Idioms May 17, 2012
1. Beetle of : bergegas pergi.
2. Bread and butter : mata pencaharian.
3. Capitalize on : memanfaatkan peluang.
4. Pine after : merindukan.
5. Letter carrier : tukang pos.
6. Hush money : uang suap.
7. Expend on : membelanjakan.
8. Eye Appeal : menarik untuk dilihat.
9. Never say die : jangan putus asa.
10. Plenty more : masih banyak lagi.
11. In recess : sedang cuti/istirahat.
12. Side-kick : sahabat sejati.
13. As timid as a mouse : penakut.
14. Lead on : menipu.
15. Integrate with : menyatukan.
16. Come to a halt : dihentikan.
17. Half-wit : orang bodoh.
"Live as if you were to die tomorrow. Learn as if you were to live forever." - Mahatma Gandhi
Selasa, 22 Mei 2012
Jumat, 16 Maret 2012
Jumat, 09 Maret 2012
Aku, Komputer, dan Labkom
Aku Suka Komputer
Komputer. Ya, aku punya interest dengan komputer. Semenjak bapak membeli seperangkat PC (Personal Computer) pertama kali, entah kenapa aku langsung menyukai benda yang masih asing bagiku waktu itu. Adikku pun begitu. Kami sama-sama tertarik dengan komputer. Bahkan dulu, saat aku benar-benar sedang penasaran dan ingin belajar menggunakan komputer serta mengetahui seluk beluknya, aku harus lebih dulu sampai di kursi depan monitor daripada adikku. Saking kami begitu addictednya. Salah satu momen yang masih 'tersangkut' di pikiranku.
Aku mempelajari banyak hal waktu itu, mulai dari mengenal Microsoft Word, Excel, dan PowerPoint sampai ke aplikasi pemutar musik Winamp. Aku coba-coba membuka satu-satu software itu. Masih terasa aneh waktu itu. Memegang mouse pun masih agak kaku. Lihat Microsoft PowerPoint: "Ini software sebenernya buat apaan yak? Kok lumayan keren." Ada-ada saja pokoknya. Ya begitulah saat mengenal hal baru. Tapi begitu mengasyikkan.
Saat SMP, salah satu mata pelajaran yang aku sukai adalah komputer. Karena aku sudah cukup familiar dengan komputer, aku jadi tidak kaget untuk memulai pelajaran itu. Belajar apa itu hardware, apa itu software, bagaimana sejarah komputer, sampai mengenal internet. Alhamdulillah setiap point penilaian pada sertifikat komputer mendapat nilai A semua.
Saat SMA aku bersyukur sekali diajari blind typing, yaitu mengetik buta. Jadi, aku diajari mengetik tanpa melihat keyboard. Hmm.. tapi saat ujian aku remidi juga. Tak apa, alhasil aku merasakan dampaknya. Sekarang aku bisa mengetik dengan lancar tanpa harus menatap ke huruf-huruf dan beberapa karakter di keyboard. Kuncinya cuma meletakkan telunjuk tangan kirimu di huruf F dan telunjuk tangan kananmu di huruf J. Jari yang lainnya menyesuaikan. Mulailah dengan menghafal posisi huruf-huruf dan karakter di keyboard. Lalu belajarlah untuk menggerakkan jemarimu ke posisi dimana kamu ingin menekan tombol huruf itu tanpa harus melihatnya. Lakukan dengan rutin. Trust me, it works! :D
Aku juga punya pengalaman pernah membantu bapak Ari, petugas lab komputer SMA untuk menginstal OS Linux, yaitu Ubuntu. Secara bertahap pak Ari membantu aku dan kawan-kawan untuk menginstalnya. Cukup rumit memang, apalagi saat membagi kapasitas partisinya. Tapi waktu itu beliau langsung memberi tahu seberapa besar kami harus mengalokasikannya. Seru sekali. Sebenarnya pernah terlintas, aku ingin kuliah di jurusan Teknik Informatika, tapi karena jaman sekarang banyak yang bisa komputer, dan peminat untuk masuk TI sangat banyak, jadi aku mengurungkan niatku.
Menjadi Maganger Labkom
Ya, aku sekarang berada di jurusan matematika FMIPA UNS. Pada semester dua, sebagian besar waktuku aku luangkan untuk mengikuti kegiatan di labkom. Ini adalah salah satu pengalaman berhargaku, maka akan aku ceritakan dengan cukup detail. Awal semester dua, aku melihat pamflet di papan pengumuman: "Open Recruitment Maganger Labkom". Hah? Apaan nih. Seperti biasanya, kalau melihat ada pengumuman yang berhubungan dengan komputer, aku pasti langsung penasaran. Mondar-mandir di papan pengumuman karena masih penasaran terus. Akhirnya mencatat contact personnya, yaitu mbak Emy. Ada temanku yang bilang kalau mungkin Emy itu ibu yang jadi receptionist di jurusan matematika, padahal bukan. Itu mbak Emy asisten labkom. Yang ada di jurusan matematika itu namanya mbak/bu Eny. Yah, beda satu huruf.
Ternyata teman-temanku ada yang tertarik juga untuk mengikuti seleksi maganger labkom itu, yaitu Yeva, Rizza, Zulia, dan Diah yang aku ingat. Mereka tampaknya juga sama-sama punya ketertarikan dengan dunia komputer. Masih melihati pamflet pengumuman, aku benar-benar deg-degan. Terus bertanya-tanya: "Aduh... nanti ada wawancara gak ya? Terus tesnya itu gimana?" Bla.. bla.. bla.. segala macem. Tak mau terus dihantui rasa penasaran, sedikit lupa sih, aku atau temanku akhirnya memutuskan untuk sms mbak Emy menanyakan tentang hal perekrutan itu. Waktu itu kalau gak salah aku menyapanya dengan sapaan "Bu Emy" karena tadi itu, aku pikir dia itu receptionist di jurusan matematika. Tapi, mbak Emy membalas smsku ramah dengan gaya bahasa bercandanya. Selamat deh saya...
Selanjutnya... aku mempersiapkan segala berkas-berkas dan syarat yang harus diserahkan ke receptionist labkom nanti, mulai dari CV, fotokopi karmas, sampai sertifikat tentang ketrampilan komputer. Nah... aku punya kisah buruk tentang sertifikat ketrampilan itu. Waktu itu sertifikatku ada di Lampung dan aku meminta ibuku untuk mengirimkannya ke Solo. Karena aku tidak tahu alamat kosku dengan jelasnya baik RT atau RW berapa, maka aku memutuskan untuk menyuruh ibuku untuk mengirimnya ke alamat kantor pos UNS. Beberapa hari kemudian setelah sertifikatnya kira-kira sampai, aku memutuskan ke kantor pos untuk mengambilnya. Saat itu aku ditemani temanku, Amalia. Aku datang kesana menanyakan kepada bapak petugas kantor posnya, dan..... aku dimarahi. Beliau kurang lebih bilang seperti ini, "Coba kalau saya ngirim surat ke alamat rumah kamu tanpa izin, kamu marah gak?" Sepertinya aku telah melanggar etika pengiriman surat. Ternyata tidak boleh mengirim sesuatu dengan tujuan ke kantor pos sebelum meminta izin terlebih dahulu. Saat itu aku benar-benar tidak tahu kalau boleh mengirim sesuatu dengan tujuan ke kantor pos. Eh... ternyata malah dimarahi. Ya sudah, aku minta maaf akhirnya, tapi wajah bapak itu masih terlihat kesal. Pulang dari kantor pos, aku dan Amalia hanya berdiam diri.
Aku mencoba sabar dan merenungi ketidaktahuanku saat itu. Ya benar juga sih, tidak boleh mengirim ke tempat orang lain tanpa izin. Aku takkan mengulangi itu lagi. Aku ingat sekali kejadian itu terjadi pada hari Selasa, tapi aku lupa tanggal berapa. Baiklah, langsung saja akhirnya aku menyerahkan segala syarat yang diperlukan itu ke meja receptionist labkom. Selanjutnya aku mendapat sms untuk briefing calon maganger pada hari Jumat. Pada hari itu aku dan teman-teman pun ke ruang labkomdas untuk mendapatkan arahan dari asisten tentang prosedur perekrutan calon maganger. Saat itu kalau tidak salah ada mas Arif Rosada dan mas Muhammad Yahya Kipti. Mereka tampak sangat serius sekali. Suasana agak horor sih, apalagi ketika aku mendengar ada kata 'wawancara' ! Yak, di depan para asisten dan juga dengan pengelola labkom. Huah... aku paling grogi ketika menjalani yang namanya wawancara. Entahlah... itu masih misteri pada waktu itu.
Tes pertama adalah tes tentang pengetahuan informasi dan teknologi. Ada multiple choice dan essay. Cukup bisa aku mengerjakan itu. Ada gambar Bill Gates lagi, hihihi. Selanjutnya adalah tes hardware. Oh my God, aku memasuki lab pemrograman untuk menjalani tes itu. Saat itu ada mas Hariyadi Prasasta yang memberi arahan disitu. Wew, sebenarnya aku lumayan tahu tempat-tempat memasangnya, cuma......... heuuu saat itu aku kesulitan memasang bautnya. T.T
Tapi lega juga sih setelah menjalani kedua tes itu.
Ada briefing satu kali lagi. Kali ini asisten ingin memberikan arahan tentang wawancara dengan asisten. Kami disuruh membuat powerpoint tentang CV, gambaran sedikit tentang labkom, motivasi kenapa ingin jadi maganger labkom, dan kemampuan apa yang kita tawarkan yang membuat pantas diterima jadi maganger labkom. Duh, benar-benar kayak lagi mau melamar kerja aku. Asisten saat itu telah membuat undian. Saat aku menerima undian, aku dapat nomor pertama. Guys, bayangin doooong? Untuk orang kayak aku dapat pertama kali bisa semaput kali ya (lebay.com). Karena boleh ditukar, akhirnya aku minta tukar saja. Dan aku dapat urutan keempat. Yah, not bad lah. Daripada urutan pertama. Heuuu. Saat membuat powerpoint malam hari itu aku dibantu temanku, Alina. Aku benar-benar grogi, cemas, takut segala macem saat menggarap itu. Terbayang-bayang nanti bagaimana ya? Aku soalnya tidak terbiasa berbicara di hadapan orang banyak. Sendirian lagi. What the hell....
Hari wawancarapun tiba. Grogi, cemas, takut, semua jadi satu. Aku saat itu sendiri. Yeva temanku dapat giliran siang, sementara aku urutan keempat berarti pagi hari. Aku belum berani menginjak lantai dua waktu sampai di kampus. Aku masih menunggu di kanopi gedung A. Entah apa yang aku tunggu. Saat itu juga aku menelpon teman baruku, Asih untuk datang menemaniku, tapi tidak diangkat-angkat telponku. Tambah cemas. Satu lagi alasanku kenapa bisa sampai sebegitunya, karena aku tak terbiasa berkomunikasi dengan laki-laki. Ya kalian perlu tahu, kalau aku berurusan dengan laki-laki aku sangat pemalu. Gak tau ya, tapi kalau sama teman perempuan aku bisa bercanda sepuas mungkin, ya istilah ekstremnya mungkin 'menggila' begitulah. Aku sebenarnya juga gak mau cuek dengan laki-laki. Aku mau berbagi, tapi mereka juga harus peduli dan menghargai. Kalo udah cuek, hmm... say goodbye ajalah. Kadang serba salah, mau senyum atau menyapa misalnya, pasti ada sejuta alasan negatif dalam pikiran: duh, nanti dia ge-er lagi, hmm... takut dicuekin, ah aku kan gak seberapa kenal sama dia jadi biarin ajalah, dan lain-lain. Kenapa ya aku gak bisa melatih berkomunikasi dengan baik gitu? Tapi tenang saja, saat ini aku sedang dalam tahap pembelajaran kok. Hehe.
Masih duduk di bangku kanopi dengan rasa panik to the max. Ada orang lewat di depanku. Hoaaa.. itu adalah salah satu calon maganger. Ia berjalan keluar gedung A. Namanya Ahmad Rifa'i. Ku rasa dia adalah peserta pertama yang menjalani tes wawancara. Dia sudah keluar, dan aku harus memberanikan diri ke labkom...... sendirian. Mula-mula aku ke lorong jurusan matematika dan aku menunggu di situ karena dekat dengan labkom. Aku melihat temanku Rizza sudah selesai diwawancarai. Saat aku ingin menginterogasinya, dia tampak seperti sedang buru-buru, jadi aku tak sempat bertanya banyak. Akhirnya aku pindah duduk di lorong labkom dan mendengar suara perempuan tampaknya sedang diwawancarai para asisten labkom. Aku menunggu disitu sambil berusaha menenangkan diriku dan mencuri kesempatan untuk mendengarkan apa saja yang ditanyakan asisten di dalam ruangan itu kepada teman baruku yang sedang diwawancara. Heuu tapi suara mereka kurang jelas sekali. Ya sudahlah, pasrah aku demi ilmu perkomputeran yang sebentar lagi aku dapatkan (jika diterima).
Sambil grogi-grogi gimana gitu, tak lama kemudian teman baruku itu keluar lab. Dia tampak sangat lega telah menjalani tes wawancara. Aku tanya ke dia apa saja yang ditanyakan para asisten, tapi ya jawabannya kurang jelas. Kemudian dia pergi meninggalkan lab dan ada seorang asisten lab yang keluar dari pintu ruang wawancara berkata padaku kurang lebih seperti ini, "Mbak Anna ya? Silahkan masuk." Duh, dengan rasa deg-degan akhirnya aku masuk juga. Di ruangan itu aku bertemu mbak TH, kakak kosnya Rifa, temanku. Aku segera menampilkan PowerPoint buatanku yang dibantu Alina saat itu dan melakukan presentasi. Setelah selesai, banyak asisten yang tanya mengenai seputar labkom. Aku benar-benar tergagap dan nge-blank sama sekali. Bingung mau jawab apa. Sesekali terdengar ada yang menertawakan aku juga. Karena waktu itu aku banyak yang belum kenal, jadi suasananya tambah mencekam. Heleh. Padahal bagi orang yang dah pinter ngomong ya biasa aja, beda sama aku.
Selesai diwawancarai, aku keluar ruangan sambil terus meratapi ketidakmampuan diriku dalam menjawab pertanyaan asisten tadi. Di sepanjang jalan aku menangis. Aku sedih sekali karena aku masih saja grogi ketika berbicara di depan umum. Aku tampak seperti ketakutan. Apalagi jumlah laki-laki lebih banyak dari pada perempuan. Belum lagi waktu itu aku sampai dimarahi bapak-bapak di kantor pos. Kalau tidak diterima jadi maganger... ya sudahlah. Aku sudah pasrah. Mungkin itu jalan yang terbaik. Dalam hal berbicara di depan umum, aku memang tak seberuntung teman-temanku yang lain. Aku iri dengan mereka. Mereka harusnya lebih bersyukur.
Masih ada satu tes wawancara lagi, yaitu dengan pengelola. Saat itu aku bertekad untuk melanjutkan perjuanganku sampai akhir. Diterima atau tidak itu masalah belakangan, yang penting aku tidak mau jadi pengecut. Akan ku hadapi. Sebelum memasuki ruang pengelola, aku bertemu teman baruku yang waktu itu ikut wawancara urutan ketiga, aku baru tahu namanya adalah Tri. Saat itu Tri masuk ruang pengelola duluan untuk diwawancarai. Aku menunggu di ruang tunggu bersama Yeva. Setelah Tri keluar, giliran aku yang masuk. Dengan membawa CVku, aku memberanikan diri untuk diwawancarai. Suasananya tidak setegang saat diwawancarai asisten. Aku lebih enjoy diwawancarai pengelola, yaitu bu Diari. Bu Diari adalah orang yang sangat ramah. Itu kesanku saat diwawancarai beliau.
Selang beberapa hari kemudian, pada malam hari aku mendapat sms yang isinya memberitahukan bahwa kepada calon maganger yang menerima sms itu diharapkan (kalau tidak salah) besok berkumpul di ruang pengelola. Aku mikir kenapa ya kok disuruh kumpul. Aku sms Asih, dia juga dapat sms itu. Terus aku sms Yeva, katanya dia belum menerima. Aku bingung. Apa pengumuman magangernya sudah ada ya? Lihat besok sajalah. Keesokan harinya aku melihat mbak Emy, salah satu asisten labkom menempelkan sebuah kertas di salah satu tempat pengumuman di lantai 3 gedung A. Aku langsung mendekati kertas yang ditempel itu. Ternyata itu pengumuman para calon maganger yang diterima menjadi maganger labkom. Ternyata ada namaku tertera di kertas itu. Nama Asih dan Yeva juga ada, begitu pula Cindra, teman baruku yang lain. Wah alhamdulillah. Disyukuri sajalah walaupun hasil wawancara kemarin tidak memuaskan. Aku akan berusaha menjalani amanahku sebagai maganger semampuku.
Saat kumpul di ruang pengelola, para maganger dan asisten memperkenalkan diri satu sama lain. Duh, sepertinya mereka itu orang-orang yang hebat di bidang IT. Agak minder juga sih. Rata-rata asalnya dari Jawa, mungkin cuma aku yang dari Sumatera. Koordinator asisten labkom memaparkan tentang apa saja yang harus dikerjakan oleh maganger selama menjadi maganger labkom. Alokasi waktu kerjanya sih memang lebih sedikit dari pada asisten labkom, tapi pengalamannya itu lho yang mahal. Aku ditempatkan di divisi Public Relation atau humas.
Aku senang sekali pada saat menjalani rutinitasku menjadi maganger labkom. Aku mendapatkan banyak ilmu, diantaranya cara menginstal dan uninstal software yang belum pernah aku kenal, seperti software-software pemrograman, cara merawat PC, cara membongkar pasang CPU dan membersihkan perangkatnya, dan masih banyak lagi. Aku nyadar sih kalo kekuranganku itu adalah gak beranian. Gak tau kenapa bawaannya sungkan terus sama asisten. Mau tanya saat rapat aja malunya minta ampun. Oya, dulu saat habis instalasi aku pulang ke Lampung. Aku pikir instalasi sudah selesai karena tidak ada pemberitahuan kalau masih berlanjut. Saat aku balik lagi ke Solo, aku sepertinya kena sindir karena pulang kampung kelamaan, padahal sebenarnya aku tidak tahu kalau instalasi masih berlanjut selama liburan. Kalau alasannya tidak tahu memang bakal dimarahin juga sih, suruh siapa gak nanya koordinator. Ah, tapi waktu aku pulang aku juga sudah ijin kok sama koordinator dan dibolehkan. Lagi pula, koordinator tidak nitip peringatan apa-apa kepadaku baik itu disuruh liburan cuma sebentar atau instalasi masih berlanjut. Yaudah, jadi kalau tidak salah waktu itu aku di Lampung sampai sebelas hari dan tentu saja pikiran labkom di benakku tidak aku tinggalkan. Itu juga saat aku balik ke Solo masih kepikiran labkom. Karena waktu itu ada berita yang kurang menyenangkan, jadi aku ikut khawatir. Eh gak taunya, sampai sana malah disindir. Yaudah deh, mau gimana lagi.
Hufff, akhirnya cerita berakhir di rumah bu Winita, ketua labkom yang baru, menggantikan bu Diari. Kita buka puasa bersama di sana. 13 Agustus 2011 adalah pengumuman siapa saja maganger yang terpilih menjadi asisten labkom. Kami diberikan amplop yang berisi pengumuman itu. Amplop itu tidak boleh dibuka di rumah bu Winita. Pulangnya, aku diantar mbak Ika yang menjabat sebagai sekretaris asisten labkom. Di kamar, aku sudah pasrah dengan keputusan yang diberikan Allah. Semua pasti akan baik-baik saja. Dan... aku tidak diterima menjadi asisten labkom. Aku tak bisa membendung air mataku untuk keluar. Aku rasa aku pantas menerimanya. Aku menangis karena aku terlalu menginginkan lebih lama berada di labkom sebagai asisten, tapi ternyata Allah tidak berkehendak. Mungkin salah satu sebabnya adalah mengenai ridho orang tua, ternyata orang tuaku tidak mengijinkan sepenuhnya aku mengikuti kegiatan di labkom. Mungkin mereka terlalu rindu padaku dan takut aku tidak pulang-pulang.
Aku berterima kasih sekali kepada semua pengelola, asisten labkom, dan teman-temanku seperjuangan sesama maganger. Terima kasih atas ilmunya. Semoga Allah membalas segala kebaikan kalian. Aku mohon maaf karena belum bisa menjadi rekan yang 'baik' bagi kalian. Tapi aku bersyukur, aku bisa dapat banyak teman dan mengenal lagi beberapa ciptaan Allah yang luar biasa. :)
Komputer. Ya, aku punya interest dengan komputer. Semenjak bapak membeli seperangkat PC (Personal Computer) pertama kali, entah kenapa aku langsung menyukai benda yang masih asing bagiku waktu itu. Adikku pun begitu. Kami sama-sama tertarik dengan komputer. Bahkan dulu, saat aku benar-benar sedang penasaran dan ingin belajar menggunakan komputer serta mengetahui seluk beluknya, aku harus lebih dulu sampai di kursi depan monitor daripada adikku. Saking kami begitu addictednya. Salah satu momen yang masih 'tersangkut' di pikiranku.
Aku mempelajari banyak hal waktu itu, mulai dari mengenal Microsoft Word, Excel, dan PowerPoint sampai ke aplikasi pemutar musik Winamp. Aku coba-coba membuka satu-satu software itu. Masih terasa aneh waktu itu. Memegang mouse pun masih agak kaku. Lihat Microsoft PowerPoint: "Ini software sebenernya buat apaan yak? Kok lumayan keren." Ada-ada saja pokoknya. Ya begitulah saat mengenal hal baru. Tapi begitu mengasyikkan.
Saat SMP, salah satu mata pelajaran yang aku sukai adalah komputer. Karena aku sudah cukup familiar dengan komputer, aku jadi tidak kaget untuk memulai pelajaran itu. Belajar apa itu hardware, apa itu software, bagaimana sejarah komputer, sampai mengenal internet. Alhamdulillah setiap point penilaian pada sertifikat komputer mendapat nilai A semua.
Saat SMA aku bersyukur sekali diajari blind typing, yaitu mengetik buta. Jadi, aku diajari mengetik tanpa melihat keyboard. Hmm.. tapi saat ujian aku remidi juga. Tak apa, alhasil aku merasakan dampaknya. Sekarang aku bisa mengetik dengan lancar tanpa harus menatap ke huruf-huruf dan beberapa karakter di keyboard. Kuncinya cuma meletakkan telunjuk tangan kirimu di huruf F dan telunjuk tangan kananmu di huruf J. Jari yang lainnya menyesuaikan. Mulailah dengan menghafal posisi huruf-huruf dan karakter di keyboard. Lalu belajarlah untuk menggerakkan jemarimu ke posisi dimana kamu ingin menekan tombol huruf itu tanpa harus melihatnya. Lakukan dengan rutin. Trust me, it works! :D
Aku juga punya pengalaman pernah membantu bapak Ari, petugas lab komputer SMA untuk menginstal OS Linux, yaitu Ubuntu. Secara bertahap pak Ari membantu aku dan kawan-kawan untuk menginstalnya. Cukup rumit memang, apalagi saat membagi kapasitas partisinya. Tapi waktu itu beliau langsung memberi tahu seberapa besar kami harus mengalokasikannya. Seru sekali. Sebenarnya pernah terlintas, aku ingin kuliah di jurusan Teknik Informatika, tapi karena jaman sekarang banyak yang bisa komputer, dan peminat untuk masuk TI sangat banyak, jadi aku mengurungkan niatku.
Menjadi Maganger Labkom
Ya, aku sekarang berada di jurusan matematika FMIPA UNS. Pada semester dua, sebagian besar waktuku aku luangkan untuk mengikuti kegiatan di labkom. Ini adalah salah satu pengalaman berhargaku, maka akan aku ceritakan dengan cukup detail. Awal semester dua, aku melihat pamflet di papan pengumuman: "Open Recruitment Maganger Labkom". Hah? Apaan nih. Seperti biasanya, kalau melihat ada pengumuman yang berhubungan dengan komputer, aku pasti langsung penasaran. Mondar-mandir di papan pengumuman karena masih penasaran terus. Akhirnya mencatat contact personnya, yaitu mbak Emy. Ada temanku yang bilang kalau mungkin Emy itu ibu yang jadi receptionist di jurusan matematika, padahal bukan. Itu mbak Emy asisten labkom. Yang ada di jurusan matematika itu namanya mbak/bu Eny. Yah, beda satu huruf.
Ternyata teman-temanku ada yang tertarik juga untuk mengikuti seleksi maganger labkom itu, yaitu Yeva, Rizza, Zulia, dan Diah yang aku ingat. Mereka tampaknya juga sama-sama punya ketertarikan dengan dunia komputer. Masih melihati pamflet pengumuman, aku benar-benar deg-degan. Terus bertanya-tanya: "Aduh... nanti ada wawancara gak ya? Terus tesnya itu gimana?" Bla.. bla.. bla.. segala macem. Tak mau terus dihantui rasa penasaran, sedikit lupa sih, aku atau temanku akhirnya memutuskan untuk sms mbak Emy menanyakan tentang hal perekrutan itu. Waktu itu kalau gak salah aku menyapanya dengan sapaan "Bu Emy" karena tadi itu, aku pikir dia itu receptionist di jurusan matematika. Tapi, mbak Emy membalas smsku ramah dengan gaya bahasa bercandanya. Selamat deh saya...
Selanjutnya... aku mempersiapkan segala berkas-berkas dan syarat yang harus diserahkan ke receptionist labkom nanti, mulai dari CV, fotokopi karmas, sampai sertifikat tentang ketrampilan komputer. Nah... aku punya kisah buruk tentang sertifikat ketrampilan itu. Waktu itu sertifikatku ada di Lampung dan aku meminta ibuku untuk mengirimkannya ke Solo. Karena aku tidak tahu alamat kosku dengan jelasnya baik RT atau RW berapa, maka aku memutuskan untuk menyuruh ibuku untuk mengirimnya ke alamat kantor pos UNS. Beberapa hari kemudian setelah sertifikatnya kira-kira sampai, aku memutuskan ke kantor pos untuk mengambilnya. Saat itu aku ditemani temanku, Amalia. Aku datang kesana menanyakan kepada bapak petugas kantor posnya, dan..... aku dimarahi. Beliau kurang lebih bilang seperti ini, "Coba kalau saya ngirim surat ke alamat rumah kamu tanpa izin, kamu marah gak?" Sepertinya aku telah melanggar etika pengiriman surat. Ternyata tidak boleh mengirim sesuatu dengan tujuan ke kantor pos sebelum meminta izin terlebih dahulu. Saat itu aku benar-benar tidak tahu kalau boleh mengirim sesuatu dengan tujuan ke kantor pos. Eh... ternyata malah dimarahi. Ya sudah, aku minta maaf akhirnya, tapi wajah bapak itu masih terlihat kesal. Pulang dari kantor pos, aku dan Amalia hanya berdiam diri.
Aku mencoba sabar dan merenungi ketidaktahuanku saat itu. Ya benar juga sih, tidak boleh mengirim ke tempat orang lain tanpa izin. Aku takkan mengulangi itu lagi. Aku ingat sekali kejadian itu terjadi pada hari Selasa, tapi aku lupa tanggal berapa. Baiklah, langsung saja akhirnya aku menyerahkan segala syarat yang diperlukan itu ke meja receptionist labkom. Selanjutnya aku mendapat sms untuk briefing calon maganger pada hari Jumat. Pada hari itu aku dan teman-teman pun ke ruang labkomdas untuk mendapatkan arahan dari asisten tentang prosedur perekrutan calon maganger. Saat itu kalau tidak salah ada mas Arif Rosada dan mas Muhammad Yahya Kipti. Mereka tampak sangat serius sekali. Suasana agak horor sih, apalagi ketika aku mendengar ada kata 'wawancara' ! Yak, di depan para asisten dan juga dengan pengelola labkom. Huah... aku paling grogi ketika menjalani yang namanya wawancara. Entahlah... itu masih misteri pada waktu itu.
Tes pertama adalah tes tentang pengetahuan informasi dan teknologi. Ada multiple choice dan essay. Cukup bisa aku mengerjakan itu. Ada gambar Bill Gates lagi, hihihi. Selanjutnya adalah tes hardware. Oh my God, aku memasuki lab pemrograman untuk menjalani tes itu. Saat itu ada mas Hariyadi Prasasta yang memberi arahan disitu. Wew, sebenarnya aku lumayan tahu tempat-tempat memasangnya, cuma......... heuuu saat itu aku kesulitan memasang bautnya. T.T
Tapi lega juga sih setelah menjalani kedua tes itu.
Ada briefing satu kali lagi. Kali ini asisten ingin memberikan arahan tentang wawancara dengan asisten. Kami disuruh membuat powerpoint tentang CV, gambaran sedikit tentang labkom, motivasi kenapa ingin jadi maganger labkom, dan kemampuan apa yang kita tawarkan yang membuat pantas diterima jadi maganger labkom. Duh, benar-benar kayak lagi mau melamar kerja aku. Asisten saat itu telah membuat undian. Saat aku menerima undian, aku dapat nomor pertama. Guys, bayangin doooong? Untuk orang kayak aku dapat pertama kali bisa semaput kali ya (lebay.com). Karena boleh ditukar, akhirnya aku minta tukar saja. Dan aku dapat urutan keempat. Yah, not bad lah. Daripada urutan pertama. Heuuu. Saat membuat powerpoint malam hari itu aku dibantu temanku, Alina. Aku benar-benar grogi, cemas, takut segala macem saat menggarap itu. Terbayang-bayang nanti bagaimana ya? Aku soalnya tidak terbiasa berbicara di hadapan orang banyak. Sendirian lagi. What the hell....
Hari wawancarapun tiba. Grogi, cemas, takut, semua jadi satu. Aku saat itu sendiri. Yeva temanku dapat giliran siang, sementara aku urutan keempat berarti pagi hari. Aku belum berani menginjak lantai dua waktu sampai di kampus. Aku masih menunggu di kanopi gedung A. Entah apa yang aku tunggu. Saat itu juga aku menelpon teman baruku, Asih untuk datang menemaniku, tapi tidak diangkat-angkat telponku. Tambah cemas. Satu lagi alasanku kenapa bisa sampai sebegitunya, karena aku tak terbiasa berkomunikasi dengan laki-laki. Ya kalian perlu tahu, kalau aku berurusan dengan laki-laki aku sangat pemalu. Gak tau ya, tapi kalau sama teman perempuan aku bisa bercanda sepuas mungkin, ya istilah ekstremnya mungkin 'menggila' begitulah. Aku sebenarnya juga gak mau cuek dengan laki-laki. Aku mau berbagi, tapi mereka juga harus peduli dan menghargai. Kalo udah cuek, hmm... say goodbye ajalah. Kadang serba salah, mau senyum atau menyapa misalnya, pasti ada sejuta alasan negatif dalam pikiran: duh, nanti dia ge-er lagi, hmm... takut dicuekin, ah aku kan gak seberapa kenal sama dia jadi biarin ajalah, dan lain-lain. Kenapa ya aku gak bisa melatih berkomunikasi dengan baik gitu? Tapi tenang saja, saat ini aku sedang dalam tahap pembelajaran kok. Hehe.
Masih duduk di bangku kanopi dengan rasa panik to the max. Ada orang lewat di depanku. Hoaaa.. itu adalah salah satu calon maganger. Ia berjalan keluar gedung A. Namanya Ahmad Rifa'i. Ku rasa dia adalah peserta pertama yang menjalani tes wawancara. Dia sudah keluar, dan aku harus memberanikan diri ke labkom...... sendirian. Mula-mula aku ke lorong jurusan matematika dan aku menunggu di situ karena dekat dengan labkom. Aku melihat temanku Rizza sudah selesai diwawancarai. Saat aku ingin menginterogasinya, dia tampak seperti sedang buru-buru, jadi aku tak sempat bertanya banyak. Akhirnya aku pindah duduk di lorong labkom dan mendengar suara perempuan tampaknya sedang diwawancarai para asisten labkom. Aku menunggu disitu sambil berusaha menenangkan diriku dan mencuri kesempatan untuk mendengarkan apa saja yang ditanyakan asisten di dalam ruangan itu kepada teman baruku yang sedang diwawancara. Heuu tapi suara mereka kurang jelas sekali. Ya sudahlah, pasrah aku demi ilmu perkomputeran yang sebentar lagi aku dapatkan (jika diterima).
Sambil grogi-grogi gimana gitu, tak lama kemudian teman baruku itu keluar lab. Dia tampak sangat lega telah menjalani tes wawancara. Aku tanya ke dia apa saja yang ditanyakan para asisten, tapi ya jawabannya kurang jelas. Kemudian dia pergi meninggalkan lab dan ada seorang asisten lab yang keluar dari pintu ruang wawancara berkata padaku kurang lebih seperti ini, "Mbak Anna ya? Silahkan masuk." Duh, dengan rasa deg-degan akhirnya aku masuk juga. Di ruangan itu aku bertemu mbak TH, kakak kosnya Rifa, temanku. Aku segera menampilkan PowerPoint buatanku yang dibantu Alina saat itu dan melakukan presentasi. Setelah selesai, banyak asisten yang tanya mengenai seputar labkom. Aku benar-benar tergagap dan nge-blank sama sekali. Bingung mau jawab apa. Sesekali terdengar ada yang menertawakan aku juga. Karena waktu itu aku banyak yang belum kenal, jadi suasananya tambah mencekam. Heleh. Padahal bagi orang yang dah pinter ngomong ya biasa aja, beda sama aku.
Selesai diwawancarai, aku keluar ruangan sambil terus meratapi ketidakmampuan diriku dalam menjawab pertanyaan asisten tadi. Di sepanjang jalan aku menangis. Aku sedih sekali karena aku masih saja grogi ketika berbicara di depan umum. Aku tampak seperti ketakutan. Apalagi jumlah laki-laki lebih banyak dari pada perempuan. Belum lagi waktu itu aku sampai dimarahi bapak-bapak di kantor pos. Kalau tidak diterima jadi maganger... ya sudahlah. Aku sudah pasrah. Mungkin itu jalan yang terbaik. Dalam hal berbicara di depan umum, aku memang tak seberuntung teman-temanku yang lain. Aku iri dengan mereka. Mereka harusnya lebih bersyukur.
Masih ada satu tes wawancara lagi, yaitu dengan pengelola. Saat itu aku bertekad untuk melanjutkan perjuanganku sampai akhir. Diterima atau tidak itu masalah belakangan, yang penting aku tidak mau jadi pengecut. Akan ku hadapi. Sebelum memasuki ruang pengelola, aku bertemu teman baruku yang waktu itu ikut wawancara urutan ketiga, aku baru tahu namanya adalah Tri. Saat itu Tri masuk ruang pengelola duluan untuk diwawancarai. Aku menunggu di ruang tunggu bersama Yeva. Setelah Tri keluar, giliran aku yang masuk. Dengan membawa CVku, aku memberanikan diri untuk diwawancarai. Suasananya tidak setegang saat diwawancarai asisten. Aku lebih enjoy diwawancarai pengelola, yaitu bu Diari. Bu Diari adalah orang yang sangat ramah. Itu kesanku saat diwawancarai beliau.
Selang beberapa hari kemudian, pada malam hari aku mendapat sms yang isinya memberitahukan bahwa kepada calon maganger yang menerima sms itu diharapkan (kalau tidak salah) besok berkumpul di ruang pengelola. Aku mikir kenapa ya kok disuruh kumpul. Aku sms Asih, dia juga dapat sms itu. Terus aku sms Yeva, katanya dia belum menerima. Aku bingung. Apa pengumuman magangernya sudah ada ya? Lihat besok sajalah. Keesokan harinya aku melihat mbak Emy, salah satu asisten labkom menempelkan sebuah kertas di salah satu tempat pengumuman di lantai 3 gedung A. Aku langsung mendekati kertas yang ditempel itu. Ternyata itu pengumuman para calon maganger yang diterima menjadi maganger labkom. Ternyata ada namaku tertera di kertas itu. Nama Asih dan Yeva juga ada, begitu pula Cindra, teman baruku yang lain. Wah alhamdulillah. Disyukuri sajalah walaupun hasil wawancara kemarin tidak memuaskan. Aku akan berusaha menjalani amanahku sebagai maganger semampuku.
Saat kumpul di ruang pengelola, para maganger dan asisten memperkenalkan diri satu sama lain. Duh, sepertinya mereka itu orang-orang yang hebat di bidang IT. Agak minder juga sih. Rata-rata asalnya dari Jawa, mungkin cuma aku yang dari Sumatera. Koordinator asisten labkom memaparkan tentang apa saja yang harus dikerjakan oleh maganger selama menjadi maganger labkom. Alokasi waktu kerjanya sih memang lebih sedikit dari pada asisten labkom, tapi pengalamannya itu lho yang mahal. Aku ditempatkan di divisi Public Relation atau humas.
Aku senang sekali pada saat menjalani rutinitasku menjadi maganger labkom. Aku mendapatkan banyak ilmu, diantaranya cara menginstal dan uninstal software yang belum pernah aku kenal, seperti software-software pemrograman, cara merawat PC, cara membongkar pasang CPU dan membersihkan perangkatnya, dan masih banyak lagi. Aku nyadar sih kalo kekuranganku itu adalah gak beranian. Gak tau kenapa bawaannya sungkan terus sama asisten. Mau tanya saat rapat aja malunya minta ampun. Oya, dulu saat habis instalasi aku pulang ke Lampung. Aku pikir instalasi sudah selesai karena tidak ada pemberitahuan kalau masih berlanjut. Saat aku balik lagi ke Solo, aku sepertinya kena sindir karena pulang kampung kelamaan, padahal sebenarnya aku tidak tahu kalau instalasi masih berlanjut selama liburan. Kalau alasannya tidak tahu memang bakal dimarahin juga sih, suruh siapa gak nanya koordinator. Ah, tapi waktu aku pulang aku juga sudah ijin kok sama koordinator dan dibolehkan. Lagi pula, koordinator tidak nitip peringatan apa-apa kepadaku baik itu disuruh liburan cuma sebentar atau instalasi masih berlanjut. Yaudah, jadi kalau tidak salah waktu itu aku di Lampung sampai sebelas hari dan tentu saja pikiran labkom di benakku tidak aku tinggalkan. Itu juga saat aku balik ke Solo masih kepikiran labkom. Karena waktu itu ada berita yang kurang menyenangkan, jadi aku ikut khawatir. Eh gak taunya, sampai sana malah disindir. Yaudah deh, mau gimana lagi.
Hufff, akhirnya cerita berakhir di rumah bu Winita, ketua labkom yang baru, menggantikan bu Diari. Kita buka puasa bersama di sana. 13 Agustus 2011 adalah pengumuman siapa saja maganger yang terpilih menjadi asisten labkom. Kami diberikan amplop yang berisi pengumuman itu. Amplop itu tidak boleh dibuka di rumah bu Winita. Pulangnya, aku diantar mbak Ika yang menjabat sebagai sekretaris asisten labkom. Di kamar, aku sudah pasrah dengan keputusan yang diberikan Allah. Semua pasti akan baik-baik saja. Dan... aku tidak diterima menjadi asisten labkom. Aku tak bisa membendung air mataku untuk keluar. Aku rasa aku pantas menerimanya. Aku menangis karena aku terlalu menginginkan lebih lama berada di labkom sebagai asisten, tapi ternyata Allah tidak berkehendak. Mungkin salah satu sebabnya adalah mengenai ridho orang tua, ternyata orang tuaku tidak mengijinkan sepenuhnya aku mengikuti kegiatan di labkom. Mungkin mereka terlalu rindu padaku dan takut aku tidak pulang-pulang.
Aku berterima kasih sekali kepada semua pengelola, asisten labkom, dan teman-temanku seperjuangan sesama maganger. Terima kasih atas ilmunya. Semoga Allah membalas segala kebaikan kalian. Aku mohon maaf karena belum bisa menjadi rekan yang 'baik' bagi kalian. Tapi aku bersyukur, aku bisa dapat banyak teman dan mengenal lagi beberapa ciptaan Allah yang luar biasa. :)
Minggu, 25 Desember 2011
Drew - Yang Ini Untuk Kamu
Dari semua yang ku lakukan
Dari semua akan ku sampaikan
Dari semua mimpi terkabulkan
Dari semua khilaf dan kesalahan
Kau yang paling benar
Kau yang paling benar
Kau yang paling benar
Ku jatuh cinta setengah mati
Ku jatuh cinta setengah mati
Ku jatuh cinta setengah mati
Ku jatuh cinta setengah mati........
Jumat, 16 Desember 2011
Sepercik Kenangan Mendebarkan
Barusan pakai inovasi baru Facebook, yaitu Profile Timeline, saat flashback liat status-status di tahun sebelumnya sempet inget kalo aku dulu waktu masih jadi maru manggil kakak-kakak tingkat dengan sapaan "kakak". Gileee malah ada yang ngetawain coba -___-. Aku jadi bertanya-tanya, kenapa... kenapa... Malah ada yang mau dipanggil "pakde", bener-bener freak tuh kakak tingkat. Dan setelah aku sadar, ternyata ini di Solo (bangun... bangun... Woy dah pagi!). Oh iya ya, jadi mau gak mau aku harus nurut dengan budaya disini. Kakak tingkat perempuan panggilannya "Mbak", sedangkan yang laki-laki panggilannya "Mas". Wokelah kalau begitu.
Sempet terlintas juga sih di pikiran kalo panggilan "Mas" itu agak aneh. Masalahnya, bukannya panggilan "Mas" itu juga dipake oleh seorang istri untuk memanggil suaminya ya? (=__=a) Makanya biar aman manggilnya "Kakak" aja. Lha tapi budaya di Jawa emang udah seperti itu kok, mau diapain lagi. Semuanya pada manggil "Mas", yaudah deh ikutan aja.
Mundur ke belakang lagi ya, aku jadi mahasiswa UNS lewat jalur PMDK. Aku inget waktu jadi maru dulu sempet ditahan di auditorium UNS. Maksudnya ditahan arti eksplisitnya aku gak diperbolehkan UNS untuk daftar perguruan tinggi manapun lagi. Kamu tau, saat aku bosen gila di auditorium, teman-teman seperjuanganku yang lain sedang mengikuti SNMPTN demi memperebutkan satu bangku kuliah di perguruan tinggi yang mereka inginkan. Bayangin dong, kalo aku daftar lagi berarti UNS dengan santainya bakal ngelepas aku tanpa mengijinkan untuk balik lagi walaupun mohon sampe air mata terakhir pun udah gak bakal boleh (husss pergi sono!) Tapi alhamdulillah, aku bersyukur sekali masih ada perguruan tinggi yang mau menerima aku ada apanya. Iyalah, kalo aku gak ada apa-apanya gak mungkin mereka nerima aku. ^^

Sebenernya waktu SMA aku pengen kuliah di UGM. Tapi banyak pertimbangan banget kalo aku mau kuliah disana. Aku inget Mbak sepupuku kuliah di UNS, dan kebetulan waktu itu sekolahku diundang UNS untuk mendaftar PMDK. Yaudah deh, aku ikut aja tuh jalur PMDK. Prodinya cuma boleh milih 1 doang. Bingung pilih apa. Waktu itu aku bingung antara Teknik Kimia sama Matematika murni. Lihat di rapor, nilai kimiaku rata-rata naik. Tapi nilai matematika malah naik turun. Well, akhirnya karena minatku memang di matematika jadi pilih matematika aja deh. Aku juga gak terlalu suka kimia, karena ada praktikumnya sih. Hehe.
Berkas-berkas syarat buat PMDK mulai dari fotokopi rapor, slip pembayaran Bank BTN, dan lain-lain aku urusi dengan sepenuh hati (ciyeee). Iyalah, ini masalah nasibku gitu. Aku berharap UNS mau menerimaku, ya meskipun di hati masih aja pengen UGM... UGM... yaudah nanti... nanti... sabar... sabar...
Malam itu, lewat sms aku mencoba mencari tahu nasibku diterima atau tidak. Dag.. dig.. dug.. dag.. dig.. dug.. Jantung berdebar-debar, pikiran bertanya-tanya, apakah Solo takdirku. Dan alhamdulillah aku diterima. Ibuku sangat senang sekali. Dan begitulah, kehidupanku selanjutnya harus aku labuhkan di Solo, walau dengan berat hati harus jauh dari orang tua dan adikku tercinta. Siapa tau juga aku nanti ketemu jodoh di Solo. Who knows?
Setelah diterima, selanjutnya adalah galau tentang gimana nanti aku menjalani kehidupan di Solo. Oh Man, waktu itu aku bingung banget dong. Bayangin aja, biasanya apa-apa sama orang tua sama adek, ntar tiba-tiba semuanya harus aku urusin sendiri. Aku harus tinggal di kost, tiap hari harus cari makan sendiri, ke kampus gak ada yang nganterin, soalnya waktu SMP dan SMA aku selalu dianter sama bapak karena jarak rumah dan sekolah cukup jauh. Itu kenangan yang berharga buatku. Aku amat sangat berterima kasih sama bapak karena begitu baik mau mengantar anaknya ini sekolah sampe sering telat masuk ngajar. Di UNS waktu liat ada mahasiswa yang dianter atau dijemput bapaknya, aku sering teringat waktu sekolah dulu aku juga kayak gitu. Kangen banget...
Langsung aja, waktu itu saat sudah mendekati tanggal registrasi, aku diantar ibu tapi gak langsung ke Solo. Kita singgah dulu di Klaten tempat mbah. Aku ke Solo diantar sepupu-sepupuku, namanya Mbak Ani, Mbak Puji, dan Tiwi, sementara ibuku stay di Klaten. Mbak Puji adalah kakak sepupuku yang kuliah di UNS. Mbak Ani adalah kakak kandung dari Mbak Puji, dia udah lulus S-1 akuntansi di UNSOED dan Tiwi adalah sepupu yang sepantaran denganku. Waktu itu aku, Tiwi dan Mbak Ani nginep di kostan Mbak Puji. Esok harinya aku harus registrasi di auditorium, sementara Tiwi di Solo bermaksud untuk mengikuti tes SNMPTN. Sebenernya dia udah diterima di UNDIP, tapi masih pengen nyoba yang lain.
Iya, waktu itu aku diantar Mbak Ani ke auditorium dan habis itu aku ditinggal sendiri kayak orang ilang. Duh... bingung aku, gimana gak berdebar-debar coba. Mbak Ani nanti bakal balik lagi kalau aku dah selesai registrasi. Pertama kali aku kenalan itu sama anak D3-Farmasi, tapi sayangnya aku lupa siapa namanya -___-a yang jelas dia cewek. Waktu itu aku inget banget, berkas-berkasku dikomentarin bapak-bapak di meja registrasi karena aku nyusunnya gak rapi. Walalala... I'm Sorry, Sir. Habis itu aku bingung deh, mau gak mau harus punya kenalan kan? Nah... saat mau ambil almamater, aku ngikutin rombongan anak Jakarta, salah satunya satu jurusan sama aku, namanya Nisa. Satunya lagi yang aku inget itu anak kimia, namanya Isnaeni. Huft... inilah derita awalnya anak rantauan. Gak tau apa-apa, ngekor aja sama rombongan orang.
Oke, itu aja dulu deh yang mau aku share.
Kapan-kapan lagi yak...
Yang jelas, kalo kamu mau hidup merantau intinya harus punya tekad keberanian yang kuat!
Dan... kamu harus siap-siap didera rasa kangen yang tinggi kepada keluargamu di rumah.
Tapi gak papa, itu juga buat latian mandiri kok :)
Mari berjuang!
Sempet terlintas juga sih di pikiran kalo panggilan "Mas" itu agak aneh. Masalahnya, bukannya panggilan "Mas" itu juga dipake oleh seorang istri untuk memanggil suaminya ya? (=__=a) Makanya biar aman manggilnya "Kakak" aja. Lha tapi budaya di Jawa emang udah seperti itu kok, mau diapain lagi. Semuanya pada manggil "Mas", yaudah deh ikutan aja.
Mundur ke belakang lagi ya, aku jadi mahasiswa UNS lewat jalur PMDK. Aku inget waktu jadi maru dulu sempet ditahan di auditorium UNS. Maksudnya ditahan arti eksplisitnya aku gak diperbolehkan UNS untuk daftar perguruan tinggi manapun lagi. Kamu tau, saat aku bosen gila di auditorium, teman-teman seperjuanganku yang lain sedang mengikuti SNMPTN demi memperebutkan satu bangku kuliah di perguruan tinggi yang mereka inginkan. Bayangin dong, kalo aku daftar lagi berarti UNS dengan santainya bakal ngelepas aku tanpa mengijinkan untuk balik lagi walaupun mohon sampe air mata terakhir pun udah gak bakal boleh (husss pergi sono!) Tapi alhamdulillah, aku bersyukur sekali masih ada perguruan tinggi yang mau menerima aku ada apanya. Iyalah, kalo aku gak ada apa-apanya gak mungkin mereka nerima aku. ^^

Sebenernya waktu SMA aku pengen kuliah di UGM. Tapi banyak pertimbangan banget kalo aku mau kuliah disana. Aku inget Mbak sepupuku kuliah di UNS, dan kebetulan waktu itu sekolahku diundang UNS untuk mendaftar PMDK. Yaudah deh, aku ikut aja tuh jalur PMDK. Prodinya cuma boleh milih 1 doang. Bingung pilih apa. Waktu itu aku bingung antara Teknik Kimia sama Matematika murni. Lihat di rapor, nilai kimiaku rata-rata naik. Tapi nilai matematika malah naik turun. Well, akhirnya karena minatku memang di matematika jadi pilih matematika aja deh. Aku juga gak terlalu suka kimia, karena ada praktikumnya sih. Hehe.
Berkas-berkas syarat buat PMDK mulai dari fotokopi rapor, slip pembayaran Bank BTN, dan lain-lain aku urusi dengan sepenuh hati (ciyeee). Iyalah, ini masalah nasibku gitu. Aku berharap UNS mau menerimaku, ya meskipun di hati masih aja pengen UGM... UGM... yaudah nanti... nanti... sabar... sabar...
Malam itu, lewat sms aku mencoba mencari tahu nasibku diterima atau tidak. Dag.. dig.. dug.. dag.. dig.. dug.. Jantung berdebar-debar, pikiran bertanya-tanya, apakah Solo takdirku. Dan alhamdulillah aku diterima. Ibuku sangat senang sekali. Dan begitulah, kehidupanku selanjutnya harus aku labuhkan di Solo, walau dengan berat hati harus jauh dari orang tua dan adikku tercinta. Siapa tau juga aku nanti ketemu jodoh di Solo. Who knows?
Setelah diterima, selanjutnya adalah galau tentang gimana nanti aku menjalani kehidupan di Solo. Oh Man, waktu itu aku bingung banget dong. Bayangin aja, biasanya apa-apa sama orang tua sama adek, ntar tiba-tiba semuanya harus aku urusin sendiri. Aku harus tinggal di kost, tiap hari harus cari makan sendiri, ke kampus gak ada yang nganterin, soalnya waktu SMP dan SMA aku selalu dianter sama bapak karena jarak rumah dan sekolah cukup jauh. Itu kenangan yang berharga buatku. Aku amat sangat berterima kasih sama bapak karena begitu baik mau mengantar anaknya ini sekolah sampe sering telat masuk ngajar. Di UNS waktu liat ada mahasiswa yang dianter atau dijemput bapaknya, aku sering teringat waktu sekolah dulu aku juga kayak gitu. Kangen banget...
Langsung aja, waktu itu saat sudah mendekati tanggal registrasi, aku diantar ibu tapi gak langsung ke Solo. Kita singgah dulu di Klaten tempat mbah. Aku ke Solo diantar sepupu-sepupuku, namanya Mbak Ani, Mbak Puji, dan Tiwi, sementara ibuku stay di Klaten. Mbak Puji adalah kakak sepupuku yang kuliah di UNS. Mbak Ani adalah kakak kandung dari Mbak Puji, dia udah lulus S-1 akuntansi di UNSOED dan Tiwi adalah sepupu yang sepantaran denganku. Waktu itu aku, Tiwi dan Mbak Ani nginep di kostan Mbak Puji. Esok harinya aku harus registrasi di auditorium, sementara Tiwi di Solo bermaksud untuk mengikuti tes SNMPTN. Sebenernya dia udah diterima di UNDIP, tapi masih pengen nyoba yang lain.
Iya, waktu itu aku diantar Mbak Ani ke auditorium dan habis itu aku ditinggal sendiri kayak orang ilang. Duh... bingung aku, gimana gak berdebar-debar coba. Mbak Ani nanti bakal balik lagi kalau aku dah selesai registrasi. Pertama kali aku kenalan itu sama anak D3-Farmasi, tapi sayangnya aku lupa siapa namanya -___-a yang jelas dia cewek. Waktu itu aku inget banget, berkas-berkasku dikomentarin bapak-bapak di meja registrasi karena aku nyusunnya gak rapi. Walalala... I'm Sorry, Sir. Habis itu aku bingung deh, mau gak mau harus punya kenalan kan? Nah... saat mau ambil almamater, aku ngikutin rombongan anak Jakarta, salah satunya satu jurusan sama aku, namanya Nisa. Satunya lagi yang aku inget itu anak kimia, namanya Isnaeni. Huft... inilah derita awalnya anak rantauan. Gak tau apa-apa, ngekor aja sama rombongan orang.
Oke, itu aja dulu deh yang mau aku share.
Kapan-kapan lagi yak...
Yang jelas, kalo kamu mau hidup merantau intinya harus punya tekad keberanian yang kuat!
Dan... kamu harus siap-siap didera rasa kangen yang tinggi kepada keluargamu di rumah.
Tapi gak papa, itu juga buat latian mandiri kok :)
Mari berjuang!
Langganan:
Postingan (Atom)