dalam menangani kasus tentang Carmen. Adiknya, Zack, adalah partnernya yang berumur empat tahun lebih muda darinya, bermata biru, dan berambut pirang. Berbeda dengan Ivy, Zack sangat santai dalam menangani kasus tersebut. Zack juga sangat jenius. Ia bahkan menguasai banyak bahasa asing (bahasa selain Bahasa Inggris) yang tidak dimengerti oleh kakaknya.


ACME adalah instansi tempat Ivy dan Zack bergabung untuk menangani kasus pencurian yang dilakukan oleh Carmen Sandiego yang bermarkas di San Francisco, California, US. ACME mempunyai beberapa cabang di beberapa negara. Dari Wikipedia, ACME dikepalai oleh CHIEF yang merupakan singkatan dari Computerized Holographic Imaging Educational Facilitator. CHIEF memfasilitasi Ivy dan Zack untuk mengejar Carmen dari satu negara ke negara lain dengan menggunakan C5 Corridor, yaitu semacam mesin waktu untuk memudahkan mereka berpindah tempat. CHIEF mempunyai sifat cerewet, lucu, dan bijaksana dalam memberi arahan kepada Ivy dan Zack. Petualangan ACME detective yang berambisi untuk menangkap pencuri terkenal di dunia itu digambarkan terjadi dalam suatu virtual reality computer game yang dijalankan oleh seseorang yang disebut sebagai "The Player." Player dapat melakukan perbincangan langsung dengan Carmen Sandiego.

Di sela-sela petualangan Ivy dan Zack yang sibuk mengejar Carmen, serial kartun ini juga menawarkan pertanyaan kepada penonton yang berkaitan dengan pengetahuan umum dalam animasi tersebut. Yang menonton dengan sungguh-sungguh pasti tahu apa jawabannya. Biasanya pertanyaan itu muncul sebelum commercial break dan jawaban akan diberikan setelahnya. Misalnya dalam episode "The Stolen Smile" ada sebuah pertanyaan, "What's another name for The Netherlands?" Hayooo kira-kira apa jawabannya? 3..2..1.. yap, jawabannya adalah "Holland."

Pengisi suara Carmen Sandiego oleh Rita Moreno, Chief oleh Rodger Bumpass, Ivy oleh Jennifer Hale, dan Zack oleh Scott Menville. Theme song dari Where on Earth is Carmen Sandiego? ini sebenarnya merupakan musik opera karya Wolfgang Amadeus Mozart yang berjudul "Singt dem grossen Bassa Lieder" dengan perubahan lirik dan instrumentasi. Berikut adalah video dan lirik dari theme song tersebut.



Where is Carmen Sandiego?
Carmen Sandiego
Where on earth can she be?

Tell me
Where is Carmen Sandiego?
Oh, Carmen Sandiego
Where on earth can she be?
Where on earth can she be?

Oh.. Oh.. Oh..

Sphinx, Mona Lisa,
Leaning Tower of Pisa,
London Zoo,
Timbuktu,
Can you help us find a clue?

Oh, where is Carmen Sandiego?
Carmen Sandiego
Where on earth can she be?

Where on earth can she be?