"Live as if you were to die tomorrow. Learn as if you were to live forever." - Mahatma Gandhi
Jumat, 18 November 2011
Selasa, 15 November 2011
Process and Success
Aku menyadari sesuatu setelah sekian lama menjalani hidup ini, bahwa kesalahan fatal yang kita lakukan yang menyebabkan hidup kita menjadi tak tenang dan gelisah adalah ketika kita terus mengeluh dan tidak bersyukur atas karunia Tuhan yang telah Ia berikan.
Cobaan memang datang dalam bentuk kesenangan dan kesedihan. Ketika kesenangan itu datang, kita tampak merayakan dengan suka cita, tertawa bersama teman-teman, dan tentunya mengucap syukur pada Tuhan. Tapi, ucapan syukur itu kemudian diuji dengan keprihatinan dalam hidup. Di situlah tampak apakah perlakuan syukur kita kepada Tuhan saat kesenangan datang itu sungguh-sungguh atau tidak. Dan ketika kita mengeluh, mungkin Anda bisa jawab sendiri melalui kata hati Anda.
Kalau bicara soal kegagalan, saya mungkin sudah kenyang akan hal itu. Mulai dari kalah dalam perlombaan, dapat nilai jelek dalam ujian, sampai tidak terpilih jadi asisten labkom. Saya mencoba mengevaluasi itu semua. Ternyata masih begitu banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Dan percayalah, memperbaiki kekurangan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saya akui itu sangat sulit. Tapi itulah proses. Proses yang harus ditekuni dengan sekuat hati. Hati harus benar-benar ikhlas ketika kegagalan itu datang. Hati harus menerimanya dengan lapang karena saya yakin, itu adalah sebagian dari cobaan yang Tuhan berikan untuk kita. Agar kita pantang menyerah, pantang mengeluh, dan selalu bersyukur. Begitu sayangnya Tuhan pada kita.
Ikhlas itu memang tidak mudah, tapi kita bisa melatihnya. Kita bisa memulainya dengan hal yang sederhana, misalnya memungut sampah yang berserakan di lantai atau kalau ada teman kita yang minta pertolongan sebisa mungkin kita dapat membantunya.
Pelajaran hidup ini sungguh sangat berharga. Saya memang masih abstrak dengan gambaran masa depan saya. Tapi untuk saat ini, saya akan berusaha menikmati proses untuk menjadi sesuatu yang baik. Orang lain boleh menilai saya buruk, tapi inilah saya. Maaf kepada orang yang tidak menyukai saya. Saya sadar kalau saya adalah seorang yang sensitif dan tak pandai tersenyum.
Tapi...
Terima kasih Tuhan atas kasih sayang-Mu. Kau telah menaruhku dalam keadaan Islam. Kau telah menempatkanku pada Keluarga Giyono. Kau telah mengizinkanku menjadi warga negara Indonesia. Kau telah memberikanku begitu banyak pengalaman kegagalan. Kau telah mengajariku berproses untuk menjadi lebih baik.
Terima kasih ALLAH SWT :)
Selamat berproses Kawan-kawan!
Langganan:
Postingan (Atom)